Jumat, 10 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    Perkawinan Anak

    Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

    Pengadilan Agama

    Teras Pengadilan Agama, Asas Hukum, dan Harapan Lain tentang Perceraian

    Menjadi Pemimpin

    Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin

    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    Perkawinan Anak

    Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

    Pengadilan Agama

    Teras Pengadilan Agama, Asas Hukum, dan Harapan Lain tentang Perceraian

    Menjadi Pemimpin

    Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin

    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Lato-lato Apakah Mainan Ramah Anak?

Permainan lato-lato sejatinya akan banyak bernilai pembelajaran dan hikmah jika kita memandangnya dengan ilmu. Namun hanya sebatas menjadi fenomena permainan sebatas lalu

Rochmad Widodo by Rochmad Widodo
17 Januari 2023
in Pernak-pernik
A A
0
Mainan Ramah Anak

Mainan Ramah Anak

11
SHARES
552
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam beberapa bulan di penghujung tahun 2022 hingga pergantian tahun 2023, permainan lato-lato mendadak popular di Indonesia. Mainan tradisional yang sudah ada sejak 1990-anitu kembali masyarakat gandrungi tidak hanya usia anak-anak, tapi juga lintas generasi, dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pertanyaannya adalah, lato-lato ini apakah mainan ramah anak?

Karena mainan yang akrab kita sebut juga nok-nok itu, bahkan Presiden Jokowi, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, sejumlah artis papan atas seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Atta Halilintar, Amanda Manopo, dan masih banyak lagi yang memainkannya. Mainan lato-lato pun  penjual jajakan di mana-mana. Tentu dengan harga terjangkau untuk semua kalangan masyarakat.

Permainan lato-lato sejatinya akan banyak bernilai pembelajaran dan hikmah jika kita memandangnya dengan ilmu. Namun hanya sebatas menjadi fenomena permainan sebatas lalu. Jika kita memandangnya biasa sekadar alat bermain. Tentu akan lebih menarik dan membuahkan banyak manfaat kalau kita memandangnya dengan ilmu. Ya, meski lato-lato mainan. Karena sebagaimana tergambarkan di dalam Al Qur’an Surat Al An’am ayat 32, kehidupan dunia sesungguhnya tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Adapun bagi orang yang bertakwa, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat.

Adalah Johan Huizinga (1938), seorang sejarawan dan teoritikus budaya asal Belanda, mencetuskan teori yang menyebut manusia sebagai “homo ludens”. Yaitu sebuah konsep yang memahami manusia sebagai makhluk pemain yang suka memainkan permainan. Berdasarkan teori kebudayaan itu memperlihatkan bahwa, karakter manusia sebagai makhluk yang suka bermain. Jadi memang seyogyanya jika kita bisa memahami fenomena permainan lato-lato kembali digandrungi di masyarakat, bahkan hingga dimainkan oleh lintas generasi, memang bagian dari karakter manusia.

Orang Tua dan Anak-Anak Bermain dalam Islam

Ada sebuah gambaran menarik terkait pandangan bagaimana bermain dalam Islam. Hal itu Nabi Muhammad SAW tunjukkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari sebagai teladan bagi umat muslim. Yakni saat bercengkrama bersama anak-anak dan cucu-cucu.

Abu Dawud mengisahkan cerita yang disadur dari pengalaman Aisyah r.a. Rasulullah SAW pernah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar ‘Aisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apa ini?” ‘

Aisyah menjawab, “Itu mainan bonekaku.” Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, “Lalu suatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.” Beliau bertanya lagi, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap!” ‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.” (HR. Abu Daud, No. 4932)

Suatu hari Rasulullah SAW juga bermain dan bercanda dengan cucunya, Hasan dan Husein. Beliau gendong cucunya dan dinaikkan di atas punggungnya sambil berjalan-jalan. Rasulullah SAW adalah sosok ayah yang penyayang yang memberi kehangatan cinta kasih kepada anak-anak dan juga cucu-cucunya. Nabi Muhammad SAW kerap mencium cucunya, Hasan.

Ketika hal itu disaksikan oleh al-Aqra’ bin Haabis at-Tamimy, dia langsung berkomentar, “Aku memiliki sepuluh anak. Tak satupun yang pernah kucium.” Rasulullah SAW lantas mengalihkan pandangannya kepada Aqra’, lalu berkata, “Orang yang tidak mengasihi tidak dikasihi.” (HR Bukhari).

Teladan Sang Nabi

Nabi Muhammad SAW juga tidak segan untuk menggendong anak dan cucunya. Hal itu seperti dikisahkan Abdullah bin Jafar, “Rasulullah menjemput kami (yakni Jafar dan Hasan atau Husein) ketika pulang. Kemudian beliau menggendong salah satu dari kami di punggung sedang yang lain beliau bopong di dada sampai kami memasuki Madinah.” (HR. Muslim).

Berdasarkan dari hadis di atas, turut menggambarkan bahwa bukan hal tabu dalam Islam orang dewasa bermain. Bahkan mengajak bermain atau bercanda dengan anak-anak juga tidak akan mengurangi wibawa sebagai orang tua. Karena pada dasarnya manusia dari segala usia juga membutuhkan bermain. Karena baik untuk menciptakan rasa bahagia, membuang kejenuhan, menyegarkan jiwa, dan menyehatkan mental. Rasullah SAW pun sebagaimana tergambarkan dalam riwayat tersebut, juga bermain-main di usia beliau yang sudah dewasa dan memiliki cucu.

Imam Al Ghazali juga membeberkan bahwa permainan untuk anak akan banyak berdampak positif. Dalam Ihya ‘Ulumuddin (III/163), beliau menjelaskan, bahwa “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya kita izinkan untuk bermain dengan mainan yang mereka sukai untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya kita suruh belajar terus akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara.”

Artinya bisa kita ambil sebuah kesimpulan, bahwa bermain dengan mainan bagi anak-anak memang memiliki manfaat tidak hanya sekadar jangka pendek untuk bersenang-senang. Namun juga berdampak jangka panjang dalam berbagai hal positif bagi anak. Yakni memaksimalkan tumbuh kembangnya. Baik kecerdasan intelektual maupun emosional.

Menilik Manfaat Lato-Lato

Jika kita telusuri dengan berbagai disiplin ilmu, permainan lato-lato sebenarnya memiliki banyak manfaat. Azwar Anas (9/12023) dalam catatannya di Media Indonesia, gerakan dalam permainan lato-lato disinyalir menjadi pemicu untuk menstimulasi fungsi motorik anak. Bermain lato-lato, pemain harus menggerakkan tangannya dengan seimbang agar menghasilkan permainan yang baik. Saat gerakan ini berlangsung, setidaknya terjadi fungsi koordinasi antara kognitif dan motorik anak yang berdampak baik terhadap pencapaian perkembangannya.

Ia menguatkan pendapat itu dengan hasil penelitian Jalaluddin (2010) yang menjelaskan bagaimana gerakan secara langsung bermanfaat kepada sistem saraf yang bermuara kepada pembelajaran. Kegiatan otot, terutama kegiatan yang terkoordinasi, mampu menstimulasi produksi neurotrophin, yaitu substansi alami yang merangsang pertumbuhan sel-sel saraf dan meningkatkan jumlah koneksi saraf dalam otak sehingga memberikan dampak yang positif dalam pembelajaran.

Azwar juga menambahkan dengan pandangan Walker (2015), selain dapat membuat anak menjadi aktif dan menambah semangat dalam belajar. Dalam kegiatan fisik juga kaya akan manfaat bagi kesehatan dan perkembangan mereka, sehingga dapat mengurangi penyakit kardiovaskular. Yakni memperbaiki fungsi kognitif (seperti ingatan dan perhatian), dan secara positif berpengaruh terhadap kesehatan mental. Sehingga, menurutnya penggunaan lato-lato cocok untuk siswa PAUD, TK, dan SD untuk melatih motorik kasar dan halus mereka.

Baik untuk Menjadi Media Belajar

Mengenai manfaat lato-lato, Singgih Aji Purnomo dalam catatannya di NU Online (11/1/2023) selain nilainya sangat baik untuk belajar tentang fokus, mampu mencari solusi ketika berbenturan dengan masalah. Menjaga keseimbangan dalam bersikap dalam hubungan interpersonal, juga mampu menciptakan kebahagiaan.

Di samping itu ditinjau dari perspektif ilmu pengetahuan, lato-lato juga menganut teori fisika, yaitu hukum Newton 3. Karena ketika pemain menghentakkan tangan, membuat dua buah bandulan lato-lato saling memantul dan memukul satu sama lain, terjadi gaya aksi dan reaksi dari dua benda.

Selanjutnya mengakibatkan terjadinya tumbukan lenting sempurna pada dua buah bandulan itu dari arah berlawanan. Kemudian terpisah dan kembali ke arah asal dengan kecepatan yang sama, merupakan wujud dari hukum Newton 3. Atas alasan itu juga, menurut Anzwar lato-lato bisa bermanfaat untuk menjadi media belajar IPA siswa SMP maupun untuk mata pelajaran fisika bagi siswa SMA.

Manfaat positif lain lato-lato, menurut Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Drs. Koentjoro, MBSc, PhD., juga dapat melatih anak-anak berkonsentrasi, ketangkasan fisik, kepercayaan diri, sosialisasi, dan lainnya, serta dapat mengurangi ketergantungan anak pada handphone (republika.co.id, 10/1/2023).

Lato-Lato Apakah Mainan Ramah Anak?

Dari sekian banyak manfaat mainan tradisional yang kembali popular di tanah ini. Kemudian yang menjadi pertanyaan kita, apakah lato-lato mainan ramah anak?

Akhir-akhir tak lepas dari perhatian kita, mulai banyak diberitakan berbagai kasus bermain lato-lato berujung membawa petaka. Dari anak terkena lemparan bandul lato-lato di keningnya hingga benjol, rambut anak perempuan yang terjerat tali lato-lato, dan yang paling fatal, ada anak SD yang terkena bandul lato-lato salah satu bola matanya hingga pecah dan dokter diagnosa tidak bisa melihat lagi dengan matanya itu.

Bandul lato-lato yang terbuat dari plastik memang keras. Artis Raffi Ahmad hingga Atta Halilintar saat mencoba memainkan, lalu terkena tangannya juga mengaku kesakitan. Memang ada dua desain mainan lato-lato. Yaitu dua bandul yang hanya terikat tali dan dua bandul. Sementara model yang satunya langsung ada gagang terbuat dari plastik dengan tongkat di tengahnya untuk kita mainkan. Tapi dari dua desain itu, semua bandul sama-sama keras.

Karena itulah, sejatinya lato-lato ini bisa kita katakan permainan yang tidak ramah anak. Meski memiliki banyak manfaat. Di samping itu suara dari benturan bandul yang begitu keras, “tek, tek, tek….” atau “nok, nok, nok….” Juga menimbulkan bising. Banyak orang mengeluhkan suara yang muncul dari permainan itu.

Jadi kalau pun kita buat menjadi lebih ramah anak, tentu desain dari bandulnya bagi para pembuat mainan ini perlu mereka ubah. Misalnya bandulnya mereka buat tidak keras atau dibuat dari karet. Sehingga tidak sakit dan menimbulkan cidera jika terbentur.

Jika dari karet atau sejenisnya suaranya pun tentu tidak akan bising seperti halnya dari plastik. Meski demikian, kalaupun bahannya sudah terperbaharui dan lebih empuk, maka idealnya jika anak-anak mainkan juga perlu pendampingan orang tua atau orang dewasa. Sehingga bisa kita antisipasi kejadian yang tidak kita harapkan. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Tags: keluargaLato-latomainanparentingPermainan Tradisionalramah anak
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Konsep Mubadalah Terinspirasi dari Para Sahabat Perempuan Masa Nabi Saw

Next Post

Kisah saat Para Sahabat Perempuan Meminta Nabi Saw untuk Berikan Apresiasi

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo adalah Asisten Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits, Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama-Pemimpin Berakhlakul Qur’ani Berwawasan Kebangsaan di Kota Bekasi.

Related Posts

Esok Tanpa Ibu
Film

Mengapa Harus Ai-BU? Kritik atas Imajinasi Penyembuhan dalam Esok Tanpa Ibu

4 Juli 2026
Anak Autisme
Disabilitas

Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

3 Juli 2026
Masa Depan Anak
Keluarga

Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

2 Juli 2026
Quiet Quitting
Keluarga

Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

1 Juli 2026
Kehamilan yang Terencana
Keluarga

Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

30 Juni 2026
Film Jangan Buang Ibu
Film

Film Jangan Buang Ibu: Mengingatkan Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua

30 Juni 2026
Next Post
Sahabat Perempuan

Kisah saat Para Sahabat Perempuan Meminta Nabi Saw untuk Berikan Apresiasi

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi
  • Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya
  • Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas
  • Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak
  • Teras Pengadilan Agama, Asas Hukum, dan Harapan Lain tentang Perceraian

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0