Mubadalah.id – Berangkat dari maqola ‘Al Ummu Madrasatul Ula’. Maka tidak ada keraguan lagi, bahwa banyak tempat pendidikan dipelopori oleh perempuan. Namun, sayangnya, kiprah pejuang perempuan, seringkali tidak mendapatkan atensi yang sama besarnya dengan perjuangan laki-laki. Padahal peran yang perempuan lakukan, memiliki peran yang sama signifikannya. Termasuk apa yang Nyai Khoiriyah Hasyim lakukan.
Nama Nyai Khoiriyah Hasyim masuk pada salah satu tokoh Ulama Perempuan Indonesia yang diperkenalkan kembali kiprah dan perannya. Pada acara Bulan KUPI (Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia). Untuk mengenal lebih dekat emansipasi ulama perempuan dari berbagai daerah di Indonesia.
Penyampaian manaqib kisah hidup Nyai Khoiriyah Hasyim disampaikan langsung oleh cicitnya, Ning Ema Rahmawati. Pada saluran Gusdurian, Jumat malam, tanggal 15 Mei 2026.
Mengenal Sosok Nyai Khoiriyah Hasyim
Nyai Khoiriyah Hasyim adalah putri kedua dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia. Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari bersama istrinya Nyai Nafiqoh, memiliki putri pertama, tetapi meninggal di usia belia. Sehingga, Nyai Khoiriyah Hasyim yang merupakan putri keduanya, acapkali dianggap sebagai putri pertama.
Memiliki ayahanda seorang pemuka agama paling masyhur di Indonesia. Seperti menambah kegigihan Nyai Khoriyah Hasyim pada pendidikan. Perempuan yang lahir di tahun 1906 tersebut, di usia yang masih belia, telah memiliki semangat belajar yang antusias.
Di kala Mbah Hasyim hanya memiliki santri putra saja, Nyai Khoiriyah Hasyim tercatat menjadi santri putri pertama beliau. Ia menyelinap belajar di balik tirai tempat Hadratussyaikh menyiarkan pengetahuan di Pesantren Tebuireng.
Mendirikan Pesantren Seblak
Di tahun 1919, saat usia Nyai Khoiriyah menginjak usia 13 tahun. Mbah Hasyim menikahkannya dengan salah satu murid kesayangannya yang kemudian hari kita kenal dengan K.H. Maksum Ali. Dengan pribadi Nyai Khoiriyah yang terkenal tegas, saya rasa jika hari ini hal itu terjadi maka ia akan membantah perintah ayahnya.
Namun, pada masa-masa dahulu, menikah di usia belia adalah hal yang mafhum. Karena tuntutan sosial dan belum banyaknya penelitian tentang betapa bahayanya menikah di usia muda.
Setelah menikah, pada tahun 1921 Nyai Khoiriyah bersama K.H. Maksum Ali mendirikan sebuah pesantren yang tak jauh dari Pesantren Tebuireng. Tepatnya di Dusun Seblak, Diwek, Jombang. Tentunya hal ini mengundang tanya dari ayahanda.
Mengapa Nyai Khoiriyah dan menantunya memilih Seblak, sebuah dusun yang memiliki rekam jejak kejahatan paling banyak. Namun, dengan keuletan Nyai Khoiriyah dan K.H. Maksum Ali, Pesantren Seblak pun berdiri hingga saat ini. Bahkan, menjadi pesantren kedua yang membukakan pintu pendidikan bagi perempuan pada zamannya.
Memasuki tahun 1933, ketika K.H. Maksum Ali wafat. Nyai Khoiriyah Hasyim menyambung estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Seblak. Beliau memimpin sebuah pesantren laki-laki dengan semangat perjuangan membara. Di mana pada masa tersebut, adalah hal yang masygul seorang perempuan menjadi pimpinan pesantren. Namun, Nyai Khoiriyah Hasyim telah mematahkan hal tabu tersebut.
Kiprah Perjuangan Nyai Khoiriyah Hasyim di Bumi Makkah
Pada tahun 1938, Nyai Khoiriyah menikah dengan K.H. Muhaimin Zubair. Lalu diboyong ke bumi Makkah, karena di sanalah K.H. Muhaimin mengabdi pada pendidikan. Beliau merupakan seorang Kepala Madrasah Darul Ulum di Arab Saudi. Melihat semangat pendidikan yang ada pada istrinya, K.H. Muhaimin pun mengusulkan agar Nyai Khoiriyah mendirikan sekolah perempuan di sana.
Maka pada tahun 1942, berdirilah Madrasah Lil Banat. Sekolah perempuan pertama di Kota Makkah. Meski pada masa tersebut, Arab Saudi belum membuka pintu pendidikan bagi perempuan. Namun, Nyai Khoiriyah mampu mendobrak dan menjadi pelopor perubahan. Agar perempuan juga dapat mengenyam pendidikan yang sama dengan laki-laki.
Di tahun ke-17 Nyai Khoiriyah di Makkah. K.H. Muhaimin pun wafat, meninggalkan istrinya yang berjuang sendirian membangun pendidikan di bumi Haramain. Meski single fighter, semangat Nyai Khoiriyah tidak pernah luput. Ia tetap menyebarkan pengetahuan dan mengembangkan Madrasah Lil Banat seorang diri.
Hingga dua tahun berikutnya, konon katanya saat Presiden Soekarno berangkat haji di tahun itu. Ia mendengar nama masyhur Nyai Khoiriyah Hasyim di kota Makkah. Sehingga, Presiden Soekarno bertemu dengan Nyai Khoiriyah dan memintanya pulang ke Indonesia. Demi membangun masa depan generasi perempuan Indonesia, Nyai Khoiriyah pun kembali ke Indonesia.
Nyai Khoiriyah Seorang Alimah dan Feminis
Melalui penuturan oleh cicitnya Nyai Khoiriyah Hasyim, yaitu Ning Ema Rahmawati. Ia mendeskripsikan bahwa Nyai Khoiriyah ialah seorang Alimah, perempuan yang sangat mendalami ilmu agama. Beliau sangat memegang teguh nilai dan prinsip kebenaran.
Pernah pada suatu ketika, Nyai Khoiriyah muda membantah omongan Kyai. Karena merasa terdapat hal ganjal, dan Kyai tersebut pun mendengarkan dan meluruskan. Padahal pada masa itu, hal tersebut adalah hal tabu untuk perempuan lakukan.
Sama seperti suatu ketika K.H. Hasyim Asy’ari melakukan hal yang ia rasa kurang tepat, maka ia tak segan-segan mengomentari ayahnya sendiri. Meski ayahnya ialah tokoh Ulama paling berpengaruh.
Dengan ketegasan Nyai Khoiriyah, ia tetap mengemukakan pendapatnya. Terlebih sikap moderat Kyai Hasyim, mendengarkan putrinya mengingatkannya tentu saja adalah hal yang patut kita contoh. Bagaimana Kyai Hasyim membangun hubungan sehat dalam dinamika antara ayah dan anak.
Nyai Khoiriyah tidak menyimpan gagasan untuk diri pribadi. Melainkan ia juga mengambil peran pada beberapa bidang. Terlihat pada keaktifannya bergabung dalam Tim Bahtsul Masail NU. Yang mayoritas terpenuhi oleh Kyai laki-laki. Namun, dengan semangat feminisme dalam dirinya, ia ikut berkontribusi, tercatat pada tahun 1959. Di mana sebelumnya, tidak pernah ada perempuan dalam tim.
Jiwa Kepemimpinan Nyai Khoiriyah Hasyim
Tidak hanya sebagai pemimpin Pondok Pesantren. Nyai Khoiriyah juga melakukan kaderisasi pada santri putrinya. Ning Ema menceritakan pola kepemimpinan Nyai Khoiriyah salah satunya ialah dengan melibatkan santriwatinya. Jika suatu hari Nyai Khoiriyah berhalangan menghadiri suatu undangan pengajian.
Maka ia akan mengutus santriwati yang dipercayainya untuk menghadiri undangan tersebut. Tentunya melalui proses yang tidak mudah. Karena karakter Nyai Khoiriyah sendiri ialah berpegang teguh pada prinsip.
Ning Ema mengatakan, terdapat salah satu testimoni oleh santri yang pernah belajar kepada Nyai Khoiriyah. Bahwa untuk belajar membaca surah Al-Fatihah saja, ia harus mengulang-ulangi sampai dua hari. Karena Nyai Khoiriyah sangat detil dan teliti pada ilmu Al-Quran. Beliau juga memilih santri yang memiliki pembacaan Al-Quran paling baik untuk menjadi imam ketika salat berjamaah.
Inspirasi Kaum Perempuan Pesantren
Sepak terjang Nyai Khoiriyah dalam pendidikan pesantren tentu membuahkan inspirasi bagi banyak orang. Terutama bagi kaum perempuan pesantren. Nyai Khoiriyah menjadi sosok tauladan yang berpendirian kemaslahatan dan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan. Sikap dan keteguhannya pada ilmu pengetahuan membuatnya tidak segan-segan membuat gebrakan demi gebrakan.
Pernah suatu ketika menghadiri acara NU di Jombang, Nyai Khoiriyah mengajak para santriwati. Untuk memakai celana di bawah kain jarit yang melilit tubuh bawahnya. Tentunya ini adalah sebuah gebrakan yang hanya dilakukan oleh Ulama Perempuan yang memegang nilai kesetaraan.
Di mana pada tahun 60’an, belum pernah ada perempuan, apalagi ulama perempuan mengenakan celana. Berkat gebrakan beliaulah terbit Bahtsul Masail mengenai hukum perempuan memakai celana.
Nyai Khoiriyah juga tak segan-segan mengemukakan kritik pada Kitab Uqudulujain, yang kiranya lebih banyak merendahkan perempuan. Adalah salah satu cita-citanya yang belum terwujud, untuk menerbitkan sebuah buku kritik terhadap kitab Uqudulujain. Namun, kiprah kepenulisan beliau sudah ia mulai dengan menulis di salah satu majalah Gema Insani di tahun 1962.
Proses pergulatan intelektual Nyai Khoiriyah Hasyim tentunya sudah matang. Saat beliau wafat pada tahun 1983, ia tidak hanya meninggalkan nama. Namun, legasi yang ia pupuk dan bangun menjadi inspirasi bagi perempuan pesantren.
Nyai Khoiriyah mencontohkan bahwa perempuan harus berkiprah di ruang publik, agar kesetaraan ilmu pengetahun dapat semua orang dapatkan. Beliau secara tidak langsung menegaskan bahwa pengetahuan sangat penting bagi perempuan. Karena pengetahuan adalah kekuatan. Agar tidak mudah dimarjinalisasi dan disubordinasi. []












































