Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Hikmah

Akhlak Nabi Saw dengan Orang yang Berbeda Agama (Fase Mekkah)

Akhlak Nabi Saw adalah al-Amin dengan semua orang, yang berbeda-beda agama, di Mekkah yang menyembah berhala, di perjalanan berdagang dengan berbagai orang, dan di Syria yang banyak penganut agama Kristen

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
7 Juli 2022
in Hikmah, Rekomendasi
A A
0
Akhlak Nabi

Akhlak Nabi

9
SHARES
469
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Banyak umat Islam masih merasa kesulitan, secara teologis, untuk memiliki relasi yang Islami dengan orang yang berbeda agama. Padahal, jika kita merujuk sumber-sumber biografi Nabi Muhammad Saw, baik al-Qur’an, kitab-kitab hadits, maupun sejarah kehidupan (sirah), kita bisa menemukan teladan akhlak Nabi Saw dengan orang yang berbeda agama.

Mulai dari kehidupan masa kecil, remaja, dewasa, pada saat memperoleh wahyu, berdakwah, dan ketika berhijirah lalu menetap di Madinah sampai akhir hayat Nabi Muhammad Saw. Tulisan ini akan membagi dua fase utama dalam kehidupan Nabi Saw, yaitu fase Mekkah dan fase Madinah. Kali ini untuk fase Mekkah.

Pengalaman Sebelum Wahyu

Semua orang di lingkungan Nabi Saw, sebelum datang wahyu, tentu saja beragama sesuai dengan nenek moyang masing-masing. Di Mekkah saat itu, hampir mayoritas penduduknya menuhankan Allah Swt, tetapi sambil menyembah berhala. Beberapa orang, dengan jumlah sangat sedikit, beriman pada agama Yahudi atau pada agama Kristen. Beberapa yang lain, beriman secara tauhid, atau mengesakan Allah Swt, yang disebut sebagai hunafa (orang-orang yang lurus), tetapi tanpa terikat dengan agama tertentu.

Nabi Muhammad Saw tentu saja bergaul dengan masyarakat sekitar. Semua sumber sejarah memastikan bahwa relasi Nabi Saw dengan mereka sangat baik, terpercaya, jujur, dan selalu menolong orang. Keluarga, tetangga, dan masyarakat seringkali menitipkan barang mereka, untuk disimpan, bahkan setelah Nabi Saw memperoleh wahyu, dan mereka tetap masih tidak beriman dengan Islam yang dibawa Nabi Saw.

Dengan perilaku ini, Nabi Saw dikenal dengan julukan al-Amin. Atau, orang yang jujur, amanah, dan terpercaya. Pernyataan Sayyidah Khadijah ra, tentang akhlak Nabi Saw dengan orang yang berbeda agama, sangat jelas mengenai hal ini. Selalu berkata benar, tidak berbohong, amanah, jujur, menyambung persaudaraan, menghormati tamu, dan menolong orang (Sahih Bukhari, no. 5005). Akhlak inilah yang membuat Sayyidah Khadijah ra jatuh cinta.

Pada usia 20-an tahun, Nabi Muhammad Saw menyaksikan dan mendukung traktat Hilf al-Fudhul, yang mengikat para kabilah untuk saling menghormati, saling menolong, tidak membunuh, dan tidak mudah tersulut perang. Pada usia 35 tahun, Nabi Saw dipercaya para tetua kabilah untuk mendamaikan pertengkaran mereka, tentang siapa yang paling berhak memindahkan batu hitam mulia (Hajar Aswad) akibat banjir bandang.

Dengan akhlak Nabi ini, Sayyidah Khadijah ra merekrut Nabi Muhammad Saw untuk mengelola usaha ekspor impornya. Dan karena akhlak inilah, Sayyidah Khadijah ra, yang berusia 40 tahun, melamar Nabi Muhammad Saw, pada saat uisa 25 tahun, untuk menjadi suaminya. Akhlak Nabi Saw adalah al-Amin dengan semua orang, yang berbeda-beda agama, di Mekkah yang menyembah berhala, di perjalanan berdagang dengan berbagai orang, dan di Syria yang banyak penganut agama Kristen.

Setelah Menerima Wahyu

Apakah akhlak Nabi Saw kepada yang berbeda agama berbeda setelah menerima wahyu? Sama sekali tidak. Nabi Saw tetap sebagai al-amin, yang jujur, amanah, terpercaya, dan suka menolong orang. Justru, kekuatan akhlaq inilah yang menjadi daya tarik orang-orang menjadi beriman dan mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw. Sayyidah Khadijah dengan tegas menyatakan hal demikian, ketika Nabi Saw merasa galau dengan beban dan tanggung-jawab kewahyuan ini.

Sikap ini juga yang para sahabat ikuti, terutama Abu Bakar ra. Sehingga, ketika keimanannya dibenci dan banyak orang-orang kafir Quraish memusuhi, Abu Bakr ra mendapat dukungan dan terlindungi beberapa tetua yang lain, untuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Ini semua, karena kekuatan akhlak kepada orang-orang yang berbeda agama sekalipun. Jujur, suka menolong, menghormati tamu, dan menyambung pesaudaraan (Sahih Bukhari, no. 2341).

Nabi Saw tidak memusuhi siapapun, hanya karena berbeda agama. Yang Nabi Saw sesali hanyalah sikap permusuhan mereka dan tindakan kekerasan yang mereka lakukan kepada orang-orang yang masuk Islam. Tiga putri Nabi Saw, yaitu Ruqayyah ra, Umm Kultsum ra, dan Zainab ra, menikah dengan orang-orang yang tidak beriman dengan kenabian beliau.

Tetapi Nabi Saw hanya meminta suami Ruqayyah ra dan Umm Kultsum, bernama Utbah dan Utaibah, untuk menceraikan, karena sikap permusuhan mereka kepada Nabi Saw. Bukan karena ketidak berimanan mereka kepada Islam yang dibawa Nabi Saw.

Sementara suami Zainab ra, bernama Rabi’ bin al-Ash, sekalipun tidak beriman, tetap memiliki relasi yang baik dengan Nabi Saw. Karena itu, Nabi Saw tidak mengusiknya, tetap menghormati, dan memiliki hubungan yang baik dengannya. Sampai akhirnya, Rabi’ bin al-Ash ra, masuk Islam, sekitar 3 atau 4 tahun setelah Nabi hijrah ke Madinah. Artinya, sekitar 15 tahun, setelah ada agama Islam, Nabi Saw tetap memiliki hubungan yang baik dengan menantunya yang tidak (belum) beriman.

Eksperimen Dakwah Mekkah

Ketika Nabi Muhammad Saw diutus, tentu saja semua orang belum beriman. Lalu, dengan kekuatan akhlak Nabi Saw, beberapa orang mulai beriman dan masuk Islam. Yang tidak beriman, ada yang memusuhi secara keras dan ada yang tidak memusuhi. Bahkan ada yang memberi dukungan secara penuh, sekalipun tidak beriman. Akhlak Nabi Saw dengan orang yang berbeda agama, pada fase Mekkah ini, selalu berbuat baik dan sama sekali tidak menunjukkan sikap permusuhan.

Bahkan, Nabi Saw melarang para sahabat untuk bersikap buruk, apalagi melakukan permusuhan dengan mereka yang tidak beriman. Sekalipun mereka menerima hinaan dan siksaan dari orang-orang Quraish. Beberapa di antara mereka harus meregang nyawa, seperti Sumayyah ra dan suaminya Yasir ra. Kisah Mus’ab bin Umar ra, yang beriman dan membuat ibunya marah besar. Allah Swt memintanya untuk tetap berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama ibunaya (QS. Luqman, 31: 15).

Karena akhlak inilah, Nabi Muhammad Saw, selalu memperoleh dukungan pada masa-masa sulit. Seperti dukungan dan perlindungan dari Muth’im bin Adiy, ketika semua tetua Quraish sepakat untuk memboikot dan mengusir Nabi Saw dari Mekkah. Nabi Saw juga memperoleh dukungan yang sangat besar dari sang paman, Abu Thalib, yang dalam riwayat sejarah Sunni masih tetap tidak beriman di akhir hayatnya.

Nabi Saw menyesali dan tidak memiliki hubungan yang baik dengan paman lain, bernama Abu Lahab, bukan karena ia tidak beriman. Tetapi karena permusuhannya yang sangat keras, menghina, memfitnah, bahkan melakukan berbagai tindak kekerasan. Sementara dengan paman lain, bernama Abbas, sekalipun tidak beriman, Nabi Saw tetap memiliki relasi dan akhlak yang baik. Abbas baru masuk Islam di akhir kehidupan Nabi Saw.

Ketika Islam sudah besar dan berkuasa di Madinah dan Mekkah. Namun, selama Abbas belum beriman, Nabi Saw sama sekali tidak menunjukkan sikap permusuhan. Bahkan, ada riwayat Nabi Saw meminta para sahabat untuk tidak membunuhnya pada saat perang Badar dan Uhud, sekalipun dia berada di pihak musuh Quraish, karena sikap baiknya terhadap Nabi Saw dan umat Islam. Yaitu, memberi dukungan informasi dan logistik secara diam-diam.

Sejarah Nabi Menjalin Relasi dengan Orang yang Berbeda Agama

Catatan sejarah mengenai berbagai delegasi yang datang pada fase Mekkah adalah adalah sangat kentara mengenai akhlak Nabi Saw dengan orang yang berbeda agama. Menghormati, mendengar, mengajak, dan berbuat baik dengan mereka. Ketika mereka beriman, Nabi Saw bersyukur. Ketika tidak, Nabi Saw tetap memiliki relasi yang baik dengan mereka. Delegasi Kristen Najran, misalnya, ada yang beriman dan ada yang tidak. Delegasi Hirah dari Irak, memilih tidak beriman, sekalipun tetap hormat kepada Nabi Muhammad Saw.

Momentum paling penting dalam hal ini adalah eksperimen hijrah ke Habasyah, atau Etiopia. Lebih dari 70 sahabat Nabi Saw, secara bergelombang, eksodus ke Etiopia untuk mencari suaka. Rajanya, bernama Najasyi menerima dan menyambut umat Islam dengan baik. Dia beragama Kristen dan masyarakatnya semua Kristen. Para sahabat hidup dengan perlindungan dan kebaikan mereka di tanah Etiopia. Nabi Saw memuji Raja Najasyi dan memiliki relasi yang baik, sekalipun dia tidak beriman.

Relasi para sahabat dengan orang-orang yang berbeda agama di tanah Etiopia ini bisa menjadi eksperimen tersendiri tentang hidup di negara yang mayoritasnya tidak beragama Islam. Bahkan, bisa menjadi sumber hukum fiqh. Yang jelas, Nabi Saw dan para sahabat puas dan memiliki hubungan yang kuat dan baik, sekalipun orang-orang Etiopia yang beragama Kristen tetap dengan agama dan hukum yang mereka pilih sendiri.

Demikianlah di antara sumber inspirasi Islam, tentang akhlak Nabi Saw dengan orang yang berbeda agama yang tetap al-amin. Bersikap jujur, amanah, terpercaya, baik, dan suka menolong ornag. Kita akan lanjutkan pada fase sejarah Nabi Saw berikutnya, yaitu ketika berada di Madinah. []

Tags: Akhlak NabiislamsejarahSirah NabawiyahSunah Nabi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Membela Perempuan Menjadi Salah Satu Amanah Ajaran Kenabian

Next Post

Doa Memohon Perlindungan dari Bahaya Santet dan Setan

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Syarifah Baghdad
Figur

Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara

20 Juli 2026
Kepemimpinan Abu Bakar
Hikmah

Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

15 Juli 2026
Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Lini Masa
Buku

Agama, Peristiwa Lini Masa, dan Bagaimana Sikap Kita?

7 Juli 2026
Kepemimpinan Perempuan
Publik

Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

7 Juli 2026
Lirik Lagu
Personal

Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

7 Juli 2026
Next Post
Doa Memohon Perlindungan dari Bahaya Santet dan Setan

Doa Memohon Perlindungan dari Bahaya Santet dan Setan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0