Mubadalah.id – Berdirinya Unit Layanan Disabilitas menandai masifnya persebaran kampus inklusif se-Indonesia. Kemdiktisaintek mencatat, terdapat 155 kampus yang tersebar, mulai dari Pulau Sumatera hingga kawasan timur Indonesia. Namun, pertanyaannya apakah dengan adanya unit tersebut sudah menjamin akses teman-teman disabilitas ?
Suasana kampus pada Jum’at pagi tampak begitu riuh. Suara musik yang nge-beat, gerakan melenggang ke kanan kiri, hingga loncat tambah cerah sinar matahari, membuat suasana senam aerobik semakin hectic.
Namun, terdapat pemandangan berbeda seorang mahasiswa laki-laki berkaca mata hitam berdiri kaku bersama mahasiswa lain yang asik senam. Ia hanya menganyunkan kaki ke kanan balik ke kiri berulang kali sambil mengikuti ketukan lagu.
Kampus Inklusif Belum Aksesibel
Namanya Calvin, dia adalah salah satu mahasiswa disabilitas netra perguruan tinggi negeri di Surabaya. Hampir setiap hari Calvin harus mencari pojokan jalan atau penutup got sebagai patokan petunjuk jalan menuju kampus. Jalan pintas yang menghubungkan asrama ke kampus tak bisa ia lewati lantaran jalannya bebatuan dan tidak ada patokannya. Maka, ia harus memutar jalan melewati jalan umum.
“Patokannya penutup got itu lho, ibaratnya guiding blocknya kita itu,” ujar Calvin.
Sesampai gedung, Calvin seperti memasuki babak ke dua. Pasalnya ia harus melewati lantai yang luas tanpa guiding block untuk menuju tempat absen. Berlanjut untuk menuju lantai 5, ia menggunakan lift, tapi saat masuk ia tidak tahu kapan akan turun karena tidak ada petunjuk suara nomor lantai yang ia tuju. Maka, ia mesti bertanya kepada teman satu lift untuk menyakan lokasi lantai.
Dalam pembuatan tugas untuk menulis teks ia masih bisa, karena laptopnya sudah ia setting untuk mengeluarkan suara saat menulis. Tetapi ia kesulitan jika mengerjakan tugas berbasis visual, seperti membuat diagram dan portfolio. Perihal ini ia sampaikan kepada dosen dan koordinator kelas. Tapi terabaikan oleh keduanya. Seolah tidak mau tahu dengan alasan tersebut.
“Kita nggak bisa akses karena gambar, nempelinnya susah, ngga bisalah. Portfolio juga visual banget. dosennya minta harus sesuai” ujar Calvin.
Melihat realitas ini, relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa tidak setara. Dosen yang seharusnya mendengarkan kebutuhan Calvin dan memberikan masukan bagaimana metode alternatif yang bisa ia lakukan. Malah mengabaikan kebutuhan mahasiswa disabilitas. Hal ini sama saja dengan merampas haknya untuk berkembang, yang secara tidak langsung mencederai marwah institusi pendidikan itu sendiri.
Menemukan Ruang Ramah Disabilitas
Sejak kelas 3 SMP Calvin memutuskan untuk merantau ke Trenggalek tepatnya di Asrama SLB Bhayangkari. Ia mengambil keputusan ini untuk keluar dari zona nyaman, mau mandiri dan bertumbuh. Pasca dirinya buta total di umur 12 tahun untuk kemana-mana harus ada yang mengantar. Misalkan saja untuk sekolah, jika tidak ada yang mengantar maka tidak berangkat.
Seperti menemukan madu setelah perjalanan panjang di tengah hutan. Calvin bertemu dengan teman-teman disabilitas dan non disabilitas yang suportif dan respect. Meskipun fasilitasnya belum semuanya ada, seperti guiding block hanya di beberapa lokasi, tetapi lingkungannya sangat respect.
Ketika Calvin dan teman-temannya sedang berjalan di jalan raya orang sekitar akan mengarahkan ke kiri, lurus atau ke kanan. Saat sampai di trotoar motor sudah paham untuk pelan dan berhenti. Akses publik sepert alun-alun juga sudah terdapat guiding block. Sangat membantu Calvin dan teman-temannya saat melintas.
Bahkan Calvin dan teman-temannya ketika pergi ke kamar mandi asrama, atau keluar sekitar lingkungan jarang menggunakan tongkat. Selain sudah hafal beberapa titik lokasinya, orang-orang banyak yang respect akan membantu mengarahkan jalan.
Calvin bercerita, ia pernah jatuh ke Got samping asrama kampus. Saat ada orang yang sedang mencuci motor sebelah kanan, ia belum waktunya belok kiri sudah belok. Jatuhlah ke Got.
Melibatkan Disabilitas Dalam Pengambilan Kebijakan
Melihat realitas kebijakan pembangunan dalam kampus, menurutnya perlu melibatkan kelompok disabilitas secara langsung. Apalagi sudah menggunakan nama kampus inklusif. Hal ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan fasilitas disabilitas. Selain itu, menjalin kerjasama dengan lembaga atau instansi lain yang konsen dengan isu disabilitas, sehingga kampus inklusif tidak hanya slogan.
Berapa kali dirinya mencoba menampakkkan diri ke luar asrama untuk membeli makan atau sayuran ke warung. Waktu pertama kali tidak ada orang yang mengarahkan jalan. Tapi waktu ketiga dan keempat mulai ada beberapa orang yang respect buat ngarahin. Dari peristiwa ini Calvin percaya kalau ia terus menampakkan diri orang akan sedikit demi sedikit respect kepada teman-teman disabilitas.
Meskipun memiliki keterbatasan penglihatan tidak membuat Calvin minder untuk berdaya, ia membuka jasa pijet pribadi dirumah dan guru Sekolah Luar Biasa. Prinsip yang ia pegang hingga bisa terus bertahan hingga sekarang yakni disabilitas bukanlah suatu batas, tapi dari batas itu kita bisa melampaui batas.
Melibatkan kelompok disabilitas dalam merumuskan fasilitas dan manajemen kampus inklusif, tujuannya adalah untuk memastikan bahwa kebijakan yang lahir bersifat dialogis dan menjawab kebutuhan nyata. Jadi, bukan sekadar menggugurkan kewajiban formalitas. Dari sini akan terjadi kerja sama yang setara dan saling memanusiakan. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan Mubadalah Goes to Campus. Kerjasama Media Mubadalah dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Ampel Surabaya, Pada 18-19 Mei 2026 di GreenSA Inn Surabaya.
.










































