Mubadalah.id – Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Siak, Riau, pandangan Anda pasti akan tertambat pada kemegahan Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang membentang di atas Sungai Siak. Kemegahan arsitektur modern tersebut menyimpan sebuah narasi besar tentang seorang perempuan yang melampaui zamannya.
Nama yang tersematkan pada jembatan itu bukanlah sekadar penghormatan formalitas kepada istri sultan, melainkan upaya kolektif untuk mengabadikan sumbangsih seorang pendidik dan penggerak emansipasi seorang perempuan dari bumi tempat Istana Matahari Timur berdiri megah.
Sungai Siak yang mengalir pelan menjadi saksi bisu bagaimana seorang permaisuri tidak memilih untuk duduk diam di kursi singgasana. Tengku Agung Syarifah Latifah adalah bukti nyata bahwa privilese kebangsawanan jika bertemu dengan kesadaran sosial akan melahirkan perubahan sejarah yang signifikan.
Akar Tradisi dan Belenggu Pingitan
Lahir pada tahun 1896 di lingkungan Kesultanan Langkat, Syarifah Latifah tumbuh dalam struktur feodal yang kaku. Sebagai putri dari Tengku Pangeran Embung Jaya Setia dan Tengku Aisiah, ia memiliki akses terhadap pendidikan lingkungan istana. Namun, nasib perempuan bangsawan kala itu memiliki pola yang serupa, di mana pendidikan akan terhenti tepat saat mereka memasuki masa akil balig.
Masa pingitan adalah fase yang menyakitkan sekaligus kontemplatif bagi banyak perempuan pada era tersebut. Di balik tembok tebal istana, ruang gerak Syarifah dibatasi. Ia dipersiapkan hanya untuk menjadi pendamping penguasa. Namun, justru dalam masa isolasi inilah, pemikirannya terasah. Ia merasakan sendiri bagaimana potensi intelektual perempuan terpasung oleh tradisi. Pengalaman personal inilah yang kemudian menjadi bahan bakar utama ketika ia menjadi Permaisuri Sultan Syarif Kasim II pada tahun 1915.
Titik balik pemikiran Syarifah terjadi ketika ia mendampingi Sultan Syarif Kasim II dalam perjalanan dinas ke Medan, Sumatra Utara. Di sana, ia mengalami apa yang bisa kita sebut sebagai guncangan budaya yang positif. Ia melihat perempuan-perempuan di Medan sudah terlibat aktif dalam administrasi pemerintahan dan memiliki akses pendidikan yang lebih terbuka daripada di wilayah Siak.
Syarifah Latifah menyadari sebuah ketimpangan yang nyata. Di wilayahnya, perempuan masih terjebak dalam mitos ‘dapur, kasur, sumur’. Kesadaran ini kemudian menggelitik hatinya. Ia tidak ingin melihat kaum hawa di Siak hanya menjadi penonton dalam laju sejarah. Baginya, martabat sebuah bangsa ditentukan oleh sejauh mana perempuan-perempuannya tercerahkan.
Sultanah Latifa School: Revolusi Pendidikan dari Dalam Istana
Puncak dari kegelisahannya berwujud pada berdirinya Sultanah Latifa School pada tahun 1927. Bukan sekolah biasa, inilah sekolah perempuan pertama di Riau yang ia dirikan dengan visi yang sangat modern pada masanya. Syarifah merancang kurikulum yang sangat komprehensif. Ia tidak ingin perempuan hanya pintar secara akademik, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
Kurikulum yang ia susun menggabungkan sistem pendidikan Barat dengan nilai-nilai lokal. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan kebersihan, juga membekali para siswa dengan keterampilan tangan (kerajinan). Salah satu warisan yang paling fenomenal adalah pelajaran menenun.
Syarifah menyadari bahwa dengan memiliki keterampilan menenun, perempuan Siak memiliki kedaulatan ekonomi di tangan mereka sendiri. Kain tenun Siak yang kita kenal hari ini adalah salah satu hasil dari diseminasi pendidikan yang ia tanamkan hampir satu abad yang lalu.
Syarifah Latifah adalah sosok yang moderat namun religius. Ia menyadari bahwa Bumi Melayu sangat identik dengan napas Islam. Oleh karena itu, ia tidak hanya fokus pada pendidikan umum di Sultanah Latifa School. Ia juga mendirikan Madrasah Annisa, sebuah lembaga yang khusus mendalami ilmu agama bagi perempuan.
Langkah ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemikir visioner. Ia memahami bahwa perempuan adalah madrasah pertama (al-madrasatul ula) bagi anak-anaknya. Dengan mencerdaskan perempuan di bidang agama, ia tengah menyiapkan fondasi moral bagi generasi masa depan Siak, dan membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus membuat seseorang kehilangan jati diri religiusnya.
Tragedi, Penjajahan, dan Warisan yang Tak Padam
Dunia pendidikan Siak sempat berduka ketika pada tahun 1942, kedatangan tentara Jepang mengubah peta pendidikan nasional. Kebijakan militer Jepang yang menyeragamkan pendidikan dasar memaksa Sultanah Latifa School ditutup dan berubah menjadi Sekolah Rakyat. Fisik bangunan boleh berubah, dan institusi boleh mereka tutup, tetapi ideologi yang telah Syarifah sebarkan tidak bisa dibasmi.
Kepergian Syarifah Latifah pada 2 November 1929 dalam usia yang relatif muda meninggalkan banyak misteri. Mulai dari riwayat medis hingga spekulasi politik kolonial Belanda yang merasa terancam dengan gerakan pendidikannya. Namun, sejarah tidak mengingatnya dari bagaimana ia wafat, tetapi dari bagaimana ia menghidupkan harapan banyak orang.
Meski Syarifah Latifah tidak memiliki keturunan biologis, namun, setiap perempuan di Riau yang kini bisa bersekolah tinggi, setiap penenun yang masih menjalankan alat tenunnya di gang-gang kecil di Siak, dan setiap aktivis perempuan yang menyuarakan keadilan, adalah anak-anak ideologisnya.
Apa yang Syarifah Latifah lakukan adalah pengingat bagi kita semua, bahwa perubahan besar sering kali kita mulai dari langkah kecil yang berani. Ia mengajarkan bahwa menjadi bangsawan bukan tentang mahkota, akan tetapi tentang seberapa lebar tangan kita merangkul mereka yang tak berdaya. Ia laksana pelita untuk menerangi lorong-lorong gelap kebodohan di Bumi Lancang Kuning.
Kini, tugas kita bukan hanya sekadar melintasi jembatan yang menyandang namanya, tetapi juga memastikan bahwa semangat Sultanah Latifa School tetap hidup dalam setiap kebijakan pendidikan yang kita ambil hari ini. Kita berutang pada Syarifah Latifah, sang permaisuri yang memilih jalan terjal pendidikan demi kemerdekaan berpikir kaumnya. []












































