Rabu, 22 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Rekomendasi

Memilih Ikut Mamah atau Papah?

“Jangan pernah menunggu, apalagi menunggu seseorang. Karena belum tentu orang itu tahu atau menyadari bahwa ada orang yang sedang menunggunya.” Kata-katanya tak menghentikan langkahnya. Dia semakin menjauh, dan aku sudah mulai rindu.

Muyassarotul Hafidzoh by Muyassarotul Hafidzoh
6 Desember 2020
in Rekomendasi, Sastra
A A
0
memilih ikut mamah atau papah

memilih ikut mamah atau papah

7
SHARES
343
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Aku melihatnya lagi di tempat yang sama, seorang perempuan seusia adikku, lebih mudah tiga tahun dariku. Dia duduk sambil memegang pensil dan sebuah buku. Menatap lepas ke arah lapangan, sesekali Dia tersenyum ketika melihat bola masuk gawang, sesekali mengerutkan dahi ketika bola keluar dari lapangan.

Sore hari memang jadwalku main sepak bola bersama teman teman, apalagi weekend. Selalu kuhabiskan waktu sore untuk bersenang – senang dengan mereka. Lapangan ini cukup membuat kami bahagia. Bagaimana tidak, pemandangan sekeliling selalu menawarkan senyuman. Banyak keluarga yang membawa anak anak mereka dan bermain di pinggir lapangan.

Ada banyak pasangan kekasih yang sekedar ngeteh atau menyantap mie ayam di warung warung tenda sepanjang pinggir lapangan. Ada juga anak remaja yang jogging beserta rekan-rekannya kemudian mereka mencari spot bagus untuk berfoto. Semuanya menawarkan kebahagiaan.

Entah kenapa setiap ada dia, aku ingin tampak keren dalam menggiring bola juga terlalu semangat untuk mencetak gol. Pernah suatu hari aku merasa setiap gerakanku tak lepas dari tatapannya, aku sempat ke-GR-an. “Ah, itu hanya perasaan saja,” bisik hatiku mencoba menebak realitas yang sebenarnya juga belum jelas.

Setelah permainan pertama berlalu, tiba-tiba aku melihat ada kesenduan pada kedua matanya yang sebenarnya cukup lebar. Hingga permainanku berantakan, bola yang kugiring selalu lepas. Aku lebih konsen dengan raut wajahnya yang tak lagi ceria. Oh tidak, apa yang baru saja aku lihat, dia mengusap sesuatu di pipinya. Apa dia sedang menangis?

Aku ingin menghentikan permainan ini. Ingin mendekatinya dan menanyakan apakah dia baik-baik saja. Tapi tentu itu tidak mungkin, aku tidak mengenalnya, lantas apa alasanku ingin tahu keadaannya. Ada anak kecil yang bermain di sampingnya melempar bola kearah ibunya, namun sayang bola anak kecil itu menggelinding masuk lapangan.

Dia berdiri dan berjalan menuju lapangan untuk membantu anak kecil itu mengambilkan bola. Tiba-tiba Edo menendang bola terlalu kencang ke arah dia yang sedang membungkuk. Spontan aku berlari kearahnya dan menangkap bola dengan kedua tanganku, tepat sebelum bola ini terbang mengenai kepalanya.

Dia terkejut, membelalakkan matanya yang semakin terlihat lebar. Menatapku beberapa saat, “kamu baik-baik saja?” tanyaku. Dia tersenyum, oh tidak senyumannya begitu menakjubkan. “Aku baik baik saja,” jawabnya.

Kulempar kembali bola ke teman teman dan meminta izin mereka untuk keluar dari permainan. Edo mengacungkan jempol, mempersilahkanku keluar lapangan dan mereka melanjutkan permainannya.

Kulihat dia memberikan bola kepada anak kecil itu, kemudian kembali duduk di tempat yang sama. Aku mendekatinya, “boleh duduk di situ?” tanyaku sambil menunjuk tempat kosong di sebelahnya. Dia menganggukkan kepala.

“Benar tadi kamu tidak apa-apa?” tanyaku lagi.

Sebenarnya aku tahu dia tidak apa-apa, karena tidak terkena bola sama sekali, tapi pertanyaan itu bukan untuk kejadian tadi, namun untuk perasaannya, untuk hatinya yang sepertinya dia sedang tidak baik baik saja.

Kembali dia tersenyum, kembali aku terkagum dan hati mulai terusik dengan alunan detakan yang semakin kencang. —-

“Kenapa berhenti bermain?”

“Hehe… sedikit tidak konsen sore ini. Jadi percuma, permainanku bakal jelek.”

“Menurutku, permainanmu cukup bagus kok,” katanya yang membuatku tersipu. Hey, kenapa aku harus tersipu?

Kemudian kami saling diam, sejenak menikmati permainan teman-temanku. Aku ingin mengajaknya berbicara lagi, tapi bingung mau ngomong apa. —-

“Aku juga ingin bermain di lapangan itu,” lanjutnya. Aku mengangkat alis, “tapi aku tidak bisa lari secepat kamu dan tidak tahu caranya menggiring bola seperti temanmu itu.” Dia menunjuk Edo yang lincah dalam permainan. Aku masih terdiam.

“Pasti sulit menyatukan sebelas kepala dalam mencapai satu tujuan. Mengetahui posisinya di mana? memberi kode sekedar picingan mata atau gerakan tangan, tapi dimengerti oleh semua anggota tim. Paling penting adalah saling percaya satu sama lain bahwa yang dilakukan masing masing adalah untuk mewujudkan kebahagiaan, berupa gol. Kok bisa ya, dua kepala saja susah disatukan, tapi ini sebelas kepala, bahkan bisa lebih kalau menghitung pemain cadangan. Keren ya?” katanya sambil menoleh dan melempar pandangannya kepadaku. Sejenak aku kembali menikmati matanya yang lebar, lesung pipi kanannya yang menakjubkan dan sedikit senyum di bibirnya yang mengagumkan. Aku tersenyum.

“Sebenarnya biasa aja sih, sama dengan permainan olah raga lainnya. Sebelum turun ke lapangan, pemain akan berlatih keras, mereka juga menyusun strategi.”

“Oh ya? Kalian juga? Bukankah ini hanya pertandingan antar teman, bukan club?”

“Iya, kadang kami nongkrong bareng dan membicarakan permaianan kami, sesekali membicarakan permainan idola kami dan strategi dari club kesayangan kami.” Dia mengangguk anggukan kepala.

“Benar juga, sebelum bertarung kita memerlukan rencana yang matang, strategi yang bagus dan kembali untuk saling percaya satu sama lain.”

Aku heran, sepertinya dia sedang tidak membicarakan permainan sepak bola, tapi hal lain. Dari gerakan jarinya yang tidak mau diam memutar mutarkan pensilnya, dan tatapannya yang kosong, juga masih dengan kesenduan matanya yang menyimpan sesuatu, aku beranikan diri bertanya kepadanya.

“Ada apa?” tanyaku. Dia melirik tiga detik kemudian kembali menatap lapangan. Kulirik juga tangannya yang berhenti menggerakkan pensilnya. ——

“Menjadi dewasa bagiku sangat mengerikan.”

Dewasa? Apa yang sedang dia katakan.

“Orang dewasa bisa berbohong seenaknya, pintar menyembunyikan sesuatu yang rumit, egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.”

Apa yang sedang dia bicarakan. Aku semakin penasaran tentangnya. Aku masih diam menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkannya.

“Apa kelak ketika aku dewasa, juga akan bersikap seperti itu?”

Aku menarik nafas dan melepaskannya, dia menoleh dan kembali mengatakan.

“Maaf, aku banyak bicara.”

Aku menggeleng, “Oh nggak, nggak apa apa.. aku senang kamu mau berbagi denganku.” Senyumnya kali ini seperti tertahan.

“Seandainya orang tuamu berpisah, kamu akan memilih tinggal bersama siapa? Ayahmu atau ibumu?”

Dia membicarakan tentang orang tua, kenapa dengan orang tuanya? Apakah mereka akan berpisah dan dia menjadi galau seperti ini.

“Ehm… aku tidak bisa menjawabnya,” kataku.

“Tuh kan. Bahkan kamu yang lebih tua dariku saja sulit menjawab, iya kan?”

“Ehmm.. sebenarnya ayahku sudah lama meninggal. Jadi aku hanya tinggal bersama ibu.”

Dia terbelalak, “maaf,” katanya lirih. Segera aku menggelengkan kepala dan mengatakan tak perlu minta maaf.

“Apa orang tuamu akan berpisah?” tanyaku, dia terdiam sesaat.

“Kupikir mereka saling menyayangi, saling melengkapi, saling percaya dan saling cinta. Bahkan aku tidak pernah melihat mereka bertengkar. Tapi semua bohong di depanku.” Dia menarik nafas sembari mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan kata-katanya. “Mamah selalu bahagia ketika papah di rumah. Mamah mengasuhku dengan baik, Mamah merawat rumah dengan baik, dan memberikan yang terbaik untuk Papah. Entah apa alasannya untuk mengambil keputusan ini.”

“Sebaiknya, tanyakan saja ke mereka.”

“Sudah, Mamah hanya menjawab ini yang terbaik untuk kami, dan Papah menjawab mereka sudah tidak saling cocok,” dia menghela nafas dan melanjutkan kalimatnya, “semudah itukah makna pernikahan?”

Aku menggeleng tidak setuju. Ibuku selalu mengatakan bahwa pernikahan adalah ikatan yang sangat kokoh, bahkan tersebut dalam firman-Nya. Maka, pernikahan bukanlah hubungan yang mudah terputus begitu saja. Sudah seharusnya pasangan menjaga ikatan tersebut. Begitu yang ibu katakan padaku. Bahkan saat ini sudah hampir sepuluh tahun ayah meninggal dan aku mengizinkan ibu jika ingin menikah lagi, ibu menolak, lantaran perasaannya kepada ayah belum hilang dan dia lebih bahagia hidup seperti ini.

“Pasti ada alasan lain. Sebaiknya tanyakan sekali lagi, sebelum kamu memutuskan untuk tinggal bersama siapa?” dia mengangguk mendengar perkataanku.

“Pilihan berat, jika aku memilih bersama papah, maka mamah akan sendiri dan bagaimana bisa mamah hidup sendiri, pasti dia akan kesepian,” dia terdiam sesaat, kemudian melanjutkan kalimatnya, “mamah tidak pernah bekerja sama sekali, apa dia bisa mencari uang? Tapi jika aku memilih bersama mamah, bisa jadi akan menambah beban kerja mamah, karena harus mengurusku.” Tangannya memegang kepalanya. Aku merasakan ada hal yang berat di benaknya. Sungguh! Keputusan yang sulit.

Aku kembali merasa bersyukur, ketika ayah masih hidup, ibu ikut bekerja membantu ayah. Bahkan ayah membelikan peralatan memasak lengkap untuk ibu, karena ayah tahu ibu pintar membuat kue. Ibu membuat kue, ayah ikut menjualkannya ke teman teman kantornya. Ayah sering memberi kabar ketika ada perkumpulan warga atau acara apapun bahwa kue buatan istrinya enak dan boleh dipesan. Aku ingat betul, ayahku selalu memastikan dapur bersih sebelum dia tidur, dia tak segan membersihkan dapur malam hari. Ayah bilang kepadaku, ibumu akan senang kalau dapur bersih, jadi pagi hari dia akan semangat memasak.

Begitulah ayah dan ibuku, saling mendukung satu sama lain. Ketika ayah meninggal dunia, ibu sangat hampa namun kemudian kembali kuat dan meneruskan hidup yang serba sulit ini, hingga ibu bisa sukses memiliki lima toko kue yang tersebar di kota ini. Sungguh aku bisa belajar banyak, baik dari ibu maupun sosok ayahku. —–

“Ehm… Terkadang kita berpikir ibu kita orang yang lemah, tapi sebenarnya dia belum menunjukkan kekuatannya. Seorang ibu, sungguh, bisa memiliki kekuatan yang tak terduga. Jadi jangan terlalu khawatir dengan keputusanmu. Pilihlah yang terbaik untukmu.” Dia menatapku lebih dari sepuluh detik. Aku tak mampu menerjemahkan tatapannya. Kulihat dia berdiri, aku segera ikut berdiri.

“Sudah mau pulang?”tanyaku

“Tak seharusnya aku berbicara banyak denganmu. Bahkan kita tidak saling mengenal.”

Aku memahami perasaannya, dia pasti tidak nyaman sudah banyak berbicara masalah pribadinya denganku yang teman saja bukan. Aku hanya mengangguk pelan.

 “Kalau begitu mari kita berkenalan, Namaku Radit.”

“Seharusnya tidak perlu menyebut namamu,” katanya.

“Setidaknya kamu bisa menyapaku kalau besok kamu kesini lagi,”kataku.

“Aku tidak akan ke sini lagi. Hari ini, hari terakhirku berada di kota ini. Entah aku ikut mamah atau papah, mereka akan meninggalkan kota ini.” Dia membalikkan badannya hendak beranjak pergi.

“Tunggu,” cegahku. Dia menghentikan langkahnya.

“Setidaknya beritahu namamu!”

“Kamu tidak perlu tahu namaku,” katanya. Dia kembali melangkah dan aku kembali mencegah.

“Kamu percaya cinta pertama tak bisa dilupakan?” Langkah kakinya kembali berhenti, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan dua langkah ke arahku.

“Entahlah, saat ini aku sedang tidak percaya dengan cinta,” aku mengangguk kecewa, “tapi…” dia melanjutkan kalimatnya, “aku pernah mendengar bahwa tidak lebih dari dua persen orang menikah dengan cinta pertamanya.”

Aku membuka mulutku tanpa mengeluarkan suara apapun, justru nafasku seperti terhenti mendengar kalimatnya. Dari mana angka itu, penelitan macam apa yang meneliti tentang cinta pertama.

“Aku pergi dulu. Terima kasih sudah menemani soreku,” katanya.

“Aku sungguh berharap bisa bertemu denganmu lagi,” kataku.

“Jangan pernah menunggu, apalagi menunggu seseorang. Karena belum tentu orang itu tahu atau menyadari bahwa ada orang yang sedang menunggunya.” Kata-katanya tak menghentikan langkahnya. Dia semakin menjauh, dan aku sudah mulai rindu.

***

Dia berjalan menuju rumah yang sebenarnya cukup jauh dari lapangan, namun dia tetap memilih untuk jalan kaki. Dia membuka lembaran buku gambarnya dan menuliskan nama tepat pada gambar lelaki yang beberapa hari lalu dia gambar. “Radit” begitulah tulisannya.

Sesampai di rumah, dia melihat dua koper besar berdiri di teras rumahnya. Dia melangkah masuk rumah.

“Ada apa mah?”

Dia dipeluk mamahnya, “sudah punya keputusan? Mamah pergi sekarang. Ayo ikut mamah.”

“Apa yang terjadi, aku belum punya keputusan mah. Kenapa harus pergi sekarang.”

“Mamah sudah tidak sanggup, mamah tidak bisa satu rumah dengannya, walau hanya satu malam.”

Lelaki yang sedari tadi duduk di ruang tengah berjalan menuju ruang tamu menemui mereka.

“Sudah papah bilang, kamu harus ikut papah. Mamahmu tidak akan bisa membesarkanmu.”

Dia menatap papahnya. “Pah, boleh aku bertanya sekali lagi. Apa sih alasan kalian bercerai?”

“Papah tidak ingin menceraikan mamahmu, tapi mamahmu yang menginginkan ini.”

Dia menunggu jawaban dari mamahnya, “baiklah, tinggal saja dengan papahmu, dia akan menjagamu lebih baik.”

“Mah,” tangannya memegang erat mamah.

“Mas,” suara perempuan terdengar dari dalam rumah memanggil lelaki satu satunya di antara mereka.

Perempuan berparas ayu, bertubuh tinggi dan berambut panjang terurai, berjalan mendekatinya.

“Oh ini putrimu, cantik seperti papahnya.”

“Mah, siapa dia?”

“Dia istri papahmu, dan jika kamu memilih tinggal bersama papah, maka dia akan menjadi mamahmu.”

Dia mengehala nafas cukup berat dan panjang.

“Baiklah, aku sudah punya pilihan. Aku ikut mamah.” Mata mamah terlihat berbinar. []

Tags: cerita pendekcinta pertamapernikahanSastra MubadalahSastra Perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Menjadi Muslim Feminis Itu Berat, Jadi Jangan Hanya Aku Saja

Next Post

Kisah Lintas Keberagaman: Pesan Utama Islam

Muyassarotul Hafidzoh

Muyassarotul Hafidzoh

Penulis Novel "Hilda" dan "Cinta dalam Mimpi"

Related Posts

Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Milik Suami
Keluarga

Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

16 Juli 2026
Kesepiaan
Keluarga

Mengapa Kesepian Bisa Hadir dalam Pernikahan?

6 Juli 2026
Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah
Film

Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Apakah Ibu Harus Selalu Menjadi Paling Kuat dalam Keluarga?

29 Juni 2026
Bersama Kartini
Rekomendasi

Dialog Imajiner Bersama Kartini: Apa Artinya Berani bagi Perempuan?

26 April 2026
Dinamika Keluarga
Keluarga

Tadarus Subuh ke-186 Memahami Prinsip Menghadapi Persoalan Dinamika Keluarga

16 April 2026
Next Post
Kisah Lintas Keberagaman

Kisah Lintas Keberagaman: Pesan Utama Islam

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0