Jumat, 10 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Koruptor

    Mengapa Koruptor Lebih Mudah Dimaafkan daripada Pencuri Singkong?

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Koruptor

    Mengapa Koruptor Lebih Mudah Dimaafkan daripada Pencuri Singkong?

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Nyai Hj. Noor Chodijah, Penggerak Pendidikan dan Jalan Sunyi Emansipasi Perempuan Pesantren

Ada satu sisi dari Bu Nyai Hj. Noor Chodijah yang sangat jarang muncul dalam diskursus emansipasi perempuan hari ini, yakni nilai spiritualitas

Nuril Qomariyah by Nuril Qomariyah
9 Mei 2026
in Figur
A A
0
Nyai Hj. Noor Chodijah

Nyai Hj. Noor Chodijah

24
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Selama ini yang sering kita dengar emansipasi perempuan di Indonesia adalah yang bergerak di sekitar isu-isu besar, sekolah modern, atau gerakan perempuan di ruang-ruang terbuka. Padahal, pada awal abad ke-20, di daerah Denanyar, Jombang, seorang perempuan pesantren bernama Bu Nyai Hj Noor Chodijah tengah menapaki jalan perubahan yang berbeda.

Dari tangannya, emansipasi tidak hadir sebagai perlawanan,  tetapi sebagai ketekunan mendidik, keberanian membuka akses belajar bagi perempuan, dan keyakinan bahwa perempuan juga berhak tumbuh menjadi manusia yang utuh secara intelektual, sosial, maupun spiritual.

Saya menemukan kesan itu ketika mengikuti webinar Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan (BuKUP) 2026. Di tengah narasi besar tentang ulama perempuan Nusantara, nama Bu Nyai Hj. Noor Chodijah muncul bukan sekadar sebagai pendamping Kiai Bisri Syansuri atau bagian dari trah besar pesantren. Ia hadir sebagai penggerak perubahan sosial yang bekerja melalui pendidikan, spiritualitas, dan penguatan perempuan akar rumput.

Perempuan Tidak Hanya “Boleh Belajar”, Tetapi Harus Percaya Diri Membawa Ilmu

Salah satu pesan yang paling membekas yang Ning Layyinah sampaikan pada webinar Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan (BuKUP) 2026 Jum’at, 8 Mei 2026, adalah pesan sederhana Bu Nyai Hj.Noor Chodijah kepada para santrinya:

“Santri perempuan tidak boleh minder. Harus percaya diri membawa ilmu di masyarakat”

Pada konteks awal abad ke-20, pesan tersebut sangatlah revolusioner. Dan mungkin, justru karena kerja-kerja itu tumbuh melalui jalan domestik, pesantren, dan spiritualitas, sejarah modern sering gagal membacanya sebagai bentuk emansipasi.

Padahal, pada tahun 1919 agapan bagi sebagian besar perempuan pribumi belum perlu belajar, Bu Nyai Hj. Noor Chodijah justru membuka ruang belajar bagi santri putri di Denanyar. Ini bukan perkara sederhana. Pesantren saat itu sangat maskulin. Pengetahuan agama nyaris dimonopoli laki-laki. Anggapan perempuan cukup belajar seperlunya untuk menjadi istri yang baik masih sangat melekat.

Tetapi Bu Nyai Hj.Noor Chodijah memandang perempuan secara berbeda. Beliau percaya perempuan bukan hanya layak belajar, tetapi juga layak memiliki otoritas pengetahuan. Karena itu, pendidikan yang beliau bangun bukan sekadar membuat perempuan “pandai”, akan tetapi membentuk keberanian sosial perempuan. Para santri perempuan didorong mengajar masyarakat setiap hari Jumat. Ilmu tidak boleh berhenti di pesantren. Perempuan harus hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa manfaat.

Di titik inilah saya merasa Beliau telah melampaui gagasan pendidikan yang formalistik. Pendidikan baginya bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan keberanian hidup. Selain itu menjadi bermanfaat bagi kemashlahatan ummat dan masyarakat

Pesantren Sebagai Ruang Aman Perempuan

Yang menarik, santri Bu Nyai Hj Noor Chodijah tidak hanya berasal dari kalangan santri reguler. Dalam webinar tersebut, Ning Layyinah sebagai penutur menyebutkan bahwa beliau juga memiliki dua kategori santri lainnya. Yakni perempuan-perempuan rentan, ibu tunggal atau perempuan kepala keluarga yang mengalami permasalahan rumah tangga, hingga calon pengantin.

Saya membayangkan Denanyar pada masa itu bukan hanya tempat belajar kitab, tetapi juga ruang aman bagi perempuan. Hal ini terasa sangat maju untuk ukuran zamannya. Di tengah masyarakat yang sering menghakimi perempuan dari status sosialnya, pesantren putri saat itu justru hadir sebagai tempat pemulihan. Perempuan diterima bukan berdasarkan kesempurnaan hidupnya, tetapi berdasarkan kebutuhan mereka untuk bertumbuh.

Pendekatan beliau juga sangat personal. Ketelatenan mendampingi santri, kedekatan emosional, dan keteladanan hidup menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Barangkali inilah yang membuat pendidikan pesantren pada masa itu tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan batin. Sehingga ruang aman yang dibangun di pesantren membuat para santri fokus untuk mengasah spiritual dan memperdalam ilmu pengetahuan.

Mujahadah dan Tirakat: Ruang Bertumbuh Spiritual Perempuan

Ada satu sisi dari Bu Nyai Hj. Noor Chodijah yang menurut saya sangat jarang muncul dalam diskursus emansipasi perempuan hari ini, yakni nilai spiritualitas. Padahal, justru di situlah kekuatan utamanya. Bagi Beliau, pendidikan tidak berdiri tanpa mujahadah dan tirakat.

Seluruh santrinya membiasakan diri dengan wirid Al-Qur’an, Burdah, Diba’, selawat, puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh, hingga salat hajat, dan selawat munjiyat. Di mata masyarakat modern, melihat praktik-praktik seperti ini sekadar ritual personal. Tetapi di lingkungan pesantren, tirakat sesungguhnya adalah proses pembentukan diri.

Saya rasa ada hal yang penting di sini. Mendidik perempuan tidak hanya untuk kuat secara sosial, tetapi juga menguatkan batinnya. Kalau di era sekarang kita dekat dengan isu-isu mental health, membangun pendekatan spiritualitas oleh beliau kala itu menjadi bagian untuk memperkuat mental dan spiritual perempuan.

Dan memang tidak semua pengalaman spiritual bisa mendapatkan penjelasan secara akademik atau rasional. Namun dampaknya sering sangat nyata. Hati yang lebih kokoh, kesabaran yang lebih panjang, dan kemampuan bertahan menghadapi hidup dengan lebih kuat.

Di era modern saat ini yang penuh kecemasan dan kelelahan sosial, warisan spiritual Bu Nyai Hj. Noor Chodijah terasa justru semakin relevan. Beliau seperti ingin mengatakan bahwa perempuan membutuhkan ruang hening untuk bertumbuh, bukan hanya ruang publik untuk diakui. Perempuan membutuhkan ruang untuk menyelami dirinya sendiri dengan memperkuat mujahadah dan tirakat. Namun dampaknya sangat luas baik bagi pasangan, keturunan, dan masyarakat di sekitarnya.

Melahirkan Emansipasi dari Dalam Tradisi

Selama ini memahami emansipasi sering kali hanya sebagai gerakan keluar dari tradisi. Padahal Bu Nyai Hj.Noor Chodijah menunjukkan hal yang berbeda. Beliau memperjuangkan perempuan justru bertumbuh dari tradisi pesantren. Beliau tetap menjaga spiritualitas, tetap berpijak pada nilai-nilai Islam, tetapi sekaligus membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi perempuan.

Inilah yang membuat perjuanganya terasa unik sekaligus penting. Beliau tidak membangun perempuan yang tercerabut dari akar budaya dan agamanya. Sebaliknya, beliau membentuk perempuan yang berilmu, percaya diri, kuat secara spiritual, dan bermanfaat secara sosial. Mungkin karena itulah Gus Mus pernah menyebut jasa beliau tidak kalah besar dengan RA Kartini.

Jika Kartini membuka jalan pendidikan perempuan melalui sekolah modern, maka Bu Nyai Hj. Noor Chodijah membuka jalan emansipasi melalui pesantren yang secara tidak langsung wajah pesantren cenderung patriarki pada saat itu.  Dan jalan itu ternyata melahirkan warisan yang sangat panjang. Tradisi ulama perempuan pesantren, madrasah putri, pengajian perempuan, hingga lahirnya banyak tokoh perempuan NU hingga hari ini.

Jalan Sunyi yang Masih Menyala Hingga Hari Ini

Ada ironi dalam sejarah perempuan Indonesia. Banyak perempuan besar bekerja sangat kuat, tetapi namanya tidak banyak terdokumentasikan. Bu Nyai Hj. Noor Chodijah adalah salah satunya. Beliau tidak dikenal karena pidato-pidato politik atau tulisan besar di media. Tetapi pengaruhnya hidup melalui santri-santri perempuan, melalui tradisi pesantren putri, melalui nilai-nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di bulan kebangkitan ulama perempuan ini, saya rasa penting untuk membaca ulang sosok seperti Bu Nyai Hj. Noor Chodijah. Sebab beliau mengajarkan bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar.

Kadang perubahan justru tumbuh dari jalan yang sunyi:
dari perempuan yang tekun mengajar,
dari doa-doa panjang setelah salat malam,
dari tirakat yang tidak terlihat,
dari kekuatan untuk bertahan
dan dari keyakinan bahwa perempuan juga berhak menjadi sumber ilmu serta cahaya bagi pasangan, keturunan, dan masyarakat.

Dan mungkin, dari jalan sunyi itulah peradaban bertahan hingga hari ini.
Selamat Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan, karyamu abadi. []

Tags: BuKUPDenanyaremansipasiJombangNyai Hj. Noor ChodijahpendidikanPerempuan Ulamapesantrenulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Bayi Meninggal Saat Lahir: Perawatan Ibu yang Berduka dan Pencegahan Infeksi Payudara

Next Post

Membaca Ulang Pemikiran KH. Ali Yafie tentang Fikih Sosial, Perempuan, dan Kemanusiaan

Nuril Qomariyah

Nuril Qomariyah

Alumni WWC Mubadalah 2019. Saat ini beraktifitas di bidang Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak di Kabupaten Bondowoso. Menulis untuk kebermanfaatan dan keabadian

Related Posts

Pendidikan Perempuan
Publik

Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

8 Juli 2026
Kurikulum Responsif Gender
Publik

Pendidikan Berkeadilan Dimulai dari Kurikulum yang Responsif Gender

8 Juli 2026
Mencegah Kekerasan Seksual
Personal

Kenapa Sanksi Saja Tidak Cukup Untuk Mencegah Kekerasan Seksual di Pesantren?

7 Juli 2026
Pesantren Putra
Publik

Runtuhnya Anggapan Misoginis dan Peran Pesantren Putra dalam Mencegah Kekerasan Seksual

25 Juni 2026
Pesantren
Publik

Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Ikhtiar Membangun Ruang Aman di Pesantren

23 Juni 2026
Pesantren Ekologi Ath Thaariq
Disabilitas

Ruang Inklusif bagi Disabilitas di Pesantren Ekologi Ath Thaariq

19 Juni 2026
Next Post
Ali Yafie

Membaca Ulang Pemikiran KH. Ali Yafie tentang Fikih Sosial, Perempuan, dan Kemanusiaan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya
  • Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti
  • Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan
  • Agensi Perempuan dari Memoar Huda Sha’rawi “Neraka di Harem”
  • Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0