Mubadalah.id – Lembar demi lembar warisan keilmuan Islam Nusantara tersimpan dalam ribuan manuskrip kuno yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Dari pesisir Aceh hingga Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda. Manuskrip-manuskrip tersebut merekam jejak peradaban ulama Nusantara selama berabad-abad.
Ada tafsir Al-Qur’an, tasawuf, fikih, hikayat kerajaan Islam, hingga surat-surat diplomatik yang ditulis dalam aksara Arab, Jawi, dan Pegon. Para scholar memperkirakan jumlahnya mencapai puluhan ribu. Indonesia menjadi salah satu pemilik koleksi manuskrip Islam terbesar di dunia.
Perjalanan manuskrip Nusantara menghadapi tantangan panjang akibat usia, iklim tropis, perpindahan kolonial, serta minimnya perawatan pada berbagai periode sejarah. Persoalan terbesarny semakin langkanya para ahli di Indonesia yang mampu membaca dan menafsirkan kembali kepada generasi masa kini.
Ilmu filologi memainkan peran yang penting, yaitu sebagai ilmu penyelamatan teks yang memungkinkan aksara-aksara kuno dapat dipahami umat Islam masa sekarang. Melalui kerja filologi, naskah-naskah lama kembali dibaca, disunting, diterjemahkan, dan dipahami oleh generasi yang lebih muda. Indonesia sendiri memiliki seorang ahli filologi yang juga ulama perempuan dan sangat berjasa dalam menyelamatkan manuskrip-manuskrip Nusantara.
Melalui Diskusi Serial biografi Ulama Perempuan #19 yang diadakan oleh KUPI pada Rabu, 20 Mei 2026 (19.30-20.30). Kongres Ulama Perempuan Indonesia memaparkan biografi Prof. Nabilah Lubis melalui pemaparan Bu Nyai Aida Milasari yang mengenalkan peran juga kiprah bagaimana perjalanan dan perjuangan hidup seorang Prof. Nabilah Lubis dalam menyelamatkan manuskrip-manuskrip Nusantara.
Siapa Prof. Nabilah Lubis?
Prof. Dr. Nabilah Lubis adalah seorang filolog Muslim perempuan yang lahir di Kairo, Mesir, pada 14 Maret 1942 dengan nama asli Nabila Abdul Fatah. Terlahir di kota ilmu yang menjadi pusat peradaban Islam dunia, beliau tumbuh dalam lingkungan yang banyak memiliki tradisi keilmuan klasik, hingga mengantarkannya menempuh pendidikan sarjana di jurusan Perpustakaan Universitas Khairul Kairo dan lulus pada tahun 1963.
Takdir membawa Nabila Abdul Fatah meninggalkan tanah kelahirannya dan berhijrah ke Indonesia setelah menikah pada tahun 1963. Ibu Aida Milasari memaparkan bahwa di negeri khatulistiwa inilah beliau menemukan panggilan sejatinya sebagai seorang akademisi dan peneliti. Beliau kemudian memperdalam ilmunya dengan menyelesaikan program magister filologi pada tahun 1988.
Ummul Azhariyat
Gelar kehormatan Ummul Azhariyat yang disematkan kepada Prof. Dr. Nabilah Lubis merupakan bentuk dari kecintaan dan pengabdian beliau yang tulus terhadap dunia pendidikan Islam. Khususnya dalam mempererat hubungan antara Indonesia dan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Sebagai seorang perempuan yang tumbuh dan mengenyam pendidikan di bumi Mesir, beliau memiliki kedekatan yang sangat personal dengan tradisi keilmuan Al-Azhar. Universitas Al-Azhar merupakan sebuah universitas Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia. Dari kedekatan itulah, kemudianbeliau manfaatkan untuk membuka pintu Al-Azhar selebar-lebarnya bagi mahasiswa dan mahasiswi Indonesia.
Selama berkarya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beliau semangat mendorong dan mahasiswa-mahasiswi bimbingannya untuk melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar. Banyak mahasiswa bimbingannya melanjutkan studi ke Mesir dan berkembang menjadi akademisi, dosen, peneliti, serta tokoh pendidikan Islam di berbagai daerah Indonesia.
Ibu Filologi Indonesia
Prof. Nabilah Lubis dikenal sebagai ahli filologi karena memiliki kemampuan mendalam dalam membaca, meneliti, menyunting, membandingkan, serta menerjemahkan manuskrip Islam Nusantara yang ditulis dalam berbagai bahasa dan aksara lama. Sejak menempuh pendidikan sarjana di jurusan Perpustakaan Universitas Khairul Kairo pada tahun 1963. Beliau mulai bersentuhan langsung dengan dunia teks-teks klasik juga tradisi keilmuan Islam.
Ketertarikan mendalam pada teks-teks kuno mendorong beliau untuk terus melangkah lebih jauh. Hingga pada tahun 1988, yakni 25 tahun setelah kelulusannya di Kairo. Beliau dengan penuh semangat menyelesaikan program magister filologi. Keahlian beliau terasah melalui program studi doktoral di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau menyelesaikan studi pada tahun 1992, serta studi postdoktoral di Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1989 hingga 1990.
Di Leiden, beliau mendalami secara intensif metodologi filologi Barat. Mulai dari teknik kodikologi yaitu ilmu yang mempelajari fisik manuskrip seperti jenis kertas, tinta, dan penjilidan, serta teknik paleografi yaitu ilmu pembacaan aksara kuno. Pendekatan yang belaiu gunakan menggabungkan tradisi filologi Al Azhar yang kuat pada penguasaan teks dengan metode Leiden yang menekankan kritik naskah dan analisis historis.
Dengan bekal metodologi yang berlapis tersebut, Prof. Nabilah Lubis membangun kompetensi filologi yang mencakup seluruh tahapan kerja ilmiah dalam menangani manuskrip kuno. Beliau terlatih untuk melakukan inventarisasi manuskrip, yaitu mendata dan mengidentifikasi keberadaan naskah-naskah yang tersebar di berbagai koleksi museum, perpustakaan, dan lembaga penelitian di dalam maupun luar negeri.
Beliau juga menguasai teknik komparasi antar naskah, yaitu membandingkan beberapa versi manuskrip yang berbeda untuk menentukan hierarki otentisitas dan menemukan naskah yang paling mendekati teks aslinya. Lebih dari itu, beliau memiliki kemampuan transliterasi aksara Arab-Melayu ke dalam huruf Latin, penerjemahan teks dari bahasa Arab dan Melayu Kuno ke dalam bahasa Indonesia, serta analisis kandungan teks yang mencakup dimensi sastra, sejarah, filsafat, dan tasawuf.
Karya-karya Prof. Nabilah Lubis dalam Bidang Filologi
Karya ilmiah Prof. Dr. Nabilah Lubis dalam bidang filologi bermula dari penelitian disertasi doktoralnya yang mengkaji naskah Taj al-Salatin karya Bukhari al-Jauhari, sebuah manuskrip berbahasa Melayu klasik yang memuat filsafat kepemimpinan raja-raja adil dalam 24 pasal. Penelitian tersebut menjadi tonggak penting dalam karier ilmiah beliau. Karena menuntut kemampuan membandingkan delapan versi manuskrip yang tersebar di berbagai koleksi, termasuk koleksi Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda.
Dari delapan versi tersebut, beliau berhasil menetapkan hierarki otentisitas masing-masing naskah berdasarkan analisis kodikologi. Analisis kodikologi mencakup jenis kertas, gaya kaligrafi, ornamentasi, dan karakteristik fisik lainnya. Hasil penelitian disertasi tersebut kemudian terbit sebagai buku ilmiah yang menjadi banyak rujukan bagi para peneliti manuskrip Islam Nusantara di tingkat nasional dan internasional.
Di dalam naskah Taj al-Salatin itulah beliau secara tak terduga menemukan surat-surat cinta seorang raja Aceh kepada seorang putri raja dari Pahang, Malaysia, sebuah temuan yang membuka dimensi sastra dan diplomatik dari peradaban Aceh Darussalam yang selama ini tersimpan rapi dalam lipatan manuskrip.
Selain Taj al-Salatin, Prof. Nabilah Lubis juga meneliti dan menyunting naskah-naskah hikayat kerajaan Islam Nusantara, di antaranya hikayat raja-raja Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Penelitian atas hikayat Samudera Pasai ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena membuka rekaman tertulis tentang proses masuknya Islam ke Nusantara, pola pemerintahan kerajaan Islam awal, serta hubungan diplomatik antara kerajaan-kerajaan Melayu dengan dunia Islam di Timur Tengah.
Dalam proses penyuntingan naskah-naskah hikayat tersebut, beliau menerapkan metode perbandingan manuskrip secara ketat. Setiap versi naskah yang ditemukan di berbagai koleksi, lalu menyusun suntingan teks yang paling mendekati versi orisinalnya. Karya-karya penyuntingan hikayat ini kemudian terbit dalam bentuk buku yang memuat teks suntingan. Transliterasi, terjemahan, serta anotasi ilmiah yang memudahkan pembaca dari berbagai latar keilmuan untuk memahami kandungan manuskrip utuh.
Karya-karya filologi Prof. Nabilah Lubis mencakup lebih dari empat dekade kerja ilmiah yang menghasilkan puluhan publikasi berupa buku suntingan manuskrip, artikel ilmiah, dan karya terjemahan Arab-Indonesia serta Indonesia-Arab. Beliau juga menulis buku-buku pengantar filologi sebagai referensi akademik berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. Keilmuan filologi saat ini lebih mudah terakses oleh generasi peneliti muda.
Menulis Dimensi-dimensi lain dari Prof. Nabilah Lubis
Prof. Dr. Nabilah Lubis merupakan perintis kelembagaan di dunia perpustakaan dan akademik Islam Indonesia. Sejak tahun 1964, hanya setahun setelah tiba pada Indonesia, beliau langsung menjadi Kepala Perpustakaan IAIN Al Jami’ah Jakarta. Beliau mengemban sebagai Pegawai Negeri Sipil di lembaga pendidikan Islam terkemuka tersebut.
Perpustakaan kampus berkembang sebagai jantung keilmuan yang menopang seluruh aktivitas akademik civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah. Juga berbagai kampus Islam di Indonesia. Beliau juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Adab dan Humaniora. Serta Pembantu Rektor Bidang Akademik, dua jabatan strategis yang membuktikan kepercayaan institusi terhadap kapasitas kepemimpinan dan visi keilmuan beliau.
Dimensi berikutnya yang layak mendapat perhatian adalah keterlibatan aktif Prof. Nabilah Lubis dalam gerakan perempuan Muslim di tingkat nasional. Beliau tercatat sebagai pengurus dan Dewan Pakar Muslimat Nahdlatul Ulama pada periode 2016 hingga 2021. Berkhidmat bersama tokoh perempuan nasional terkemuka seperti Ibu Hajah Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam merumuskan arah kebijakan bagi pergerakan ulama perempuan Indonesia.
Dimensi ketiga yang ketiga ialah kontribusi beliau dalam diplomasi keilmuan Islam di kancah internasional. Prof. Nabilah Lubis sangat aktif dalam berbagai forum akademik dan dakwah internasional. Beliau membawa suara Islam Nusantara ke hadapan komunitas ilmuwan dunia. Melalui penelitian-penelitian manuskrip yang beliau presentasikan pada berbagai kesempatan lintas negara.
Peran dalam dunia Internasional beliau juga dapat kita lihat dari pengakuan dunia terhadap karya-karya suntingan dan penelitian filologinya. Karyanya menjadi referensi oleh para peneliti manuskrip Islam berbagai belahan dunia. Selain itu, beliau juga tercatat dalam buku Profil Tokoh Perempuan Muslim Indonesia oleh PP Perempuan Persatuan Pembangunan pada tahun 2002.
Mengenang Prof. Nabilah Lubis
Prof. Nabilah Lubis wafat pada 28 Februari 2026 di Kairo, Mesir, dalam usia 83 tahun. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia filologi, studi manuskrip Islam Nusantara, dan perkembangan tradisi akademik Islam di Indonesia. Selama lebih dari empat dekade, beliau mengabdikan hidupnya pada dunia pendidikan. Penelitian manuskrip, pelestarian warisan keilmuan ulama Nusantara. Selain itu pengembangan jaringan keilmuan antara Indonesia dan Timur Tengah. []












































