Selasa, 20 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Lingkungan

    KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

    Korban Kekerasan Seksual

    Menggugat Argumen Victim Blaming terhadap Korban Kekerasan Seksual

    Kerusakan Alam

    Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

    Mukjizat dalam Islam

    Bagaimana Memahami Mukjizat dalam Islam Menurut Dilthey?

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan di Indonesia

    Feminine Energy

    Standarisasi Perempuan melalui Narasi Feminine Energy di Media Sosial

    Kerusakan Lingkungan

    PBB: Polusi Udara Perparah Krisis Lingkungan Global

    Manusia dan Alam

    Membangun Relasi Adil antara Manusia dan Alam

    Gap Usia dalam Relasi

    Ironi Gap Usia dalam Relasi Remaja dan Pria Dewasa: Romansa atau Ketimpangan Kuasa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Lingkungan

    KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

    Korban Kekerasan Seksual

    Menggugat Argumen Victim Blaming terhadap Korban Kekerasan Seksual

    Kerusakan Alam

    Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

    Mukjizat dalam Islam

    Bagaimana Memahami Mukjizat dalam Islam Menurut Dilthey?

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan di Indonesia

    Feminine Energy

    Standarisasi Perempuan melalui Narasi Feminine Energy di Media Sosial

    Kerusakan Lingkungan

    PBB: Polusi Udara Perparah Krisis Lingkungan Global

    Manusia dan Alam

    Membangun Relasi Adil antara Manusia dan Alam

    Gap Usia dalam Relasi

    Ironi Gap Usia dalam Relasi Remaja dan Pria Dewasa: Romansa atau Ketimpangan Kuasa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Ketika Tiada Belasungkawa di Palestina, Di Mana Keadilan Hakiki?

Di tanah ini, tak ada ritual duka dan belasungkawa. Dalam hiruk-pikuk penjajahan dan penderitaan, kesedihan tak sempat terselenggara secara khidmat

Moh Soleh Shofier Moh Soleh Shofier
12 November 2024
in Publik, Rekomendasi
0
Belasungkawa

Belasungkawa

1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah. Id – Kadang saya bertanya dimanakah keadilan hakiki untuk rakyat Palestina, yang hak untuk berkabung dan berbelasungkawa pun hilang. Bagaimana tidak, tiap hari mereka kehilangan, bahkan hitungan detik.

Vidio tersebar menampilkan seorang anak 13 tahun tergeletak tak berdaya. Luka menahannya dari tanah yang masih menyembulkan asap api lantaran ledakan bom. Dengan nafas tersengal, ia berusaha menadahkan tangan memohon pertolongan. Di tepi, orang-orang lari berbondong-bondong guna membantu, namun tiba-tiba, dum.. – bom Israel kembali meletus menggelegar. Dalam sekejap mata, bumi menghamburkan tubuh manusia.

Inilah kenyataan yang menghadapi orang-orang Palestina: Gaza utara. Kepedihan bukan lagi perasaan; tapi kenyataan yang berulang dan berlanjut, sebuah siklus yang hadir setiap sudut hidup. Sepersekian detik, kematian menantinya.

Di tanah ini, tak ada ritual duka dan belasungkawa. Dalam hiruk-pikuk penjajahan dan penderitaan, kesedihan tak sempat terselenggara secara khidmat. Wael Al-Dahdouh, kepala biro Al Jazeera di Gaza, adalah bukti hidup dari kehilangan dan ketidakmampuan untuk memulai proses berkabung.

Di tengah tragedi pribadi yang berat—kehilangan istri, putranya Mahmoud, putrinya Sham, cucunya Adam, dan anggota keluarga lainnya sekitar 20 orang — Al-Dahdouh tetap melanjutkan tugas jurnalistiknya, dengan teguh hadir menyuarakan penderitaan Gaza.

Bukan mereka tidak sedih kehilangan keluarga dan kerabat. Tapi kehilangan yang terus-menerus ini mengoyak waktu untuk berkabung. Menjadi sesuatu yang mustahil tercapai di tengah duka yang bertubi-tubi. Dan lagi, berduka dan berbelasungkawa mengisyaratkan kehinaan di tengah koloni-penjajah Israel.

Oleh karenanya, mereka hanya menangis tanpa suara depan mendiang dan berteriak lantang depan penjajah sebagai perlawanan. Sebagaimana ilustrasi ibu di Palestina dalam Novel “Gaza Weddings”  karya Nasrallah yang Abdal Jawad Omar kutip dalam artikel panjang “Bisakah Palestina Berkabung”.

Imam Syafi’i: Berbelasungkawa Sebagai Simbol Pencarian Keadialan Hakiki

Muhammad bin Idris, yang kita kenal Imam Al-Syafi’i seakan membaca situasi mengerikan hari ini di tanah kelahirannya, Gaza. Di mana tangisan dan belasungkawa kolektif adalah simbol kekalahan warga Gaza dari penjahat Israel yang menyangkal identitas-eksistensial mereka.

Ulama kelahiran Gaza tahun 150 H memberi nama karya dalam bidang hukum Islam: “Al-Um”, yang boleh jadi merujuk pada ibu kandung yang melahirkan di Gaza, sekaligus tanah Gaza itu sendiri sebagai tempat kelahirannya.

Dalam kitabnya, Muhammad bin Idris menguraikan bahwa kehilangan adalah keniscayaan yang membawa situasi berduka. Sehingga, belasungkawa atau takziah menjadi penyangga agar manusia mengembalikannya pada Sang Pencipta.

لَكِنْ يُعَزَّى بِمَا أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الصَّبْرِ، وَالِاسْتِرْجَاعِ،

“Namun, mereka seharusnya diberi hak berbelasungkawa dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah, yaitu kesabaran dan mengucapkan ‘Inna Lillahi wa Inna Ilayhi Raji’un’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali).”

Artinya, berbelasungkawa bukan saja mengumbar kesedihan tetapi proses pencarian dan penguluran  keadilan hakiki si korban melalui tangan-tangan yang diberi amanat Tuhan. Tentu pemegang kunci keadilan hakiki yang sejati adalah Tuhan. Tetapi, Israel rupanya menyangkal pula hak rakyat Palestina mencari keadilan hakiki, bahkan memaksa rakyat Palestina “mengkhianati” kesedihannya menjadi “sukacita” dengan kematian.

 “Jika kami hidup hingga melihat kebebasan, akan kuingat kamu bahwa kami akan menangis jauh setelah pembebasan tiba! Kami akan berduka untuk mereka yang di pemakamannya kami terpaksa bersuka cita.”

Seolah menyadari situasi ini Imam Syafi’i tampak memberikan arahan kepada masyarakatnya di Gaza sejak masa lampau. Bahwa upacara “berkabung atau berduka” di muka publik memiliki konsekuensi negatif — dalam situasi sekarang yang mana Gaza dalam cengkeraman penjajah Israel. Kehilangan tanpa henti, menambah beban subjektivitas melankolis yang menghambat perjuangan. Beliau berpesan.

“Saya juga tidak suka pertemuan berkabung, karena itu adalah acara yang bersifat kolektif. Meskipun mereka tidak menangis. Karena pertemuan tersebut akan memperbaharui kesedihan dan menambah beban bersama dengan kesedihan yang sudah ada.” Tegas Imam Syafi’i.

Keadilan Hakiki untuk Rakyat Palestina

Tapi Imam Syafi’i sadar, siapa yang tak sedih kehilangan? Linangan air mata Nabi Muhammad tak mampu terbendung ketika kehilangan anaknya, Ibrahim. Sebelumnya, tahun menjadi pertanda kemurungan setelah paman Abu Thalib meninggalkannya.

Di tahun yang sama, Khadijah, istri terkasihnya, turut meninggalkan. Pun sahabat Abu Bakar dan Umar tersedu-sedu, ketika menyaksikan sahabatnya Sa’d bin Mu’ad, meninggal dunia (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 3/488).

Bersedih dan melakukan ritual belasungkawa adalah tabiat manusia guna mencari keadilan hakiki. Ibu Nur Rofi’ah, merumuskan konsep keadilan hakiki dalam rumah tangga; relasi antar lelaki dan perempuan. Namun bisakah konsep itu membaca nasib rakyat Palestina yang sekarang semakin jarang orang memperhatikannya?

Menurut Ibu Nur Rofi’ah, dalam pendekatan keadilan hakiki, kebaikan yang harus diterima perempuan adalah yang berangkat dari pengalamannya yang khas dan bisa berbeda dari pengalaman laki-laki. Sebagai subyek yang setara dan manusia utuh, laki-laki dan perempuan berhak atas segala kebaikan, kemaslahatan, dan kesejahteraan.

Dalam konteks rakyat Palestina, keadilan hakiki versi Ibu Nur Rofi’ah hendak mengatakan bahwa rakyat Palestina harusnya mendapat kebaikan berangkat dari pengalaman Palestina yang terjajah. Situasi lingkungan yang tak karuan lantaran ledakan mortir Israel, kelaparan dan ketakutan setiap saat menjadi pengalaman pembeda untuk mendapat keadilan hakiki.

Rakyat Palestina sebagai entitas manusia yang utuh, sebagai subyek yang setara untuk mendapatkan kebaikan, kemaslahatan, dan kesejahteraan. Tapi sayang, keadilan hakiki yang mestinya rakyat Palestina rasakan, masih dalam genggaman Tuhan. Bahkan, hak berkabung dan belasungkawa belum kunjung mereka rasakan.

Menangislah Tapi Jangan Meratapi

Tak pelak kondisi demikian membawa kesedihan mendalam bahkan dalam titik “melankolis” yang harusnya kita maklumi karena mereka hendak menyuarakan keadilan hakikinya, bukan semata-mata meratapi kematian yang merupakan keniscayaan manusia.

Imam Syafi’i menegaskan bahwa dirinya memaklumi bilamana tangisan ikut menyertai kematian sanak-saudara, apa lagi kematiannya tak manusiawi dalam ledakan bom dan kobaran api yang Israel luncurkan.

وَأُرَخِّصُ فِي الْبُكَاءِ بِلَا أَنْ يَتَأَثَّرَ، وَلَا أَنْ يَعُلْنَ إلَّا خَبَرًا

“Saya memaklumi menangis, tetapi jangan berlebihan atau mempengaruhi emosional, dan tidak berteriak kecuali untuk menyampaikan berita.”

Dalam kesedihan secara kolektif seperti di Gaza sangatlah penting adanya belasungkawa, takziah. Guna mengembalikan “mental melankolis” pada situasi yang normal. Tapi hari ini Israel merampasnya, Entah sampai kapan.

Maka pilihannya, orang-orang Gaza menunda penyelenggaraan “duka dan belasungkawa” sampai semuanya memungkinkan sebagaimana kutipan ibu dalam novel, Gaza Wedding. Tanpa kebetulan, Muhammad Idris menetapkan tanpa batas waktu berbelasungkawa. Baginya, bila rakyat Gaza tak bisa berduka dan belasungkawa sekarang, maka kapanpun ia bisa lakukan.

Imam Syafi’i mengatakan, “Dan belasungkawa dimulai sejak saat kematian, baik di rumah, masjid, dan jalan menuju kuburan, serta setelah penguburan. Dan kapan pun seseorang melakukan takziah, itu adalah hal yang baik.”

Hari ini, Palestina tak bisa berduka dan belasungkawa. Karena Israel merampas waktunya. Ditambah kehilangan yang bertubi-tubi menyeret mereka dalam situasi melankolis, tapi bila sudah sampai waktunya, mereka akan menunaikan “duka dan belasungkawa” yang boleh jadi akan menggemparkan dunia untuk mendapatkan keadilan hakikinya. []

 

 

 

 

Tags: BelasungkawaGazaIsraelKeadilan HakikikemanusiaanPalestinaPerang Dunia
Moh Soleh Shofier

Moh Soleh Shofier

Dari Sampang Madura

Terkait Posts

Kerusakan Alam
Publik

Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

19 Januari 2026
Isra' Mi'raj
Hikmah

Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

18 Januari 2026
Kesehatan Mental
Personal

Pentingnya Circle of Trust dan Kesehatan Mental Aktivis Kemanusiaan

8 Januari 2026
Islam dan Kemanusiaan
Publik

Islam dan Fondasi Kemanusiaan Universal

7 Januari 2026
Keistimewaan KUPI
Personal

Keistimewaan KUPI: Ketika Semua Manusia Didudukkan Setara di Hadapan-Nya

6 Januari 2026
Pancasila di Kota Salatiga
Publik

Melihat Pancasila di Kota Salatiga

31 Desember 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Standarisasi Perempuan melalui Narasi Feminine Energy di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buku Anak: Kritik Ekologis dari Kisah Anak Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ironi Gap Usia dalam Relasi Remaja dan Pria Dewasa: Romansa atau Ketimpangan Kuasa?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membangun Relasi Adil antara Manusia dan Alam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam
  • Menggugat Argumen Victim Blaming terhadap Korban Kekerasan Seksual
  • Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan
  • Bagaimana Memahami Mukjizat dalam Islam Menurut Dilthey?
  • Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID