Mubadalah.id – Di rumah sudah ada cukup makanan untuk disantap ketika berbuka puasa. Kunjungan saya ke pasar takjil dekat rumah untuk sekedar “ngelarisi” tetangga dan teman-teman SD saya yang berjualan. Tak banyak uang yang kubelanjakan, tapi cukuplah dapat menyenangkan para penyedia takjil. Ramadan ini, aku mulai menggalakkan Mindful Ramadan. Sebuah konsep menjalankan Ibadah puasa dengan berkesadaran.
Mindful Ramadan
Salah satu tujuan puasa Ramadan adalah membentuk manusia yang lebih sadar, lebih peka, dan lebih dekat dengan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 2:183)
Ramadan yang kita jalani dengan kesadaran mengajak seseorang menjalani bulan suci dengan perhatian penuh. Ramadan menjadi waktu untuk memperbaiki diri dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Ibadah selama Ramadan diarahkan untuk membentuk kebiasaan baik yang terus berlanjut setelah bulan suci berakhir. Ramadan juga menjadi kesempatan untuk memikirkan kembali nilai hidup dan mengarahkan tindakan menuju perubahan diri yang lebih baik.
Ramadan yang kita jalani dengan kesadaran juga berkaitan dengan sikap hadir sepenuhnya dalam setiap ibadah serta dilandasi nilai ihsan. Ihsan berarti beribadah kepada Allah dengan kesungguhan hati seolah melihat-Nya.
Puasa sebagai kewajiban utama dalam Ramadan mengajarkan pengendalian diri dari makan, minum, dan berbagai keinginan. Latihan pengendalian diri tersebut membentuk kepekaan batin dan memperkuat kedekatan dengan Allah. Seseorang menahan diri sepanjang hari meskipun berada dalam keadaan sendirian karena keyakinan bahwa Allah selalu mengetahui setiap perbuatan.
Kesadaran akan kehadiran Allah menjadi dasar dalam menjalani Ramadan dengan penuh makna. Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis bahwa Allah berfirman
الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang memberikan balasannya.” (HR. Bukhari)
Para ulama hadis menjelaskan bahwa balasan tersebut sangat istimewa karena berasal langsung dari Allah. Puasa yang dijalani dengan kesadaran mendalam mengantarkan seseorang pada kedekatan dengan Allah dan memperoleh keridaan-Nya.
Sahur dan Berbuka dengan Berkesadaran
Salah satu bentuk kesadaran dalam bulan Ramadan ialah mengatur konsumsi untuk sahur dan berbuka. Maksudnya, ketika sahur dan berbuka kita sadar dengan apa yang kita konsumsi, sadar dengan apa dampaknya jika kita tidak menghabiskan makanan, sadar dengan seberapa banyak sampah yang kita hasilkan saat mengonsumsi suatu makanan. Maka, akan lebih baik, mencukupkan makanan sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Mungkin, diantara kita pernah melakukan impulsive buying saat di pasar akjil. Karena hampir 14-15 jam menahan lapar dan dahaga, jadi kita ingin mengonsumsi lebih banyak makanan sebagai “balas dendam.” Padahal, hal tersebut hanya meningkatkan FOMO, meningkatkan sampah makanan, dan bisa berpotensi membuang makanan jika tidak habis. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk dapat melakukan kesadaran dalam mengonsumsi makanan selama bulan Ramadan.
Ramadan adalah bulan yang suci bagi ummat Islam, sudah seharusnya kita menjaga kesucian bulan ini dengan tidak meningkatkan banyak produksi sampah kemasan makanan dan sampah makanan itu sendiri. Konsep Ramadan adalah konsep untuk hidup berkesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan.
Beribadah dengan berkesadaran
Rasulullah SAW menunjukkan perhatian dan kedekatan kepada Allah SWT dengan sangat mendalam selama Ramadan. Amal ibadah beliau pada bulan tersebut berlangsung dengan kualitas dan jumlah yang sangat tinggi. Hubungan beliau dengan Allah, keluarga, dan para sahabat selalu disertai hati yang lembut dan penuh kebaikan. Ramadan menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk hadir di hadapan Allah dengan pribadi terbaik. Dalam ajaran Islam, perhatian Allah tertuju terutama kepada hati dan amal manusia.
Rasulullah SAW bersabda
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ
وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian. Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim 2564)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa keindahan hati memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Hati yang baik melahirkan perilaku yang baik pula. Proses memperindah hati dapat kita pelajari melalui teladan Rasulullah SAW.
Aisyah RA pernah menggambarkan akhlak Rasulullah SAW dengan kalimat
فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ
“Akhlak Nabi Allah adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim 746)
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Rasulullah SAW berjalan selaras dengan ajaran Al-Qur’an. Setiap sikap dan perilaku beliau mencerminkan nilai yang terdapat dalam kitab suci.
HEART Framework
Berdasarkan teladan tersebut, terdapat sebuah framework Ramadan yang dapat kita kenal dengan model HEART. Kerangka tersebut berangkat dari kesadaran akan kehadiran Allah dan bertujuan membentuk sifat utama yang tampak dalam diri Rasulullah SAW. Makna HEART dapat kita pahami sebagai berikut.
H – Heal in His Presence (Mindfulness), berarti hadir bersama Allah. Seseorang menjaga kesadaran spiritual melalui zikir, doa, dan ibadah yang dilakukan dengan penuh perhatian.
E – Engage with Purpose (Purpose), berarti menjalani hidup dengan tujuan. Setiap amal dilakukan dengan niat yang baik dan arah hidup yang jelas.
A – Achieve with Gratitude (Gratitude), berarti rasa syukur. Seseorang mengingat nikmat Allah serta menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.
R – Rise with Patience and Humility (Emotional Regulation), berarti kesabaran dan kerendahan hati. Sikap tenang, pengendalian emosi, serta kelembutan kepada orang lain menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari hari.
T – Thrive with Compassion (Compassion and Service), berarti kasih sayang dan pelayanan kepada sesama. Seorang Muslim berusaha memberi manfaat, membantu orang lain, serta menumbuhkan kepedulian sosial.
Ramadan dapat kita jalani melalui niat yang jelas. Niat tersebut membantu seseorang menentukan perubahan diri yang ingin ia capai setelah bulan yang mulia ini. Sifat seperti kesadaran kepada Allah, tujuan hidup yang baik, rasa syukur, kesabaran, kerendahan hati, serta kasih sayang dapat menjadi fokus latihan selama bulan suci.











































