Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Arus Utama Pribumisasi Islam: Upaya Pencegahan dari Ranah Keluarga

Islamisasi di Indonesia yang menyasar keluarga ini, baik lewat pendidikan formal, non formal, akan kian dapat menghancurkan nilai-nilai keberagamaan umat dalam memahami keragaman itu sendiri

Hafidzoh Almawaliy Ruslan by Hafidzoh Almawaliy Ruslan
17 Mei 2023
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Pribumisasi Islam

Pribumisasi Islam

26
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tulisan singkat ini adalah prasyarat mengikuti Kelas “Pribumisasi Islam”, Gusdurian Academy pada 19 Mei – 23 Juni 2023 nanti. Kelas akan dipandu Kyai Marzuki Wahid atau Kang Jecky, Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), juga satu di antara para tokoh perumus 9 Nilai Utama Gus Dur.

***

Bagi penulis, Jum’at kemarin adalah jadwal telepon anak-anak yang sudah masuk kembali ke Pondok Pesantren sejak pekan lalu, usai libur lebaran Idul Fitri 1444 H. Si adik menjawab “sudah kangen berat”, saat penulis tanya “apakah sehat dan semangat?” Mendengar jawabannya, buat jantung serasa dua kali lipat berdecak. Tapi si kakak yang masih satu pesantren dengan adik, sudah siap dengan dukungannya beri motivasi, penuh semangat. Buat hati ibunya lega lagi.

Anak-anak sedari lulus Taman Kanak-kanak (TK/PAUD) memang telah belajar di Pondok Pesantren. Ini karena salah satu alasannya saat di TK mereka alami doktrin paham radikalisme lewat buku ajar baca di sekolah. Begitulah, semestinya usia TK tidak dapati pelajaran yang seperti ini. Tapi praktik pendidikan hari ini, hal demikian mungkin masih terjadi, dan akan selalu butuh pengawasan khusus dari para orang tua serta evaluasi para pemangku kepentingan di negeri ini.

Temuan Buku Ajar Berpaham Radikalisme

Beruntungnya saat itu penulis menyadari segera kejanggalan pertanyaan si kakak terutama, usai mereka pulang sekolah. “Gegana itu apa, ma?”. Penulis yang sedang menyiapkan kudapan untuk mereka, bergegas keluar memeriksa buku yang keduanya simak. “Kakak dan adik sedang belajar buku apa?”, telisik penulis.

Kejanggalan makin jadi, setelah penulis temukan di dalamnya sejumlah kalimat seperti, ‘gelora hati ke Saudi’, ‘bom’, ‘sahid di medan jihad’, ‘selesai-raih-bantai-Kiai’. Kemudian ada juga kalimat dan kata-kata ‘rela mati bela agama’, ‘gegana ada di mana’, ‘bila agama kita dihina kita tiada rela’, ‘basoka dibawa lari’, ‘Bin Baz’, ‘kenapa fobi pada agama’, dan seterusnya. (PBNU Minta Buku TK Berbau Radikalisme Ditarik, Detik.com, 2016).

Penulis bersama pasangan saat itu, memutuskan untuk konsultasi dengan pihak sekolah. Sebelum akhirnya konsultasi kepada Depdikbud Kota setempat. Namun karena belum ada titik temu juga, akhirnya beberapa proses lain pun harus kami tempuh.

Saat itu pihak sekolah memang sempat menyarankan kami untuk mencari sekolah lain bagi anak-anak. Dan ini makin buat terasa ganjil. Karena pihak sekolah tidak bersedia melaksanakan hasil Rapat Bersama Komite Sekolah, untuk mengganti dengan buku baru yang lebih inklusif, dan ramah anak-anak.

Namun bersyukur setelah proses berliku, polemik buku tersebut dapat terselesaikan. Kemendikbud saat itu mengeluarkan surat edaran pelarangan penggunaannya di sekolah-sekolah TK, di seluruh Indonesia. (GP Ansor: Buku TK ‘Anak Islam Suka Membaca’ Ajarkan Radikalisme, BBC.com, 2016).

Arus Utama Pribumisasi Islam

Gus Dur ketika mendedahkan terma “pribumisasi Islam” sejak awal, bahkan mungkin sekitar dekade 1980-an, tidak lain berlatar kegelisahannya pada perkembangan yang terjadi dalam dunia Islam. Beliau menyoroti munculnya sejumlah republik dan kerajaan dengan klaim sebagai ‘negara Islam’, yang miliki ideologi politik yang bukan saja saling berbeda, tapi juga bertentangan. Masing-masing klaim sebagai ‘ideologi Islam’. (Salahkah Jika Dipribumikan, KH. Abdurrahman Wahid, Gusdurian.Net, 1983)

Selain hal tersebut, Gus Dur juga terbetik perhatiannya pada hukum agama masa awal Islam yang kemudian berkembang menjadi fikih, yurisprudensi karya korps ulama pejabat pemerintah (qadi, mufti, dan hakim), juga ulama ‘non-korpri’. Khazanah keagamaan yang sangat ragam itu lalu tersistematisasi ke dalam beberapa mazhab fikih, masing-masing dengan metodologi dan pemikiran hukum (legal theory) tersendiri.

Lalu muncul deretan pembaharuan yang radikal, setengah radikal, dan sama sekali tidak radikal. Pembaharuan demi pembaharuan dilancarkan. Semua ajukan klaim memperbaiki fikih dan menegakkan ‘hukum agama yang sebenarnya’, yang kita namakan Syari’ah.

Formalisme Islam

Menurut Gus Dur, hal tersebut ditambah bidang politik. Terutama doktrin kenegaraan, kian terasa kacau keadaannya. Apalagi di bidang lain, pendidikan, budaya kemasyarakatan, dan seterusnya. Ini akan bisa menggiring kaum muslimin terlibat sengketa di semua aspek kehidupan, tanpa terputus. Dan ini akan bisa mereka jadikan kambing hitam atas melemahnya posisi dan kekuatan masyarakat Islam.

Konskuensinya menurut Gus Dur, sebagaimana terus kita saksikan hari ini, akan ada keinginan-keinginan pemulihan posisi dan kekuatan itu melalui ‘penyatuan’, dan juga penyeragaman pandangan. Hal ini tampil dengan sosoknya: formalisme Islam.

Di mana hukum agama, harus seragam dan formal, dengan sumber formalnya, Al-Qur’an dan Hadist, saja. Pandangan kenegaraan dan ideologi politik dituntut harus ‘universal’; Yang benar hanyalah paham Sayyid Qutb, Abul A’la Al-Maududi atau Khomeini. Pendapat lain, yang sarat dengan latar belakang lokal masing-masing, mutlak mereka nyatakan salah.

Jika sudah demikian bagi Gus Dur, inilah masa tercerabutnya kehidupan kaum muslimin dari akar-akar budaya lokalnya. Terlepas dari kerangka kesejarahan masing-masing tempat. Misalnya di Mesir, Suriah, Irak, dan Aljazair, Islam ‘dibuat’ menentang nasionalisme Arab, di mana masing-masing juga bersimpangan warna ideologinya.

Di Arab Saudi bahkan menumpas keinginan membaca buku-buku filsafat dan melarang penyimakan literatur tentang sosialisme. Di Indonesia sendiri terdengar untuk menghadapkan Islam dengan Pancasila secara konfrontatif, atau Pancasila versus Islam.

Karenanya pribumisasi, melestarikan akar budaya-budaya lokal yang telah memiliki Islam di negeri masing-masing, termasuk Indonesia, (terus) mendesak kita kerjakan. Doktrin islamisasi radikal negara khilafah bukanlah solusi. Itu jauh dari relevan bagi kehidupan umat Islam, hari ini juga nanti.

Upaya Preventif dari Dalam Keluarga

Jika tidak terkecuali dunia pendidikan kita terus banyak dibanjiri arus islamisasi (bahkan mungkin sampai hari ini). Maka keluarga juga telah jadi target penyebaran ideologi radikal yang menyesatkan itu. Pendidikan dan keluarga sesungguhnya adalah satu paket.

Maka dari sana setiap orang bisa lakukan upaya-upaya pencegahan sejak dini; Atau bahkan bangun resiliensi, dan terus aktifkan early warning system yang dimiliki; Termasuk peka terhadap pengetahuan mendasar akan indikasi-indikasi sekecil apapun, bahaya radikalisme agama bagi tiap-tiap anggota keluarganya.

Terkait keluarga, Sidney Jones lewat lembaganya The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), telah berulang kali ingatkan bahaya doktrin radikalisme ini.

Dalam rilis laporannya pada 21 Januari 2021, berjudul The Decline of ISIS in Indonesia and The Emergence of New Cells, juga garisbawahi pentingnya masyarakat, tidak terkecuali individu-individu, bersama aparat untuk terus mencermati isu radikalisme, yang berkembang melalui ceramah-ceramah agama yang digemari para keluarga muda (utamanya muslim urban kota, termasuk kalangan para artisnya).

Ataupun webinar-webinar di lingkungan soial yang terindikasi bermuatan islamisasi, sebagai residu ideologi radikal yang belum benar-benar habis. (Terorisme yang Bermain di Dua Kaki, Sarie Febriane, Kompas.Id, 2021)

Maka di sinilah letak pentingnya keluarga dalam arus utama pribumisasi Islam. Komponen di dalam keluarga sebagai bagian masyarakat terkecil harus ambil bagian perannya, saling mendidik, saling mengajak anggotanya untuk terlatih membangun dialektika; Mempertanyakan setiap hal-hal yang janggal, dan tidak sesuai dengan “nilai-nilai akar” yang dimiliki dari dalam tradisinya.

Sebab Islamisasi di Indonesia yang menyasar keluarga ini, baik lewat pendidikan formal, non formal,  akan kian dapat menghancurkan nilai-nilai keberagamaan umat dalam memahami keragaman itu sendiri. Oleh karena itulah, Gus Dur melalui arus utama pribumisasi Islam juga hendak melakukan upaya preventif terhadap islamisasi yang semakin masif ini.

Pengarusutamaan pribumisasi Islam, akan terus relevan kita butuhkan. Ini tidak lain adalah untuk kian menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), saat ini dan sampai kapanpun juga. Wallahu a’lam bisshawab.[]

 

 

 

 

 

 

 

Tags: Buku AjarEkstremisme Beragamagus durPribumisasi IslamRadikalisme
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Islam dan HIV-AIDS

Next Post

Benarkah HIV dan AIDS Kutukan dari Allah Swt?

Hafidzoh Almawaliy Ruslan

Hafidzoh Almawaliy Ruslan

Ibu dua putri, menyukai isu perempuan dan anak, sosial, politik, tasawuf juga teologi agama-agama

Related Posts

radikalisme
Pernak-pernik

Cara Melindungi Keluarga dari Pengaruh Radikalisme di Ruang Digital

18 April 2026
Toleransi dan Kemanusiaan
Figur

Toleransi dan Kemanusiaan: Harga Mati Dua Tokoh Nasional

27 Maret 2026
Kesetaraan Gender di Indonesia
Buku

Gus Dur dan Jalan Terjal Kebijakan Kesetaraan Gender di Indonesia

19 Maret 2026
Imlek
Publik

Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

17 Februari 2026
NU dan Lingkungan
Lingkungan

Di Era Gus Dur, NU Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan

16 Januari 2026
Pandji Pragiwaksono
Publik

Pandji Pragiwaksono, Gus Dur, dan Ketakutan pada Tawa

12 Januari 2026
Next Post
HIV dan AIDS

Benarkah HIV dan AIDS Kutukan dari Allah Swt?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0