Mubadalah.id – Banyak orang tua berusaha keras untuk memulai sekolah anak mereka lebih dini atau mengikuti kelas akselerasi. Anak-anak belajar membaca dan mengerjakan matematika lebih dini dan kita bangga karena mereka “cerdas”. Dan, menjadi cerdas atau atletik adalah karakteristik yang sangat dihargai di budaya Amerika.
Untuk mencapai hal itu, kita pun menyediakan guru dan mainan edukatif hingga program buat mereka. Sukses adalah sukses dan ini adalah tanda yang nyata, terlihat, dan bisa diukur.
Bermain bebas, apa pun maksud dan tujuannya, memang terlihat menyenangkan—tetapi apa yang sesungguhnya kita ajarkan kepada mereka?
Bagaimana kalau kita beri tahu bahwa bermain bebas mengajari anak-anak untuk menjadi tidak begitu cemas? Bermain mengajari mereka ketangguhan.
Dan, ketangguhan sudah terbukti menjadi satu dari faktor paling penting dalam memprediksi kesuksesan pada orang dewasa. Kemampuan untuk “bounce back”, mengelola emosi, dan menghadapi stres adalah kunci untuk hidup sehat pada orang dewasa.
Kita mengetahui bahwa ketangguhan sangat baik untuk mencegah kecemasan dan depresi, dan inilah yang orang Denmark tanamkan kepada anak-anak mereka sejak dini. Dan, salah satu cara mereka melakukannya adalah dengan menempatkan pentingnya bermain.
Pedagogi
Di Denmark, sejak 1871, suami istri Niels dan Erna Juel-Hansen memunculkan pedagogi pertama berdasarkan teori pendidikan, yang melibatkan bermain. Mereka menemukan bahwa bermain bebas sangat penting dalam perkembangan anak.
Faktanya, selama beberapa tahun, anak-anak Denmark tidak boleh untuk memulai sekolah sebelum mereka berusia 7 tahun. Guru dan komite yang mengatur agenda untuk sekolah anak-anak tidak ingin mereka terlibat dalam pendidikan karena mereka merasa bahwa anak-anak yang utama haruslah menjadi anak-anak dan bermain.
Bahkan, sekarang, anak-anak berusia 10 tahun dan di bawahnya ketika selesai sekolah pukul 2.00 siang dan kemudian mempunyai pilihan untuk pergi ke tempat yang ia namakan “free time school” (skolefritidsordning) sepanjang sisa hari, di tempat tersebut mereka mendorong untuk bermain. Menakjubkan, tetapi benar-benar terjadi! []
*)Sumber Tulisan: Buku The Danish Way Of Parenting Karya Jessica J X dan Iben D S, hlm 11-12











































