Mubadalah.id – Sebanyak 48 mahasantri Sarjana Ulama Perempuan Indonesia (SUPI) ISIF mengikuti Pelatihan Kesehatan Mental yang digelar dalam Program MERAWAT (Mental Health, Equity and Relational Wellbeing Transformation) Pesantren di Kuningan pada 5–7 Juni 2026. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman mahasantri mengenai kesehatan mental, membangun budaya pesantren yang lebih aman, dan sikap saling empatik.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Program MERAWAT Pesantren yang sebelumnya diawali dengan proses asesmen, penyusunan modul, hingga pelatihan. Hasil pelatihan nantinya akan menjadi pijakan dalam penguatan sistem dukungan di lingkungan pesantren, termasuk penyusunan prosedur operasional, pembentukan satuan tugas, serta pengembangan budaya collective care atau saling merawat secara bersama-sama.
Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan sebelumnya, kondisi psikologis (wellbeing) mahasantri berada pada kategori sedang dan belum stabil. Berbagai tekanan yang dihadapi mahasantri berasal dari beragam faktor, mulai dari kekhawatiran terhadap masa depan, padatnya jadwal kegiatan, kondisi ekonomi keluarga, rasa rindu rumah (homesick), hingga tuntutan akademik yang harus dipenuhi.
Pengasuh Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina, Nyai Nurul Bahrul Ulum menyebutkan bahwa kesehatan mental dianggap hal spele, hal kecil, padahal dampak terhadap kondisi psikologis mahasantri besar. Collective care dalam lingkungan di pesantren, kesehatan mental bukan lagi masalah indivitu, tapi bersama.
“Termasuk diri sendiri resilien, tau cara nolong diri, juga tau cara nolong teman (kesalingan bekerja juga di sini). Pesantren menjadi ruang aman, membangun sistemnya. Jaminan kerahasiaan didrop, nggak perlu karena terlalu spesifik,” kata Nurul.
Dukungan Kesehatan Mental
Meski demikian, pesantren memiliki modal yang kuat untuk membangun sistem dukungan kesehatan mental. Kehidupan bersama yang tumbuh dalam keseharian, serta kedekatan antar-mahasantri menjadi peluang besar untuk memperkuat dukungan teman sebaya.
Selain itu, nilai-nilai yang dikembangkan dalam perspektif Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), seperti rahmah, mubadalah, ma’ruf, dan anti-kekerasan, dipandang dapat menjadi landasan penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
Menurut Nurul, pelatihan ini memiliki lima tujuan utama, yakni membangun pemahaman dasar mengenai kesehatan mental dalam konteks pesantren, meningkatkan kesadaran mahasantri terhadap emosi dan kebutuhan hidupnya, melatih keterampilan dasar pendampingan sebaya, memperkuat perspektif KUPI dalam membangun relasi yang sehat dan anti-kekerasan, serta mendorong lahirnya rencana aksi bersama menuju pesantren yang menjadi ruang aman bagi seluruh warga pesantren.
Konsep Dasar Kesehatan Mental
Melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan mampu memahami konsep dasar kesehatan mental dan psikologis, mengenali emosi dan tekanan yang dialami, serta membangun relasi yang lebih sehat dengan sesama.
Program ini juga menargetkan tumbuhnya budaya saling mendengar, meningkatnya empati, berkurangnya praktik perundungan (bullying), body shaming, maupun berbagai bentuk kekerasan lainnya yang masih kerap kita temukan di lingkungan pesantren.
Selain itu, pelatihan juga ia arahkan untuk melahirkan calon-calon peer counselor atau pendamping sebaya yang nantinya dapat menjadi bagian dari sistem dukungan awal di lingkungan pesantren. Kesadaran bahwa pesantren harus menjadi safe space atau ruang aman bagi seluruh mahasantri juga menjadi salah satu target penting dari program tersebut.
Peserta utama kegiatan terdiri atas sekitar 48 mahasantri SUPI dari berbagai jenjang, usia, dan peran di pesantren. Mereka akan pesantren siapkan untuk menjadi pendidik kesehatan mental dan pendamping sebaya yang mampu membantu teman-teman mereka menghadapi berbagai persoalan psikologis sehari-hari.
Para peserta akan mengikuti proses pembelajaran yang menekankan refleksi dari diri setiap mahasantri SUPI, praktik keterampilan, dan penyusunan rencana aksi bersama.
Tidak hanya melibatkan mahsantri, kegiatan ini juga melibatkan pengasuh pesantren, pengurus harian, serta musyrif dan musyrifah sebagai pendamping. Mereka berada pada posisi sebagai aktor penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, etis, dan tidak menghakimi.
Kehadiran mereka juga dapat menjadi jembatan bagi tindak lanjut program setelah selesai pelatihan.
Dialogis, Reflektif dan Transformatif
Dalam pelaksanaannya, pelatihan mengadopsi pendekatan pembelajaran yang partisipatif, dialogis, reflektif, dan transformatif. Peserta tidak menjadi objek yang hanya menerima materi, melainkan sebagai subjek yang aktif terlibat dalam proses belajar.
Materi yang disampaikan juga disesuaikan dengan pengalaman dan dinamika kehidupan para mahasantri sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Pelatihan ini juga menggunakan pendekatan trauma-informed yang menekankan keamanan peserta. Fasilitator tidak memaksa peserta membuka pengalaman pribadi yang sensitif. Sebaliknya, seluruh proses pembelajaran kita rancang agar berlangsung menyenangkan, dan menghormati pengalaman hidup masing-masing peserta.
Selain itu, lima perspektif utama menjadi fondasi dalam penyusunan modul dan pelaksanaan pelatihan. Perspektif tersebut meliputi kesehatan mental yang kita pahami secara holistik melalui dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
Juga nilai-nilai KUPI yang menekankan rahmah, mubadalah, ma’ruf, keadilan hakiki, dan anti-kekerasan; pendekatan collective care; prinsip trauma-informed. Serta pembangunan relasi sehat yang menghormati martabat manusia dan batas-batas pribadi.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran. Hari pertama difokuskan pada pengenalan diri dan pembangunan ruang aman melalui materi konsep diri, kesadaran diri (self-awareness), harga diri (self-esteem), serta konsep dasar kesehatan mental.
Peserta juga mengikuti permainan edukatif JagaJiwa dan kegiatan malam keakraban bertajuk “Aku Tidak Sendiri” yang bertujuan membangun rasa kebersamaan di antara peserta.
Pada hari kedua, peserta mendalami materi mengenai relasi sehat dalam perspektif KUPI, dampak kekerasan terhadap kesehatan mental, keterampilan mendengarkan aktif (active listening), komunikasi empatik, serta pengenalan peran pendamping sebaya.
Berbagai materi tersebut dipadukan dengan permainan edukatif JagaMartabat dan praktik meditasi untuk membantu peserta memahami pengelolaan emosi serta penguatan daya tahan psikologis.
Collective Care
Sementara itu, hari ketiga, mereka arahkan pada upaya membangun budaya collective care di lingkungan pesantren. Materi yang mendapatkan materi mediasi dan resolusi konflik, perancangan pesantren sebagai safe space, refleksi personal. Hingga penyusunan rencana aksi bersama yang akan ia terapkan setelah pelatihan berakhir.
Sebagai tindak lanjut, peserta akan merumuskan langkah-langkah konkret untuk membangun pesantren yang sehat secara mental. Program ini juga akan memetakan calon pendamping sebaya yang dapat menjadi modal awal terbentuknya sistem dukungan psikososial di lingkungan pesantren.
Selain itu, prinsip-prinsip keamanan yang ia perkenalkan selama pelatihan akan menjadi rujukan dalam relasi sehari-hari maupun berbagai kegiatan pesantren.
Hasil pelatihan nantinya dapat terhubung dengan sistem yang lebih luas melalui penguatan SOP, satuan tugas. Serta berbagai kebijakan internal pesantren. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Melainkan menjadi langkah awal untuk membangun relasi yang sehat, empatik, bermartabat, dan bebas dari kekerasan di lingkungan pesantren.
Dengan program MERAWAT Pesantren menegaskan bahwa kesehatan mental menjadi tanggung jawab bersama seluruh mahasantri di pesantren. Melalui penguatan kapasitas, dukungan teman sebaya, dan sistem yang lebih responsif. Maka pesantren dapat menjadi ruang yang aman untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara utuh. []











































