Mubadalah.id – Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya “7 Langkah Ibu Nyai Hj. Dirroh Nafisah Ali Mendidik Generasi Ulama Perempuan Part I”. Salah satu nilai dasar paradigma KUPI yaitu kesetaraan menjadi langkah keempat Ibu Nafis dalam Mendidik Generasi Ulama Perempuan. Menurut Itsnaatul yang pernah menjadi Duta Santri Nasional, Ibu Nafis sangat memiliki pandangan yang progresif terhadap perempuan.
Hal ini kemudian yang beliau tanamkan baik pada putri maupun santrinya. Ibu Nafis senantiasa mencontohkan di kehidupan sehari-harinya bagaimana perempuan harus bersikap dan menempatkan diri. Baik di ruang domestik maupun ketika beraktivitas sosial di masyarakat.
Bahkan Ibu Nafis berpesan kepada santrinya untuk dapat menjadi perempuan yang berkiprah dan tampil dengan cara meningkatkan kualitas diri, prinsip, serta memiliki karakter dan berdaya. Mewarnai lingkungan di sekitarnya bukan hanya mengikuti arus. “Dadi wong wedok iku kudu cerdas lan kuto” begitu dawuh ibu ketika ngaji setoran al-Qur’an berganti dengan ngaji kuping.
Artinya bukan serta merta harus menjadi perempuan yang tinggal di perkotaan. Tetapi cara berpikir perempuan harus terbuka dan dapat mengikuti perkembangan zaman agar dapat menempatkan diri dan beradaptasi dengan mudah di manapun ia berada.
Ibu Nafis senantiasa mendukung setiap minat dan bakat para santri dan memberikan nasihat untuk tidak takut berjuang di manapun berada, karena seisi dunia ini adalah milik Allah. Bahkan nasihat dan dukungan ini senantiasa ibu lakukan seperti memberikan kesempatan para santri untuk belajar mengendarai mobil.
Memberdayakan santri putri mengendarai mobil adalah hal yang mungkin tidak semua ibu nyai di pondok pesantren dapat lakukan. Namun Ibu Nafis melakukannya. Meski saat itu ia mengajari para santri dengan keterbatasan fasilitas yang ada.
Bahkan bagi beliau, walau belum punya mobil, jangan takut untuk belajar mengendarainya. Ibarat pilot yang mengendarai pesawat meski pesawat tersebut bukan milik sang pilot. Begitulah salah satu contoh kehidupan yang Ibu Nafis ajarkan dan memiliki beragam makna di setiap langkah kehidupan para santrinya.
Komunitas WULAN sebagai Bentuk Kemanusiaan dan Kebangsaan
Selain skill intrapersonal, Ibu Nafis juga mengajarkan para santri untuk mengasah skill interpersonalnya dengan cara bergaul dengan siapapun. Ibu Nafis memiliki pertemanan dengan para lansia sosialita dengan beragam agama dan suku budaya. Kelompok tersebut para santri ketahui sebagai komunitas WULAN yaitu singkatan dari Wanita Lanjut Usia.
Di komunitas WULAN tersebut lah Ibu Nafis berdakwah dengan pendekatan yang sangat santun. Menunjukkan wajah Islam dengan cara yang baik (bil hasanah), cara yang bijaksana (bil hikmah), dan dengan tutur kata yang baik ( bil lati hiya ahsan) sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an surah an-Nahl ayat 125.
Dermawan kepada Siapapun
Bagi Itsnaatul, Ibu Nafis merupakan sosok yang dermawan. Langkah kelima inilah cara Ibu Nafis mendidik generasi setelahnya agar kelak meneladani hal-hal baik yang beliau rutin lakukan. Beliau senantiasa membagikan kepada siapapun termasuk kepada para santri dan wali santri dalam keadaan kondisi beliau ada maupun seadanya.
Itsnaatul mengenang bahwa ketika dia akan pulang ke rumah, Ibu Nafis akan menitipkan hadiah kain dengan bungkusan indah kepada ibunya. Ibu Nafis jujga kerap memberikan hadiah kepada para wisudawan maupun wisudawati khotmil qur’an. Bahkan untuk kali ini, bukan hanya Itsnaatul, tetapi saya yang menulis biografi beliau kali ini pun pernah mendapatkan hadiah dari beliau ketika ikut khataman al-Qur’an di ndalem Ibu Nyai Fatma di Dongkelan Krapyak.
Kain beliau kemudian saya jahit menjadi sebuah outer dan saya kenakan ketika kakak kedua saya wisuda sarjana. Bahkan ketika sowan ke ndalem Ibu Nafis menjelang khataman, beliau langsung menyuguhkan kudapan yang tersaji agar kami para santri mau mencicipi. Satu per satu snack di hadapan kami dibuka dan diberikan langsung pada kami, yang tentu sungkan mengambilnya tetapi beliau membagikannya agar kami tidak sungkan.
Allah Mencintai Keindahan
Setiap individu yang pernah bertemu dengan sosok Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali tentu sadar bahwa beliau sangat mencintai dan menghadirkan keindahan. Cara keenam inilah yang beliau tanamkan agar kelak para ulama perempuan penerusnya juga terbiasa menjaga penampilannya karena Allah mencintai keindahan.
Para santri terbiasa untuk menggunakan seragam yang senada. Tidak boleh asal pakai dan berantakan, jiwa seninya dalam berbusana harus terasah agar terbiasa berpenampilan indah di manapun dan kapanpun.
Memanusiakan Manusia
Langkah terakhir Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali dalam mendidik generasi penerus ulama perempuan adalah dengan cara senantiasa memanusiakan manusia kepada siapapun. Bagi Itsnaatul, Ibu Nafis adalah sosok yang sangat mampu untuk melihat keistimewaan dari siapapun termasuk santrinya.
Orang-orang yang bertemu dengan beliau bahkan yang mungkin dianggap sebelah mata atau tidak terlihat oleh orang lain tetap bernilai dan dimuliakan oleh Ibu Nafis. Itsnaatul menyaksikan sendiri ketika mereka yang tidak memiliki tempat berteduh, tidak memiliki tempat bercerita, bahkan kekurangan secara finansial sebisa mungkin dibantu oleh beliau.
Para santri pun mendapatkan perlakuan serupa. Ketika santri tersebut tidak sadar memiliki suatu kemampuan, maka Ibu Nafis yang memberikan validasi dan dukungan sehingga kelak santrinya dapat mengoptimalkan bakatnya. Seperti bakat tata rias, tata busana, hingga dekorasi maupun bakat lainnya. Walau mungkin dalam perjalanannya tidak semulus kenyataannya.
Ada kalanya santri yang sedang belajar tata rias merias wajah Ibu Nafis namun hasilnya kurang sesuai, Ibu Nafis akan tetap menghargai meski beliau akan menyampaikan dengan istilah unik khas ibu agar santri tersebut tidak rendah diri.
Ada juga santri yang berbakat di bidang dekorasi, maka Ibu Nafis akan mengutus santri tersebut untuk mendekor untuk acara tasyakuran, pernikahan dan lainnya. Bahkan santri yang berbakat di bidang kesenian seperti hadroh akan diajak oleh Ibu Nafis untuk turut hadir ketika beliau diundang dalam suatu pertemuan agar para santri meramaikan acara dengan iringan hadrah.
Termasuk Itsnaatul yang pernah juara di bidang bahasa Arab maupun bahasa Inggris. Hal tertentu tidak lepas dari dukungan Ibu Nafis yang dapat melihat beragam potensi para santrinya. Sehingga kini para santri Ibu Nafis banyak yang telah berkiprah di bidangnya masing-masing dan melanjutkan perjuangan beliau menjadi generasi ulama perempuan.
Lahal faatihah. Wallahu a’lam bisshawab. []












































