Rabu, 21 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    Pengelolaan Sampah Menjadi

    Pengelolaan Sampah Menjadi Tanggung Jawab Bersama

    Kebijakan Publik

    Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

    Menjaga Alam

    Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

    Broken Strings

    Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    Dimonopoli

    Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli

    Nyadran Perdamaian

    Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

    Merusak Alam

    Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Ketaatan Istri pada Suami

    Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    Pengelolaan Sampah Menjadi

    Pengelolaan Sampah Menjadi Tanggung Jawab Bersama

    Kebijakan Publik

    Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

    Menjaga Alam

    Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

    Broken Strings

    Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    Dimonopoli

    Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli

    Nyadran Perdamaian

    Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

    Merusak Alam

    Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Ketaatan Istri pada Suami

    Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Hikmah

Menilik Pesan Dakwah dalam Syair Ujud-ujudan

Terlepas dari masalah ketauhidan, syair ujud-ujudan juga mengajarkan pesan-pesan nasionalisme. Hal demikian dapat dilihat pada bagian akhir dari syair tersebut yang berisi doa-doa untuk keamanan negara serta dilimpahkan rezeki bagi para penduduknya

Muhammad Nasruddin Muhammad Nasruddin
2 Desember 2022
in Hikmah
0
Pesan Dakwah

Pesan Dakwah

411
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Jika merunut pada jejak historis perkembangan Islam di Indonesia, kebudayaan masyarakat lokal memegang peranan yang cukup signifikan. Pasalnya, proses Islamisasi di Indonesia berbeda dengan penyebaran Islam di Timur Tengah yang cenderung bersifat radikal-konfrontatif, namun lebih mengedepankan strategi cultural-edukatif, yang menyiratkan pesan dakwah lebih damai dan toleran.

“Misionaris” Islam di Indonesia, khususnya Wali Songo mengambil strategi inovatif dalam menjalankan misi pesan dakwah dengan berbasis pada kondisi sosio-kultural masyarakat. Munculnya beragam arsitektur masjid bercorak Hindu merupakan bagian kecil dari hasil akulturasi ajaran Islam dengan kebudayaan lokal.

Selain itu juga dapat dijumpai pada kesenian tradisional, manuskrip kuno, maupun pesan dawkah dalam wujud syair Jawa seperti Syair Ujud-Ujudan yang menjadi objek pembahasan pada kesempatan kali ini.

Syair Ujud-Ujudan atau yang sering disebut Syi’ir Utawen merupakan sebuah hasil perkawinan budaya Islam dengan Jawa yang berbentuk lagu pujian. Invandri dan Suryadi (2019) dalam artikelnya yang berjudul “Reflection on The Meaning of Local Wisdom in Utawen Poetry at Gebang Tinatar Islamic Boarding School Tegalsari Ponorogo” menyebutkan bahwa Syair Ujud-Ujudan merupakan pesan dakwah dalam bentuk karya sastra puisi yang menggunakan leksikon Arab dan Jawa.

Syair ini diciptakan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari, keturunan Raja Brawijaya V sekaligus pendiri Pondok Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo. Pesantren yang didirikan sekitar abad ke-18 ini merupakan pesantren yang bersejarah di mana telah melahirkan santri-santri yang menjadi tokoh berpengaruh seperti Pakubuwono II, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pangeran Diponegoro, dan H.O.S. Cokroaminoto.

Syair Ujud-Ujudan atau Utawen biasa dilantunkan di Pesantren Gebang Tinatar saat mengiringi ritual gajah-gajahan atau pada saat bulan Ramadhan, yakni selepas melaksanakan shalat Tarawih.

Tentang perkembangan pesan dakwah dalam syair ini masih menjadi misteri yang perlu dikaji kembali. Setidaknya terdapat dua kemungkinan. Pertama, syair ini sejak awal  sudah tersebar luas, namun seiring perkembangan zaman mulai kurang mendapat perhatian dari generasi muda sehingga menjadi tradisi yang jarang dijumpai.

Kedua, persebaran pesan dakwah syair ini memang kurang masif, hanya berkisar pada lingkungan sekitar. Di daerah penulis sendiri, yakni di Desa Gedawung, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, Syair Ujud-Ujudan masih menjadi tradisi Bulan Ramadhan yang kerap dilantunkan di masjid-masjid usai melaksanakan shalat Tarawih.

Mengingat bahwa para pendahulu di daerah sini banyak yang nyantri di Ponorogo sehingga diperkirakan mereka pulang dengan membawa tradisi pesan dakwah melalui syair tersebut, yang diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini. Alunan syair yang dilantunkan dengan langgam khas Jawa diiringi tabuhan bedug maupun peranti tradisional lainnya membuat pesan dakwah syair Ujud-Ujudan terkesan begitu sakral.

Walaupun pesan dakwah syair ini nampak sederhana namun memiliki makna yang sangat mendalam. Adapun lirik Syair Ujud-Ujudan atau Syiir Utawen adalah sebagai berikut:

         

             Utawi pikukuhe Islam iku limo

            Kang dingin syahadat, kaping pindo sholat

            Kaping telu aweh zakat, kaping papat puoso

            Kaping limo munggah kaji maring Baitulloh

 

            Nawaitu ‘an ukiro kalimataini syahadataini

            Wa wujuban fil’umuri wa marotan wahidatan fardlo llillahi ta’ala

            Niat ingsun angucapaken ing kalimah syahadat loro

            Ing khale wajib ing ndalem sak umur ingsun

            Maring sapisan fardlo lillahi ta’ala

 

            Asyhadu alla illaha illalloh wa asyhadu anna muhammadan rasulullah

            ngaweruhi ingsun setuhune ora ono pangeran kang sinembah

            Kulawan sakbenere, kang wajib wujude

            Kang muhal ‘adame, kang mesti anane

            Anane Allah

 

            Ngaweruhi ingsung setuhune kanjeng Nabi Muhammad iku utusane Allah

            Kawulane Allah, kang romo Raden Abdullah, kang ibu Dewi Aminah

            Ingkang dhohir ono Mekah, Hijrah ing Medinah, gerah ing Medinah

            Seda ing Medinah, sinareaken ing Medinah

            Bangsane bangsa Arab bangsa Rasul bangsa Quraisy

           

            Wujud, qidam, baqo’, mukholafatu lil khawadisi, qiyamuhu binafsihi,           wahdaniyah, qudrat, irodat, ‘ilmu, hayat, sama’, bashor, kalam, qodiron,           muridan, ‘aliman, hayyan, sami’an, bashiron, wa mutakalliman,

 

            Mongko maknane la ilaha illalloh iku makno nafi lan isbat

            Mongko kang den isbataken iku pangeran kang ngarso

            Kang setunggal, kang aran dadekaken

            Dadekaken wong ‘alam kabeh

 

            Iyo iku aran Allah, tegese aran Allah, iku aran ing dhalem dzat

            Kang wajibil wujud, kang mohal ‘adame, kang mesti anane

            Ora werno ora rupo, ora arah ora enggon

 

            Seng sopo wonge neqodaken setuhune Allah

            Iku werno, rupo, arah, enggon….

            Mongko wong iku dadi kufur

 

            Utawi kanjeng Nabi Muhammad iku manungso kang lanang

            Kang ‘aqil baligh, kang bagus rupone, kang mencorong cahyane

            Kanthi werno koyo rembulan utowo koyo srengenge

            Keturunan wahyu ,ingkang wajib anduweni

            Sifat sidiq amanah tabligh

 

            Sidiq bener, amanah  kapercoyo, tabligh anekakaken

            Mohal riyo, mohal cidro, mohal anglepataken

            Ingkang werno marang bongso liyo

            Ora dadi anacataken ing dhalem martabate

            Ingkang moho luhur

            Allohumma sholli ‘ala Muhammad…

            Allohumma sholli ‘ala muhammadin…

            Wa’ala alihi 2x wasohbihi wasallam

            Allah robbi ij’al hadza baladan aminan…2x

            Warzuq ahlahu…2x

            Wasi’an thoyyiban hasanan

Secara garis besar syair tersebut berisi tentang masalah ketauhidan. Kemudian diikuti penjelasan tentang sifat-sifat Allah SWT, biografi Nabi Muhammad SAW, serta nasionalisme.

Syair diawali dengan penjelasan mengenai rukun Islam yang menjadi unsur fundamental bagi umat muslim. Rukun Islam yang pertama yakni mengucapkan dua kalimat syahadat adalah unsur terpenting sekaligus terberat. Terpenting karena menjadi syarat mutlak bagi seseorang yang ingin memeluk Islam.

Namun di sisi lain juga menjadi unsur yang terberat. Meskipun terasa mudah ketika dilisankan, lafadz asyahadu an la ilaha illallah yang memiliki makna nafi’ dan isbat, yakni meniadakan segala sesuatu yang patut dituhankan kecuali dzat Allah memberikan konsekuensi yang cukup berat untuk diamalkan dengan sepenuh hati dalam kehidupan sehari-hari.

Di mana di era modernisasi ini tidak sedikit manusia yang begitu menuhankan harta, tahta, maupun “tuhan-tuhan” materi lainnya. Oleh karena itu diperlukan latihan dan latihan untuk menancapkan makna iman yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata.

Pengenalan mengenai dzat Allah dan sifat-sifat-Nya juga menjadi hal yang penting bagi generasi muda saat ini. Mengingat bahwa banyak generasi muda yang kurang memerhatikan akan sifat-sifat Allah SWT.

Padahal Syeikh Imam Marzuqi dalam kitab Aqidatul Awam-nya menerangkan bahwa mengetahui sifat Allah, terutama sifat wajib-Nya yang dua puluh itu hukumnya wajib. Artinya jika tidak mengetahui maka akan dikenakan dosa. Melalui syair ini Kyai Ageng Muhammad Besari ingin mengajak masyarakat untuk selalu mengingat-ingat sifat-sifat luhur Allah SWT. Tentu pengamalan dengan bentuk perbuatan merupakan tujuan dari sebuah pengetahuan.

Sebagai seorang muslim juga harus mengenal nabinya. Beliau Nabi Muhammad SAW yang luhur budi pekertinya merupakan role model bagi umat Islam yang selayaknya dijadikan sebagai suri teladan dalam setiap dimensi kehidupan. Sosok yang paling mulia bahkan ketika menjelang kematiannya pun yang dipikirkan hanyalah umatnya. Umati…ummati….

Terlepas dari masalah ketauhidan, syair Ujud-ujudan juga mengajarkan pesan-pesan nasionalisme. Hal demikian dapat dilihat pada bagian akhir dari syair tersebut yang berisi doa-doa untuk keamanan negara serta dilimpahkan rezeki bagi para penduduknya. Sebuah negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur merupakan dambaan bagi seluruh masyarakat.

Syair Ujud-ujudan atau syiir Utawen sebagai bentuk akulturasi dua ragam budaya yang berbeda merupakan sebuah kearifan lokal yang harus dijaga. Keberhasilan Wali Songo dalam mengislamkan masyarakat Indonesia melalui pendekatan kultural merupakan bukti nyata bahwa agama dan budaya bukanlah dua hal yang harus dipertandingkan namun selayaknya dapat dipersandingkan. Dengan demikian akan tercipta masyarakat muslim yang lebih ramah, moderat, dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan. []

Tags: BudayadakwahislamJawaNusantaraTradisiWali Songo
Muhammad Nasruddin

Muhammad Nasruddin

Alumni Akademi Mubadalah Muda '23. Dapat disapa melalui akun Instagram @muhnasruddin_

Terkait Posts

Nyadran Perdamaian
Personal

Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

20 Januari 2026
Merusak Alam
Publik

Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

20 Januari 2026
Lingkungan
Publik

KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

20 Januari 2026
Isra' Mi'raj
Hikmah

Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

18 Januari 2026
Gerakan KUPI dari
Publik

KUPI Berakar dari Gerakan Perempuan Islam Sejak 1990-an

17 Januari 2026
Isra Mikraj
Hikmah

Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

17 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Pengelolaan Sampah Menjadi

    Pengelolaan Sampah Menjadi Tanggung Jawab Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan
  • Membaca My Food is African dengan Kacamata Kesalingan
  • Membaca What Is Religious Authority? Menimbang Ulang Otoritas Agama
  • Pengelolaan Sampah Menjadi Tanggung Jawab Bersama
  • Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID