Jumat, 3 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pengelolaan Sampah

    Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

    Anak Autisme

    Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    Masa Depan Anak

    Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    ToT KUPI

    ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    Quiet Quitting

    Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

    Ensiklik Magnifica Humanitas

    AI dan Martabat: Refleksi atas Ensiklik Magnifica Humanitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    Obat Aborsi

    3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

    Aborsi

    Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

    Aborsi Aman

    2 Metode Aborsi yang Aman dalam Layanan Medis

    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pengelolaan Sampah

    Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

    Anak Autisme

    Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    Masa Depan Anak

    Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    ToT KUPI

    ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    Quiet Quitting

    Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

    Ensiklik Magnifica Humanitas

    AI dan Martabat: Refleksi atas Ensiklik Magnifica Humanitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    Obat Aborsi

    3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

    Aborsi

    Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

    Aborsi Aman

    2 Metode Aborsi yang Aman dalam Layanan Medis

    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Inspirasi Pesantren Hijau di Pesantren Mahasina

Di samping santri menghafal dalil menyangkut kepedulian lingkungan, juga sekaligus mereka terbiasa mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana peduli terhadap lingkungan di pesantren

Rochmad Widodo by Rochmad Widodo
22 Februari 2023
in Pernak-pernik, Rekomendasi
A A
0
Pesantren Hijau

Pesantren Hijau

15
SHARES
771
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Wah, pesantrennya di sini adem ya…. Banyak pohonnya….” atau “bersih ya pesantren di sini….” Kurang lebih begitulah komentar positif para calon wali santri yang datang mendaftarkan putra atau putrinya di Pondok Pesantren Mahasina.

Mengingat letaknya di Kota Bekasi, tepatnya di Jati Waringian, Pondok Gede, kesan umum daerahnya memang panas dan cenderung tidak banyak pohon. Terlebih lokasi Mahasina di tengah perkampungan padat. Jadi tidak mengherankan, kalau banyak calon wali santri begitu datang ke lokasi saat mendaftarkan putra-putrinya seketika dibuat kaget dengan kondisi Mahasina yang jauh dari bayangan pemberitaan umum di media sosial tentang Kota Bekasi yang panas.

Di Mahasina berbagai macam pohon berbuah bahkan tumbuh. Bermacam-macam jambu, dari jambu air, jambu jamaika, jambu biji, hingga jambu mete, klengkeng, nangka, mangga, pisang, rambutan, dan kelapa, semua ada. Jika musim buah, para santri biasanya yang memanen, sebagian dihaturkan ke pengasuh, para ustadz dan ustadzah, disuguhkan ke tamu, dinikmati bersama para santri, dan dibagi-bagikan ke tukang hingga warga. Tak jarang santri dan para ustadz juga membuat rujak buah bersama di hari libur.

Banyak pohon tidak berbuah juga tumbuh di Mahasina. Ada pohon jati yang cukup besar, hingga pohon bambu dan berbagai pohon hiasan menjulang tinggi-tinggi dan rimbun daunnya. Bermacam-macam bunga ditata rapi di sudut-sudut bangunan. Ada sebagian memang ditanam para santri, namun ada juga yang dibawa santri sekembalinya ke Mahasina dari rumah sewaktu liburan.

Memang sewajarnya jika lantas tiga lembaga di PBNU, yaitu LAZISNU PBNU, LPBI NU, dan RMI PBNU, menjadikan Pondok Pesantren Mahasina sebagai satu dari tujuh Pondok Pesantren yang menjadi sasaran program Pesantren Hijau.

Mahasina bisa menjadi pesantren hijau, tidak lain karena peran sentral dari pengasuh yang sangat peduli lingkungan, cinta tanaman, dan memberikan keteladanan dalam mengamalkan ajaran Islam kepada para santri. Mengamalkan ajaran Rasulullah SAW dalam mendidik yang paling efektif. Yaitu dengan keteladanan.

Peran Sentral Pengasuh

Pengasuh Mahasina memiliki kecintaan sangat tinggi terhadap tanaman. Sewaktu Mahasina belum berdiri, KH. Drs. Abu Bakar Rahziz, M.A. dan Ibu Nyai Hj. Dra. Badriyah Fayumi, Lc. M.A., sepulang dari Mesir dan kemudian membangun rumah tinggal di Jl. Masjid Raya, Jatiwaringin, Pondok Gede. Kediaman beliau yang berornamen kayu-kayu, banyak tertanami pohon, bunga, dan tertata dengan indah.

Hobi Abah, sapaan akrab KH. Drs. Abu Bakar Rahziz, M.A., dalam menanam pohon dan tanaman berlanjut ketika mulai merintis Mahasina. Bahkan terus hingga sekarang bersama Ibu Nyai Badriyah. Awalnya memang Abah banyak membeli bibit-bibit pohon dan tanaman. Namun begitu para wali santri mulai mengetahui kecintaan beliau menanam berbagai pohon, seringkali saat sowan ke Mahasina banyak juga wali santri membawakan bibit-bibit pohon atau cangkokan.

Ibu Nyai Badriyah untuk memasifkan pesantren hijau, dan mengajarkan para santri mencintai tanaman, tiap liburan semester saat akan pulang juga menghimbau kepada santri yang di rumah punya banyak bunga atau tanaman, agar membawa satu untuk dirawat di Mahasina. Hasilnya sangat menyenangkan, Mahasina jadi semakin banyak bunga, juga beraneka macam bunganya.

Namun di tengah terus bertambah banyak santri mencapai 1000-an, turut mendorong pembangunan lokal dan asrama kian masif. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, menyangkut pohon besar yang telah tumbuh mau tidak mau lahannya harus dialih fungsikan pembangunan. Abah selalu berusaha tidak mematikan pohon yang ada.

Yang masih logis bisa kita pindahkan, akan dipindahkan. Tetapi pohon yang sudah terlalu besar dan tidak bisa kita pindahkan. Jika bisa disiasati tidak kami tebang, akan tetap dipertahankan. Sehingga, tidak mengherankan kalau ada beberapa bangunan di Mahasina yang di dalamnya terdapat pohon besar masih tetap tumbuh demi menghindari peenbangan. Menariknya, kerapkali justru itu memperindah bangunannya. Jadi unik dan lebih bernilai estetis saat dilihat.

Ragam Permasalahan Lingkungan di Pesantren

Permasalahan lingkungan di pesantren sebenarnya  tidak bisa kita pandang sederhana. Pasalnya bukan soal sekadar tanam menanam pohon atau merawatnya. Namun ada banyak hal yang menjadi persoalan serius dan jika tidak kita tangani dengan strategi cerdas, juga tersistem, akan bisa berdampak buruk, bahkan menjadi bencana.

Pertama, soal kebersihan dan sampah. Pesantren jika tidak bersih dan banyak sampah, pasti akan banyak bakteri, virus, dan membawa penyakit. Mulai dari penyakit kulit hingga berbagai penyakit lainnya. Jika ada santri sudah terpapar, penularannya sangat cepat ke santri lain. Kalau tidak tertangani dengan cepat, maka akan berdampak semakin buruk. Bisa-bisa satu pesantren tertular, karena di dalam pesantren selalu berinteraksi antara satu dengan yang lain.

Artinya, soal kebersihan adalah pemasalahan serius. Pesantren harus bersih dari sampah. Sampah juga harus terkelola dari hulu ke hilir. Mulai dari pembiasaan kedisiplinan santri dalam membuang sampah pada tempatnya. Pembedaan kategori tong sampah dari organik yang mudah diurai dan nonoganik, hingga ke pembuangan akhir.

Apakah kita bakar, dihancurkan, atau kita distribusikan ke pengelola sampah di daerah setempat. Jadwal pendistribusian sampah hingga pembuangan akhir pun juga harus terjadwal ketat. Karena jika tidak, sampah bisa menggunung dan yang berakibat selain bau pasti menyengat, juga menjadi tidak sehat.

Air Bersih dan Limbah

Kedua, air bersih dan air limbah. Persoalan air ini di pesantren juga sangat vital. Air bersih sendiri ibarat menjadi sumber kehidupan di pesantren. Karena terpakai mandi, mencuci, bersuci, kebutuhan dapur, dan berbagai kebutuhan lain. Tidak boleh stok air bersih kekurangan, apalagi habis. Pasalnya, berdampak serius ke seluruh aktivitas di pesantren yang ditinggali oleh banyak penghuni.

Sama pentingnya air bersih untuk konsumsi minum. Tidak boleh stoknya sampai habis. Terlebih secara umum bagi pondok pesantren yang aturannya ketat santri tidak mudah keluar dan harus izin.

Selanjutnya, permasalahan air limbah. Hal itu tidak bisa asal ada selokan pembuangan. Sangat kita butuhkan ilmu pengetahuan terkait hal ini, karena dampak tak kalah serius jika tidak tertangani dengan benar. Selain kebanjiran air limbah di lingkungan pesantren, menimbulkan bau tidak sedap dan juga menjijikkan, bisa berdampak ke lingkungan masyarakat sekitar.

Selokan pesantren alur alirannya juga harus kita atur dengan baik bagaimana memudahkan air lancar hingga ke pembuangan limbahnya. Ukuran selokan juga harus kita sesuaikan. Termasuk penampungan pembuangan limbah. Bahkan jika memungkinkan, kita bangun infrastruktur untuk pengolahan air limbah agar bisa kembali jernih dan bisa kita manfaatkan. Selanjutnya, pengecekan dan pola pembersihan selokan dan penampungan air limbah, juga harus kita buat penjadwalan scara berkala. Sehingga terus terkontrol dan jika ada yang tersumbat segera bisa tertangani.

Menyangkut penanganan air, juga termasuk untuk air hujan, perlu pengelolaan. Bagaimana jika turun hujan besar agar tidak sampai menimbulkan genangan, bahkan hingga kebanjiran di pesantren. Pembuangan air hujan harus terkelola, kita buat resapan-resapan untuk mempercepat air terserap ke tanah dan segera kering.

Perawatan Tanaman dan Tumbuhan

Ketiga, perawatan tanaman dan tumbuhan. Penting adanya tanaman dan tumbuhan d ipesantren karena akan membuat lingkungan pesantren sehat dan pasokan oksigen akan lancar. Air bersih tercukupi, karena akar pohon menampung air. Di samping itu hawa pesantren akan menjadi sejuk dan dari sisi pemandangan akan terlihat lebih indah. Itu jika tanaman dan tumbuhannya kita rawat dengan baik.

Namun banyaknya tanaman dan tumbuhan kalau tidak terawat, malah menambah permasalahan. Selain mati dan menimbulkan banyak sampah, jadi terlihat kotor, tidak terawat, menjadi sarang hewan berbahaya, dan batang pohon bisa tumbang sewaktu-waktu membahayakan keselamatan santri bisa tertimpa.

Pembiasaan kepedulian lingkungan di Pondok Pesantren Mahasina bagian dari implementasi konsep pendidikan terintegrasi dan sekaligus menjalankan Trilogi Santri, yaitu “Berilmu amaliyah, beramal ilmiyah, berakhlakul karimah.” Karena di Mahasina ilmu pengetahuan tidak terputus sampai hanya sekadar kita pahami dan mengerti. Namun juga desain untuk kita amalkan, biasakan, hingga menjadi karakter santri dalam kehidupan sehari-hari.

Di Mahasina para santri telah menghafal berbagai dalil-dalil tentang kepedulian lingkungan hidup, baik dari ayat-ayat Al Qur’an maupun hadits. Konsep pendidikan terintegrasi yang Mahasina usung, di antaranya adalah integrasi ilmu-amal-akhlak dalam kehidupan sehari-hari dan integrasi antara kemampuan teoritis dengan keterampilan praktis (life skill). Di samping santri menghafal dalil menyangkut kepedulian lingkungan, juga sekaligus mereka terbiasa mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana peduli terhadap lingkungan di pesantren. Dengan kebiasaan itu harapannya akan menjadi karakter santri. Hingga kemudian bisa tetap terus santri lakukan begitu lulus dari pesantren.

Pembiasaan Kepedulian Lingkungan di Mahasina

Pembiasaan itu pun dibuat menjadi sistem dan dilembagakan di Mahasina. Di samping  Kiai Abu Bakar Rahziz dan Ibu Nyai Badriyah Fayumi yang membimbing santri untuk program tersebut, diangkat seorang Ustadz/ah bagian khusus yang menangani kebersihan dan pertanaman (kepedulian lingkungan) untuk membimbing santri. Adapun di Organisasi Santri Mahasina (Orsam) sendiri, baik putra maupun putri, juga terdapat divisi bidang tersebut yang menjadi penanggungjawab program.

Terkait pembiasaan kepedulian lingkungan ini sebagaimana dikatakan Kiai Abu Bakar Rahziz dan Ibu Nyai Badriyah Fayumi dalam berbagai wawancara dengan media, akan terus dipertahankan. Bahkan Kiai Abu Bakar Rahziz mengatakan, jika Mahasina nanti sudah banyak pohon dan tanaman, selanjutnya akan menghijaukan lingkungan di sekitar pondok pesantren.

Nyai Badriyah Fayumi juga menyebut, jika menghijaukan lingkungan adalah wujud iman sekaligus wujud ukhuwah alamiyah atau persaudaraan manusia dengan semesta, karena sama-sama makhluk Allah yang harus saling menghidupi. Sesama subyek semesta yang saling menjaga. Karena manusia bukan subyek yang menjadikan alam sebagai obyek. Melainkan manusia dan alam adalah sama-sama subyek bagi bumi asri lestari. Itulah nilai-nilai yang terus diedukasikan kepada santri.

Tidak hanya sekadar menjadi edukasi, namun juga dibiasakan dalam mengamalkan dan diharapkan hingga menjadi karakter kepedulian santri terhadap lingkungan. Selanjutnya, begitu nanti santri lulus bisa menjadi agen-agen kepedulian terhadap lingkungan di manapun mereka berada. Baik di tempat mereka kuliah, bekerja, maupun tempat tinggal bersama masyarakat. []

Tags: Isu LingkunganKeadilan EkologiskiaiNyaiPesantren HijauPonpes MahasinaSantri
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pekerjaan Domestik Menjadi Tanggung Jawab Suami Istri

Next Post

Kisah Sahabat Perempuan Saat Dekat Dengan Nabi Muhammad Saw

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo adalah Asisten Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits, Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama-Pemimpin Berakhlakul Qur’ani Berwawasan Kebangsaan di Kota Bekasi.

Related Posts

Pesantren di Pesisir
Lingkungan

Pesantren di Pesisir dan Aktivitas Ekoteologinya

26 Juni 2026
Pesantren Putra
Publik

Runtuhnya Anggapan Misoginis dan Peran Pesantren Putra dalam Mencegah Kekerasan Seksual

25 Juni 2026
Sampah di Laci Kelas
Lingkungan

Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan

24 Juni 2026
Popok Bayi
Lingkungan

Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

23 Juni 2026
Kekerasan Seksual di Pesantren
Aktual

Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

11 Juni 2026
Manusia Merasa Cukup
Publik

Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

10 Juni 2026
Next Post
Sahabat Perempuan

Kisah Sahabat Perempuan Saat Dekat Dengan Nabi Muhammad Saw

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya
  • Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren
  • 3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi
  • Seni Memahami Kekasih: Antara Agus, Kalis, dan Kisah Cinta Ugal-ugalan yang Memberikan Banyak Pelajaran
  • Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0