Mubadalah.id – Pada saat ASI keluar pertama kali, payudara bisa terasa bengkak dan keras. Kondisi ini dapat menyulitkan bayi ketika menyusu, karena yang masuk ke mulutnya hanya puting saja sehingga menyebabkan puting terasa sakit atau “retak”. Padahal, jika berhenti menyusui, pasokan ASI juga akan menyusut.
Cara Pencegahan dan Perawatan:
Pertama, pada satu jam pertama setelah persalinan, susui bayi Anda. Kedua, pegang bayi dengan baik.
Ketiga, susuilah bayi sesering mungkin, paling sedikit setiap 1 hingga 3 jam sekali. Jangan hanya memberikan satu payudara saja, tetapi gunakan kedua payudara secara bergantian. Usahakan tidur berdekatan dengan bayi agar Anda lebih mudah menyusuinya pada malam hari.
Keempat, bila bayi sulit menyusu dengan benar, keluarkan sedikit ASI secukupnya untuk melunakkan payudara, kemudian mulailah menyusui kembali.
Kelima, setelah bayi selesai menyusu, kompres payudara yang sakit dengan daun kubis (kol) segar atau kain basah dingin.
Biasanya pembengkakan atau rasa “kembung” akan hilang dalam waktu 2 hingga 3 hari. Namun, bila payudara terus-menerus terasa penuh dan bengkak tanpa perubahan, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi pembengkakan yang terasa panas atau mastitis.
Saluran Susu Tersumbat dan Mastitis
Bila payudara terasa “kembung” dan muncul benjolan yang menyakitkan selama masa menyusui, kemungkinan saluran susu tersumbat oleh ASI yang kental. Jika ASI berhenti mengalir dari bagian tertentu, kondisi ini juga dapat menyebabkan mastitis.
Gejala mastitis antara lain demam, sementara bagian tertentu dari payudara terasa panas, bengkak, dan sangat nyeri.
Meski demikian, Anda tetap harus terus menyusui. Jangan berhenti menyusui, karena dengan menyusui saluran susu akan tetap terkuras sehingga payudara tidak mudah mengalami infeksi. Walaupun payudara mengalami kondisi tersebut, ASI yang keluar tetap aman untuk bayi Anda.
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 150. []











































