Kamis, 18 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Spermisida

    Cara Menggunakan Spermisida

    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Spermisida

    Cara Menggunakan Spermisida

    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Aktual

Narasi Perempuan dalam Sejarah yang Nyaris Terlupakan

Ita F. Nadia: Pengalaman hidup perempuan adalah sumber utama gerakan. Gerakan perempuan mentransformasikan pengalaman pribadi menjadi gerakan sosial dan politik.

Zahra Amin by Zahra Amin
2 Mei 2026
in Aktual, Rekomendasi
A A
0
Narasi Perempuan dalam Sejarah

Narasi Perempuan dalam Sejarah

132
SHARES
6.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Zahra, jangan lupa Jum’at 1 Mei 2026 jam 08.00 wib nanti ada rapat di Fahmina, siangnya sekaligus nobar Lauching Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI).”

Pesan singkat itu saya terima beberapa hari sebelum kegiatan berlangsung. Pagi, ketika orang-orang sedang menikmati hari libur di tanggal merah May Day, atau sebagian lain ikut aksi demonstrasi dalam rangka Hari Buruh Internasional, saya sudah bergegas menuju kota Cirebon.

Singkat cerita, di sela-sela rapat itu, kami yang hadir dalam kesempatan rapat di Fahmina menyaksikan bersama Launching BKUPI. Kami menyimak sejak mulai pembukaan, dan fokus pada slide demi slide presentasi yang Ita Fatia Nadia sampaikan sebagai narasumber pertama.

Kami, tentu saja terkesima dengan narasi perempuan dalam sejarah yang Ita paparkan. Ia mengungkapkan bahwa saat ini tengah menyusun sebuah buku bertajuk Kronik Sejarah Gerakan Perempuan.

Buku ini mulai ia garap sejak akhir 2024 dan masih terus berkembang hingga kini. Ia menyebut proses penulisan tersebut sebagai perjalanan panjang yang justru membuka semakin banyak temuan baru terkait kontribusi perempuan dalam sejarah Indonesia.

Kontradiksi dalam Sejarah Indonesia

Paparan ini secara komprehensif mengulas posisi perempuan Indonesia dalam sejarah, tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai aktor intelektual, politik, dan sosial yang berperan dalam pembentukan bangsa hingga percaturan global. Ita membuka dengan refleksi kritis terhadap historiografi Indonesia yang selama ini dinilai bias.

Ia menyampaikan bahwa sejarah yang kita kenal hari ini terbangun di atas perspektif yang sempit. “Selama ini sejarah tertulis dengan perspektif patriotik dan maskulin, sehingga perempuan tidak pernah benar-benar masuk sebagai subjek dalam pembentukan kebangsaan,” ujarnya. Akibatnya, pemikiran perempuan, baik dalam ranah kebangsaan maupun kemanusiaan global, tidak terdokumentasikan secara layak.

Lebih jauh, Ita menggarisbawahi adanya paradoks besar dalam sejarah perempuan. Di satu sisi, perempuan terlibat aktif dalam proses dekolonisasi dan perjuangan nasional. Namun di sisi lain, setelah kemerdekaan tercapai, mereka justru didorong kembali ke ruang domestik. “Sesudah pembebasan nasional, perempuan itu dikembalikan lagi ke domestik. Ini kontradiksi besar dalam sejarah kita,” tegasnya.

Perempuan sebagai Pemikir Geopolitik dan Strategi Kekuasaan

Untuk membongkar bias tersebut, Ita mengajak melihat ulang tokoh-tokoh perempuan Indonesia dari perspektif yang berbeda. Ia menekankan bahwa banyak perempuan tidak hanya bertindak, tetapi juga berpikir dan merumuskan strategi besar.

Ratu Kalinyamat, misalnya, ia paparkan sebagai tokoh dengan visi geopolitik maritim yang kuat. Ia tidak hanya memimpin, tetapi memahami lanskap kekuasaan laut di Asia. “Kita hanya tahu Ratu Kalinyamat sebagai tokoh sejarah, tapi tidak pernah melihat dia sebagai pemikir geopolitik maritim,” jelas Ita. Bahkan, perspektifnya disebut masuk dalam kajian geopolitik kawasan Asia.

Hal serupa ia sampaikan terkait Laksamana Malahayati. Selama ini, Malahayati lebih sering kita kenang sebagai simbol kepemimpinan perempuan dalam perang. Namun Ita mengingatkan bahwa ada dimensi intelektual yang jarang dibahas. “Malahayati itu punya konsep navigasi, punya strategi laut. Dia bukan sekadar panglima, tapi juga pemikir,” ujarnya.

Sultanah Safiatuddin Aceh juga ditempatkan dalam kerangka yang sama. Ia tidak hanya memimpin secara politik, tetapi juga membangun sistem pendidikan intelektual. Bahkan, ia meninggalkan gagasan terkait hak ekonomi perempuan. “Ia punya konsep tentang kepemilikan untuk perempuan, baik yang menikah maupun tidak. Ini melampaui zamannya,” ungkap Ita.

Pesantren, Perempuan, dan Politik Perlawanan

Paparan kemudian masuk pada figur Ratu Ageng Tegalrejo, yang oleh Ita disebut sebagai salah satu tokoh paling penting namun sering terabaikan dalam sejarah Perang Jawa. Ia menegaskan, “Perang Jawa itu tidak bisa hanya dilihat dari Diponegoro. Konsep perlawanan itu banyak dirumuskan oleh Ratu Ageng.”

Ratu Ageng tidak hanya bergerak dalam ranah politik, tetapi juga pendidikan. Ia mendirikan pesantren di Tegalrejo yang memiliki karakter berbeda. “Ini bukan pesantren biasa. Di sana diajarkan soal agraria, soal tanah, soal bagaimana melawan kolonialisme,” jelas Ita.

Dari ruang pendidikan ini lahir tokoh seperti Nyi Ageng Serang, yang kemudian menjadi panglima perang. Bahkan disebutkan bahwa Diponegoro sendiri berada dalam pengaruh kuat dua perempuan: Ratu Ageng dan Nyi Ageng Serang. “Kalau kita baca arsip keraton, kita akan lihat bagaimana dua perempuan ini sangat menentukan arah perjuangan,” tambahnya.

Tidak hanya dari kalangan elite, Ita juga menekankan peran perempuan dari basis masyarakat. Salah satunya adalah Nyai Ageng Pinatih di Gresik. Ia merupakan saudagar perempuan yang menguasai jalur perdagangan pesisir utara Jawa.

“Dia ini bandar besar, menguasai jalur ekonomi, mengatur pajak kapal, dan menggunakan itu untuk membangun pesantren,” ujar Ita. Ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya hadir dalam ruang domestik, tetapi juga dalam sistem ekonomi dan penyebaran agama.

Literasi Perempuan dan Lahirnya Ruang Intelektual

Memasuki abad ke-20, terjadi pergeseran penting. Perempuan mulai masuk ke ruang literasi dan media. Ita menekankan bahwa ini adalah fase penting dalam pembentukan kesadaran kolektif.

“Perempuan mulai menulis, mendirikan surat kabar, dan membangun ruang diskusi mereka sendiri,” jelasnya. Media seperti Soenting Melajoe, Putri Hindia, dan Sinar Hindia menjadi wadah artikulasi gagasan perempuan.

Yang menarik, praktik literasi ini tidak selalu individual. Di Koto Gadang, berkembang model penulisan kolektif. “Satu lembar koran ditulis tangan, diedarkan, dan setiap orang boleh menambahkan ide. Ini bentuk kolektivitas pengetahuan,” ungkap Ita.

Diskusi-diskusi ini bahkan dilakukan dalam ruang kultural-religius. “Setelah salat magrib, mereka membaca syair, lalu berdiskusi tentang kondisi sosial dan masa depan,” tambahnya. Ini menunjukkan integrasi antara tradisi keagamaan dan pemikiran kritis.

Tokoh seperti Siti Sundari juga menunjukkan keberanian intelektual perempuan. Ia pergi ke Eropa di usia muda tanpa kemampuan bahasa Belanda, bergabung dengan Perhimpunan Indonesia, dan menulis tentang pengalaman perempuan Barat. “Ini menjadi basis pemikiran dekolonisasi, membandingkan, merefleksikan, dan menulis,” jelas Ita.

Dari Wacana ke Organisasi: Strategi Kolektif Perempuan

Perkembangan berikutnya adalah kesadaran untuk berorganisasi. Ita menekankan bahwa pengorganisasian adalah langkah strategis.

“Tidak cukup hanya berpikir atau menulis. Perempuan harus berorganisasi agar punya kekuatan politik,” tegasnya.

Organisasi seperti Sarekat Rakyat menjadi salah satu pionir. Di sisi lain, Aisyiyah hadir dengan platform yang sangat jelas. Anti-kolonialisme, anti-diskriminasi, kritik terhadap poligami, serta penguatan pendidikan perempuan.

“Ini adalah platform politik perempuan yang sangat maju untuk ukuran zamannya,” ujar Ita.

Perempuan Indonesia di Arena Internasional

Paparan kemudian menunjukkan bahwa narasi perempuan dalam sejarah tidak hanya bergerak di dalam negeri, tetapi juga aktif di tingkat global. Mereka hadir dalam berbagai forum internasional sejak awal kemerdekaan.

“Tahun 1945 di Paris, 1947 di New Delhi, perempuan Indonesia sudah ikut dalam kongres internasional,” jelas Ita.

Konferensi di Kairo tahun 1958 menjadi salah satu tonggak penting. “Bayangkan, perempuan Indonesia memimpin konferensi Asia-Afrika di Kairo,” ujarnya dengan penekanan.

Tokoh seperti Maria Ulfah, S.K. Trimurti, dan Siti Baroroh Baried disebut sebagai aktor penting dalam diplomasi dan gerakan perempuan global. Bahkan, S.K. Trimurti terlibat dalam penyusunan Konvensi ILO No. 100 tentang kesetaraan upah.

“Ini menunjukkan bahwa perempuan Indonesia ikut merumuskan standar global tentang keadilan,” tambahnya.

Selain itu, gerakan perempuan juga terlibat dalam isu-isu besar dunia seperti perdamaian, anti-nuklir, dan keadilan sosial. “Mereka tidak hanya bicara soal perempuan, tapi soal dunia,” tegas Ita.

Pasca-1965: Domestikasi dan Kekerasan terhadap Perempuan

Situasi berubah drastis setelah 1965. Ita menyebut periode ini sebagai fase domestikasi dan depolitisasi perempuan secara sistematis.

“Negara membangun ideologi yang menempatkan perempuan kembali ke rumah,” ujarnya. Bahkan, ia menyebut bahwa Orde Baru dibangun bukan atas kontrak sosial, tetapi “kontrak seksual” yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.

Aktivis perempuan mengalami kekerasan, stigma, dan penghapusan sejarah. “Terjadi pendisiplinan terhadap perempuan aktivis agar tidak lagi menjadi seperti sebelumnya,” jelasnya.

Meski mengalami represi, gerakan perempuan tidak hilang. Pada periode berikutnya, muncul berbagai organisasi seperti Solidaritas Perempuan, Kalyanamitra, serta jaringan di berbagai daerah.

Isu yang diangkat semakin kompleks. Kekerasan terhadap perempuan, hak masyarakat adat, keadilan lingkungan, hingga reformasi politik.

Perempuan Indonesia juga kembali aktif dalam forum global, seperti Konferensi Dunia Perempuan di Beijing. Ini menunjukkan kesinambungan gerakan dari lokal ke global.

Pengalaman Perempuan sebagai Basis Gerakan

Sebagai penutup, Ita menekankan bahwa pengalaman hidup perempuan adalah sumber utama gerakan. “Gerakan perempuan itu mentransformasikan pengalaman pribadi menjadi gerakan sosial dan politik,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya memori kolektif. “Tuturan dan pengalaman perempuan adalah sumber untuk menata ulang ketidakadilan masa lalu.”

Lebih jauh, ia mengajak untuk merebut kembali ruang tafsir. “Realitas selama ini dimaknai sepihak oleh penguasa, dan itu harus direbut,” tegasnya. Bahasa korban, menurutnya, harus kita maknai ulang. “Bahasa korban bukan sekadar cerita penderitaan, tapi sumber pengetahuan untuk menyusun kembali sejarah.”

Paparan Ita tutup dengan ajakan untuk membangun ruang bersama yang berlandaskan kesetaraan, memulihkan tatanan sosial akibat kekerasan sejarah, dan memutus rantai impunitas melalui kesadaran kolektif. []

 

Tags: Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan IndonesiaHistoriografi PerempuanIta Fatia NadiaPerempuan dalam SejarahSejarah Indonesia
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Di BKUPI 2026, Ita Fatia Nadia Beberkan Peran Penting Perempuan Indonesia Sejak Masa Kolonial

Next Post

Nobar Film “Pesta Babi” di ISIF Cirebon, Soroti Perlawanan Perempuan Adat Papua

Zahra Amin

Zahra Amin

Zahra Amin Perempuan penyuka senja, penikmat kopi, pembaca buku, dan menggemari sastra, isu perempuan serta keluarga. Kini, bekerja di Media Mubadalah dan tinggal di Indramayu.

Related Posts

Bulan KUPI
Personal

Bulan KUPI, Momen Bersejarah Gerakan Keulamaan Perempuan

26 Mei 2026
Siti Baroroh Baried
Figur

Nyai Siti Baroroh Baried: Profesor Perempuan Pertama di Indonesia

24 Mei 2026
Nyai Walidah
Figur

Mengenal Nyai Walidah dan Momentum Lahirnya Kesadaran Baru Perempuan Muslim Indonesia

23 Mei 2026
Nyai Nur Ishmah
Figur

Nyai Hj. Nur Ishmah Abdullah Abdussalam: Ulama Perempuan itu Bertarekat

23 Mei 2026
Umi Eha
Figur

Teologi ke Aksi: Umi Eha Ulama Perempuan Pejuang Ekologis

23 Mei 2026
Huzaemah Tahido Yanggo
Figur

Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo: Ulama Perempuan Pemegang Otoritas Keagamaan Indonesia

22 Mei 2026
Next Post
Pesta Babi

Nobar Film “Pesta Babi” di ISIF Cirebon, Soroti Perlawanan Perempuan Adat Papua

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Cara Menggunakan Spermisida
  • Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah
  • Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI
  • Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah
  • Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0