Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Menilik Relasi Al-Qur’an dengan Noble Silence Pada Ayat-ayat Shirah Nabawiyah (Part 2)

Al-Qur'an menjelaskan bahwa keheningan mulia atau konsep noble silence banyak dikaitkan dengan perjalanan spiritual para utusan Allah.

Layyin Lala by Layyin Lala
26 Mei 2025
in Personal
A A
0
Noble Silence

Noble Silence

22
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Konsep noble silence sebetulnya telah dijelaskan di Al-Qur’an secara implisit melalui kisah para Nabi dan Rasul. Dalam tulisan sebelumnya, saya telah menuliskan refleksi atas shirah nabawiyah pada Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, dan Nabi Yunus AS.

Tentu sebenarnya, Al-Qur’an menyimpan lebih banyak kisah mengenai noble silence. Dan menurut saya, seluruh Nabi dan Rasul pasti melalui keheningan mulia dalam hidupnya.

Keheningan mulia atau konsep noble silence banyak dikaitkan dengan perjalanan spiritual para utusan Allah. Sehingga, sebagai sesama manusia tentunya noble silence dapat kita lakukan merujuk pada apa yang Nabi dan Rasul Allah lakukan.

Nabi Musa A.S: Noble Silence di Gunung Sinai

Dalam surah Al-A’raf ayat 143, Al-Qur’an menjelaskan mengenai kisah Nabi Musa A.S yang menerima wahyu untuk pertama kalinya di gunung Sinai. Ayat tersebut berbunyi:

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”

Asbabun nuzul ayat tersebut menceritakan bagaimana Nabi Musa A.S menerima wahyu untuk pertama kalinya. Nabi Musa A.S memiliki kehormatan berbicara langsung dengan Allah, ia ingin mendapatkan kehormatan lebih besar yaitu melihat Allah secara langsung. Namun Allah menjelaskan bahwa manusia, termasuk Musa, tidak akan sanggup melihat-Nya karena keagungan-Nya terlalu luar biasa.

Sebagai bukti, Allah menampakkan diri-Nya kepada sebuah gunung, dan gunung itu hancur karena tidak kuat menahan keagungan tersebut. Setelah melihat hal itu dan sadar atas permintaannya yang melebihi batas, Nabi Musa AS pun bertaubat dan menyatakan bahwa ia adalah orang pertama dari kaumnya yang beriman kepada Allah.

Saya berefleksi bagaimana kemudian ayat tersebut menjelaskan noble silence secara tidak langsung. Nabi Musa A.S berada pada gunung Sinai seorang diri. Saat berbincang dengan Allah, tentu saat itulah noble silence sedang terjadi.

Selama 40 hari 40 malam, Nabi Musa AS berada di atas gunung untuk menerima wahyu dari Allah. Selama waktu itu, beliau berpuasa dan bermunajat kepada Allah. Melalui kesunyian dan kesendirian itulah, terjadi hubungan yang sangat dalam antara Nabi Musa A.S dan Allah. 

Nabi Zakaria A.S: Noble Silence Sebagai Mu’jizat

Begitu takjub ketika saya menyadari bahwa salah satu bentuk mu’jizat Nabi Zakaria A.S ialah tidak berbicara selama tiga hari. Jika pada kisah nabi-nabi sebelumnya, noble silence terkisahkan secara implisit. Maka, pada shirah nabawiyah Nabi Zakariya, justru noble silence dijelaskan secara eksplist dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 41, yang berbunyi:

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةًۗ قَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًاۗ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِࣖ

Artinya: Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda (kehamilan istriku).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu adalah engkau tidak (dapat) berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah pada waktu petang dan pagi hari.”

Dalam tafsir tahlili, ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Zakaria A.S bertanya kepada Allah karena ia sangat gembira dan ingin segera merasakan kebahagiaan atas kabar akan memiliki anak, bahkan sebelum anak itu lahir.

Lalu Allah memberi tanda bahwa istrinya benar-benar hamil, yaitu Nabi Zakaria A.S tidak bisa berbicara dengan orang lain selama tiga hari, kecuali dengan menggunakan isyarat seperti tangan atau gerakan kepala. Selama waktu itu, Allah memintanya untuk memperbanyak zikir dan tasbih (mengingat dan memuji Allah). Hal ini sebagai bentuk syukur yang sungguh-sungguh atas nikmat besar yang Allah berikan kepadanya.

Dari shirah tersebut dapat kita ambil hikmah, bahwa Allah meminta Nabi Zakaria A.S untuk melakukan noble silence dengan memperbanyak dzikir dan tasbih. Hal itu semua sebagai bagian dari rasa syukur. Sebagai manusia biasa, kita juga dapat meneladani kisah beliau dengan cara melakukan hal yang sama. Yaitu, tidak banyak berbicara serta memperbanyak dzikir dan tasbih sebagai bentuk syukur kita atas sgela nikmat di dunia ini.

Rasulullah Muhammad SAW: Gua Hira Sebagai Saksi Noble Silence

Ketika kita membicarakan mengenai kisah hidup Rasulullah SAW, sebetulnya kita tidak asing dengan kisah beliau di Gua Hira. Gua Hira adalah tempat Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah yang pertama kalinya melalui malaikat Jibril. Peristiwa turunnya ayat-ayat yang diwahyukan pertama kali kepada Nabi Muhammad disebutkan di beberapa hadits sahih, di antaranya al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad.

Sejak muda, Nabi Muhammad sudah terbiasa merenung dan berpikir mendalam. Beliau sering memikirkan apa itu kebenaran dan juga keadaan masyarakat di sekitarnya. Untuk itu, beliau lebih suka menyendiri di tempat yang tenang dan jauh dari keramaian.

Setiap bulan Ramadan, Nabi Muhammad biasa pergi ke Gua Hira. Di sana, beliau berdiam diri hanya dengan membawa bekal secukupnya. Selama di gua, beliau beribadah dan merenung, menjauh dari kesibukan dunia dan suara orang-orang. Tujuan beliau untuk mencari kebenaran. 

Kebiasaan tersebut terus beliau lakukan, sampai pada suatu hari terjadi peristiwa besar. Tiba-tiba datang malaikat yang membawa wahyu dari Allah. Malaikat itu berkata, “Bacalah!” Nabi Muhammad menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Malaikat kemudian memeluk dan mengguncang Nabi hingga beliau merasa sangat lelah.

Hal ini terjadi tiga kali. Setelah itu, Nabi bisa mengikuti ucapan malaikat, yaitu ayat pertama dari surat Al-‘Alaq. Pada tanggal 17 Ramadhan tersebut, Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu yaitu surah Al-Alaq ayat 1-5.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Berdasarkan shirah tersebut, Rasulullah selalu istiqomah dalam menerapkan noble silence. Kesediaan beliau untuk menyepi dari dunia yang ramai mengajarkan kita bahwa ketenangan sering lahir dari kesendirian yang berkualitas. Dalam noble silence, Rasulullah selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah. 

Refleksi atas Noble Silence dalam Al-Qur’an

Kita hidup di zaman yang penuh kebisingan informasi. Kadang, kita juga terlalu sibuk bicara, menyimpulkan, dan terlalu reaktif terhadap keadaan. Padahal, belajar dari Rasulullah, ada saatnya kita perlu menarik diri sejenak, mengosongkan pikiran dari hiruk pikuk dunia. Kemudian kita dapat bertanya pada diri sendiri: Apa yang benar?

Apa yang Allah kehendaki dari hidup ini? Saya berefleksi bahwa noble silence adalah ruang untuk membangun koneksi yang jernih dengan diri sendiri dan dengan Allah. Kalam Allah memberikan pengajaran kepada kita bahwa dengan memperbanyak mengingat Allah dalam keheningan akan mendekatkan kita kepada Sang Khaliq. Wallahu a’lam bishshawab. []

 

Tags: islamKeheninganNoble SilencesejarahSirah NabawiyahSunah Nabi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Membangun Keluarga Sakinah: Telaah Buku Saku Keluarga Berkah

Next Post

4 Strategi Wujudkan Haji Ramah Lansia

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Syarifah Baghdad
Figur

Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara

20 Juli 2026
Kepemimpinan Abu Bakar
Hikmah

Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

15 Juli 2026
Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Lini Masa
Buku

Agama, Peristiwa Lini Masa, dan Bagaimana Sikap Kita?

7 Juli 2026
Kepemimpinan Perempuan
Publik

Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

7 Juli 2026
Lirik Lagu
Personal

Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

7 Juli 2026
Next Post
Haji Lansia

4 Strategi Wujudkan Haji Ramah Lansia

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0