Mubadalah.id – Sebagaimana kita ketahui, melaksanakan ibadah haji adalah rukun Islam yang ke-5. Haji ini merupakan ibadah yang wajib hukumnya bagi yang mampu.
Sebagaimana salah satu firman Allah SWT dalam A-Qur’an:
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya, “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 97)
Ibadah haji merupakan suatu impian dan juga cita-cita bagi umat Islam untuk menjalankannya. Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru bumi pergi ke tanah suci.
Semua umat Islam apapun sukunya, apapun negaranya, tak terkecuali juga ibadah haji bagi disabilitas. Dan tercatat bahwa ada sekitar 404 calon jemaah haji disabilitas dari Indonesia tahun 1447 H/2026 M ini.
Haji Disabilitas
Jemaah haji disabilitas 2026 memiliki kisahnya masing-masing. Di antara kisahnya yaitu yang pertama dari Mbah Sarjo Utomo. Beliau merupakan disabilitas netra yang bekerja sebagai petani.
Beliau tetap bekerja dan menabung hingga mampu membeli tanah dan rumah dari hasil jerih payahnya. Dari hasil kerja itu pula beliau mendaftarkan diri untuk berhaji bersama istrinya pada 2012.
Namun, tahun 2024 istri beliau meninggal. Untuk melunasi biaya haji, beliau menjual tanah yang dibelinya.
Keluarga Mbah Sarjo sempat khawatir terkait kondisi fisiknya karena pergi ke tanah suci menuntut aktivitas tinggi. Namun atas semangatnya, kekhawatiran bukan menjadi halangan untuk berhaji.
Dan pada tahun 2026 ini Mbah Sarjo berangkat berhaji kloter pertama embarkasi Yogyakarta.
Kisah lainnya yaitu berasal dari Aceh yang bernama Pak Muhammad Erlita. Pak Erlita bekerja sebagai ASN. Beliau sudah menanti untuk berangkat berhaji selama 14 tahun lamanya.
Pak Erlita tergabung dalam kloter BTJ 9. Beliau memiliki harapan yang tidak muluk-muluk, yaitu menjadi haji yang mabrur.
Kisah Pak Erlita ini menjadi bukti bahwa semangat, do’a, dan tekad yang kuat mampu mengalahkan segala keterbatasan demi meraih impian suci untuk berhaji.
Sempat menjadi sorotan juga haji perempuan disabilitas pada tahun 2025 kemarin. Ia memiliki nama Putri Aura Hermawan. Putri berasal dari Binjai dan merupakan disabilitas netra.
Putri merupakan seorang Qori’ah dan penghafal Al-Qur’an. Ia juga tercatat sebagai mahasiswi Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Universitas Negeri Padang.
Pada tahun 2025, Putri berangkat untuk berhaji pada usia 21 tahun. Putri memiliki semangat yang tinggi untuk pergi ke tanah suci.
Terdapat juga kisah dari nenek Muayatur Rohmah yang berasal dari Jember. Beliau merupakan lansia disabilitas daksa yang berangkat haji dengan menabung dari hasil menjahit.
Selain bekerja sebagai penjahit, nenek Mauayatur juga menyewakan sepetak sawah kecil miliknya. Dengan modal kemandirian serta ketangguhan, beliau berangkat menunaikan ibadaha haji pada tahun kemarin.
Dan masih banyak lagi kisah jemaah haji yang merupakan penyandang disabilitas.
Di Balik Ibadah Haji
Teringat perkataan Mbah Sarjo di salah satu kanal YouTube, yang mengatakan, “Saya jual kebun pekarangan rumah saya untuk daftar haji. Karena saya ini orang Islam toh, kan rukun Islam yang kelima kalau mampu harus dilaksanakan. Kan saya merasa mampu. Mata saya diperkirakan oleh dokter tidak bisa sembuh. Jadi saya pengen beribadah untuk sangu (bekal) saya besok dipanggil Allah”.
Semangat para jemaah disabilitas sering kali menghadirkan pelajaran penting. Di saat banyak orang mudah mengeluh karena rasa lelah, banyak dari penyandang disabilitas justru memperlihatkan ketabahan yang menguatkan.
Mereka menjalani setiap rangkaian ibadah dengan penuh kesungguhan, bahkan setelah melewati proses panjang untuk bisa berangkat ke tanah suci.
Seperti halnya kisah tadi, tidak sedikit dari mereka yang harus menabung bertahun-tahun, menjaga kesehatan ekstra, hingga mempersiapkan diri secara matang agar mampu menjalani ibadah haji dengan baik.
Berbicara mengenai pelaksanaan haji bagi disabilitas, beberapa fasilitas ibadah memang menyediakan jalur kursi roda dan layanan pendampingan. Namun, jemaah haji disabilitas terkadang masih berhadapan dengan tantangan.
Dan harapannya, pelaksanaan ibadah haji 2026 ini sesuai dengan tema yang diusung yaitu, “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan”.
Di balik tantangan itu, jemaah disabilitas masih menunjukkan tekad. Mereka datang bukan untuk dikasihani, tetapi untuk membuktikan bahwa keterbatasan tidak mengurangi keteguhan iman seseorang.
Semangat penyandang disabilitas dalam berhaji menjadi gambaran bahwa ibadah tidak diukur dari kesempurnaan fisik, tetapi dari kualitas amal dan ketaatannya. Sehingga, kisah nyata dari jemaah disabilitas dalam melaksanakan ibadah haji mengajarkan banyak hal tentang kesabaran, perjuangan, dan harapan.
Hal ini memperlihatkan bahwa jalan menuju tanah suci memang tidak selalu mudah, tetapi keyakinan mampu menguatkan langkah seseorang melewati berbagai keterbatasan.
Kehadiran jemaah disabilitas juga menjadi pengingat bahwa ibadah adalah hak semua orang. Dalam ajaran Islam sendiri, yang membedakan suatu hamba yaitu ketakwaannya, bukan dari kondisi fisiknya. []












































