Mubadalah.id – Hari ini, saya mengikuti pertemuan bulanan Muslimat Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah (NWDI) di Sembalun, Lombok Timur. Pertemuan ini dipimpin oleh ketua umum Muslimat NWDI, Sitti Rohmi Djalilah, salah satu ulama perempuan dari Nusa Tenggara Barat.
Nama Sitti Rohmi Djalilah tidak lepas dari tradisi besar Nahdlatul Wathan di Pancor, Lombok Timur. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang menjadikan pendidikan dan dakwah sebagai jalan hidup. Sejak kecil, Umi Rohmi, demikian panggilan akrabnya, terbiasa dengan suasana pengajian, diskusi keagamaan, dan dinamika organisasi yang membentuk kepekaan sosialnya.
Rohmi merupakan cucu dari Maulana Syaikh Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan dan pelopor pendidikan Islam modern di Lombok, serta putri dari Sitti Rauhun (Umi Rauhun), tokoh perempuan Nahdlatul Wathan yang melanjutkan perjuangan pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat.
Seiring waktu, Rohmi tidak hanya tumbuh membawa nama besar keluarga. Ia secara sadar memilih menapaki jalannya sendiri melalui gerakan perempuan, pendidikan, dan kerja-kerja sosial kemasyarakatan.
Gerak Muslimat NWDI
Di antara ruang pengabdian yang paling menonjol dalam perjalanan hidup Rohmi adalah perannya sebagai pimpinan Muslimat NWDI Lombok Timur. Melalui organisasi perempuan ini, ia aktif berdakwah untuk memperkuat majelis taklim dan membangun kesadaran kolektif bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pendidikan keluarga dan masyarakat.
Di bawah arahan dan pembinaannya, Muslimat berkembang menjadi lebih dari sekadar forum pengajian rutin. Ia menjelma sebagai gerakan perempuan yang hidup dan responsif terhadap persoalan sosial. Jaringan Muslimat NWDI menjangkau ribuan jamaah perempuan di berbagai wilayah di NTB. Dari pengajian, pelatihan, hingga forum pertemuan rutin, pengaruhnya terasa dalam perubahan cara pandang perempuan terhadap pendidikan, kemandirian, dan peran sosial.
Sebagai ulama, ia tidak selalu menyampaikan materi keagamaan dalam bentuk ceramah normatif. Dalam setiap pengajian dan pertemuan Muslimat, ia berupaya menafsirkan nilai-nilai Islam dalam konteks pendidikan, keadilan sosial, dan kesetaraan. Baginya, agama harus menjadi sumber penguatan, bukan pembatas ruang gerak perempuan.
Dalam pertemuan Muslimat hari ini misalnya, ia menyampaikan tentang pentingnya asupan yang sehat untuk pikiran yang sehat. Bagaimana rezeki yang halal dan pengelolaan makanan yang baik bisa mempengaruhi kesehatan keluarga. Pertemuan ini juga menghadirkan seminar digital marketing untuk meningkatkan kapasitas ekonomi perempuan NWDI yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM.
“Muslimat itu harus pintar, harus bermanfaat, dan bisa menjadi edukator untuk yang lainnya,” ucapnya sebelum membuka sesi seminar.
Bagi Rohmi, dakwah harus menyentuh kebutuhan konkret masyarakat. Perempuan perlu memiliki keterampilan, akses informasi, dan ruang aman untuk bertumbuh. Program-program Muslimat NWDI tidak hanya berdampak pada anggota organisasi, tetapi juga memberi dampak sosial yang lebih luas di NTB.
Pentingnya Pendidikan bagi Siapapun
Sebagai akademisi, Rohmi menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor dan kemudian mendapatkan amanat sebagai rektor di Universitas Hamzanwadi Pancor. Baginya, dunia kampus adalah medan penguatan kualitas sumber daya manusia. Ia mendorong peningkatan mutu akademik, penguatan riset, serta pembinaan karakter mahasiswa agar pendidikan tidak tercerabut dari nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Ia berulang kali menegaskan prinsip yang mendasar, “Tidak boleh ada anak NTB yang tidak sekolah.” Baginya, pendidikan adalah hak setiap warga, tanpa kecuali. Ia juga menekankan bahwa perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas bukan hanya berhak didengar, tetapi juga setara dalam setiap langkah membangun negeri. Komitmen ini diterjemahkan dalam dorongan kuat terhadap akses pendidikan, advokasi beasiswa, serta penguatan kesadaran orang tua agar menjadikan sekolah sebagai prioritas utama bagi anak-anak mereka.
Pengalaman panjangnya dalam menggerakkan Muslimat dan pendidikan kemudian membawanya pada ruang pengabdian yang lebih luas ketika ia mendapat mandat sebagai Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 2018–2023. Dalam posisi tersebut, komitmennya terhadap pendidikan dan keberpihakan pada kelompok rentan semakin menemukan ruang kebijakan yang lebih sistemik. Dalam jabatan struktural itu, Rohmi tetap membawa semangat yang sama yaitu pembangunan daerah harus berangkat dari penguatan keluarga, perempuan, dan generasi muda.
Keberpihakan dan Dampak Sosial
Perjalanan pengabdian Rohmi tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Sebagai perempuan yang memimpin di ruang keagamaan, akademik, dan publik, ia pernah diragukan oleh sebagian kalangan yang masih memandang kepemimpinan sebagai domain laki-laki. Di tengah budaya yang kerap menempatkan perempuan sebatas pendamping, kehadirannya sebagai penggerak organisasi, akademisi, sekaligus pejabat publik tidak selalu mudah diterima.
Namun ia memilih menjawab keraguan itu melalui kerja nyata dan konsistensi. Ia hadir di tengah jamaah, menguatkan institusi pendidikan, dan membangun jejaring sosial yang terus hidup di tengah masyarakat. Perlahan, ketekunan itu membangun legitimasi sosial yang tidak lagi bertumpu pada garis keturunan semata, tetapi pada kapasitas dan integritasnya sebagai pemimpin.
Pengaruhnya pun terasa luas. Ribuan jamaah Muslimat berada dalam jejaring pembinaan yang ia gerakkan. Setiap forum Muslimat yang ia pimpin menjadi ruang konsolidasi perempuan lintas usia, mulai dari ibu rumah tangga, guru, hingga aktivis komunitas. Di ruang akademik, mahasiswa dan civitas akademika Universitas Hamzanwadi merasakan arah kepemimpinannya yang menekankan mutu, kedisiplinan, dan nilai keislaman. Di tengah masyarakat, ia menjadi rujukan dalam isu pendidikan, perempuan, dan keluarga.
Melalui penguatan Muslimat, pendidikan, dan kerja-kerja sosialnya, Rohmi menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dapat tumbuh dari kerja yang dekat dengan masyarakat, sekaligus tetap berpijak pada tradisi keagamaan yang hidup.
Dari pertemuan Muslimat hari ini, saya melihat bahwa Rohmi tidak hanya berdakwah melalui ceramah, tetapi juga lewat upaya mendengar, mendampingi, dan membuka ruang belajar bagi perempuan. Di tengah masyarakat yang masih sering membatasi peran perempuan, ia menunjukkan bahwa ulama perempuan dapat hadir bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat. []








































