Mubadalah.id – Bila ibu kembali hamil saat masih menyusui anak sebelumnya, ibu tetap dapat melanjutkan pemberian ASI kepada anak yang masih membutuhkannya. Namun, ibu perlu meningkatkan asupan makanan bergizi agar tubuh tetap kuat dan sehat untuk mendukung kehamilan sekaligus produksi ASI.
Sementara itu, jika ibu telah melahirkan lagi ketika masih menyusui anak yang lebih besar, menyusui keduanya tetap aman dilakukan. Meski demikian, bayi yang baru lahir harus diprioritaskan untuk mendapatkan ASI terlebih dahulu.
Bagi bidan, perawat, petugas puskesmas, dokter, maupun tenaga kesehatan lainnya, memberikan penyuluhan bahwa “ibu harus memberikan ASI” saja sebenarnya belum cukup. Perempuan membutuhkan informasi yang lebih rinci sekaligus dukungan yang memadai agar dapat menyusui dengan baik.
Karena itu, penting untuk mengajarkan bahwa selama enam bulan pertama bayi tidak perlu memberikan makanan apa pun selain ASI. Jenis makanan lain yang ia berikan terlalu dini justru dapat membahayakan kesehatan bayi.
Selain itu, ibu-ibu perlu kita dorong untuk mulai menyusui sebelum muncul berbagai persoalan. Yakinkan bahwa tubuh mereka mampu menghasilkan ASI yang cukup bagi bayinya.
Dalam menghadapi berbagai persoalan umum selama masa menyusui, dukungan antarsesama ibu sering kali sangat membantu. Mereka dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan cara mengatasi kesulitan selama menyusui.
Karena itu, membentuk paguyuban atau kelompok ibu menyusui di lingkungan sekitar dapat menjadi langkah yang baik. Kelompok ini dapat ibu lalukan bagi ia yang telah memiliki pengalaman menyusui secara eksklusif tanpa memberikan makanan tambahan pada bayinya.
Anak-anak yang tumbuh sehat hanya dengan ASI menjadi bukti nyata manfaat menyusui. Pengalaman tersebut juga dapat menjadi penyemangat bagi ibu-ibu lain untuk mengikuti jejak yang sama. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 155. []












































