Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Pancasila itu Islami Banget, Begini Penjelasannya

Dalam konteks Indonesia, indikator berhasil tidaknya Negara ini adalah dengan jawaban dari satu pertanyaan. Apakah Negara telah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali?

Aspiyah Kasdini RA by Aspiyah Kasdini RA
27 September 2022
in Featured, Publik
A A
0
Pancasila itu Islami

Pancasila itu Islami

98
SHARES
4.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pro-kontra pendirian Negara Islam dengan sistem kekhalifahan tampaknya selalu memiliki ruang. Dan hadirnya para tokoh hampir di setiap sudut Negara yang memiliki penduduk Muslim. Kejayaan peradaban Islam di era klasik dianggap sebagai hasil dari bentuk pemerintahan dengan sistem kekhalifahan ini. Di Indonesia sendiri, tak luput dari persoalan ini. Padahal Pancasila itu Islami. Melalui tulisan ini saya akan menjelaskannya.

Kalau mau jujur kita kerap abai, di balik kejayaan-kejayaan tersebut banyak permusuhan yang terjadi. Antara lain peperangan dengan mereka yang berbeda agama, bahkan juga sesama saudara seagama sendiri. Hingga peradaban Islam mengalami kemunduran dan mulai bangkit kembali setelah para pemikir Islam era kontemporer memaknai ulang ayat-ayat keagamaan.

Tujuannya adalah agar umat Muslim dapat hidup dengan penuh kedamaian. Kepemimpinan pemerintahan dengan sistem demokrasi merupakan terobosan untuk mencapai cita-cita perdamaian bagi seluruh umat manusia ini.

Ijtihad atas hal tersebut merupakan hal yang perlu kita apresiasi, kita dukung, kawal, dan saling menguatkan. Bukan justru kita kembali berpikir ke belakang dan menggunakannya untuk kehidupan di masa yang mendatang, itu sudah tidak relevan lagi.

Pancasila Islami

Dalam konteks bangsa Indonesia, dasar dan falsafah Negara ini Pancasila itu Islami. Sehingga tidak perlu lagi kita merusak apa yang telah para pendiri bangsa rumuskan. Yaitu dengan mempertimbangkan keberagaman yang alami, lalu menjalankan dan meneguhkannya dalam keseharian hidup berbangsa.

Pada buku berjudul Syarah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam Perspektif Islam yang disusun oleh Masdar Farid Mas’udi, Yudi Latif, Miftah Faqih, Hasibullah Satrawi (Penerbit Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi NKRI). Ada penjelasan bahwa nilai dasar yang terdapat dalam konstitusi itu sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Sehingga masyarakat hendaknya mengetahui dan memahami, hakikat dari memperjuangkan cita-cita nasional sama halnya dan sejalan dengan memperjuangkan nilai-nilai luhur agama.

Sebagaimana tertulis dalam paragraf terakhir dan menjadi Preambule Konstitusi ’45, NKRI. Berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan serta mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama ini merupakan konsep Ketauhidan. Sila ini tidak menafikan keberadaan agama-agama selain Islam di Indonesia, karena “tauhid” adalah keyakinan yang terdalam dan paling awal (primordial) dari semua agama-agama yang ada di dunia. Sebagaimana terjemah Alquran Surah Al-Anbiya ayat 25: “Tidak pernah Kami utus seorang rasul sebelum kamu (Muhammad) kecuali kepadanya Kami ajarkan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku saja, maka sembahlah Aku.”

Meskipun setiap dari kita mengetahui, bahwasanya kita menganut syariat atau cara keberagamaan yang berbeda-beda. Sebagaimana terjemah Alquran Surah Al-Hajj ayat 34: “Bagi masing-masing umat ada acara ibadah (kurban)-nya sendiri untuk menyebut nama Allah atas rizki yang dianugerahkan-Nya berupa hewan-hewan ternak; karena Tuhan kalian itu Satu, maka kepada-Nyalah kalian semua berserah diri, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk-patuh.”

Atau meskipun kita juga tahu, bahwa kita memiliki tempat ibadah yang berbeda, sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Haj ayat 40: “sekiranya tidak ada pembelaan Allah atas keganasan manusia atas manusia yang lain, niscaya telah dihancurkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, sinagor-sinagog Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” Ringkasnya, pada dasarnya semua agama mengajarkan ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kemanusiaan

Yang menjadi prinsip pada sila kedua ini menegaskan bahwa hakikat dan martabat manusia-lah yang harus menjadi acuan moral dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan-kebijakan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Siapakah manusia?

Dalam Hadis Bukhari Muslim tertulis bahwasanya Rasulullah menjelaskan : “Bahwa Allah menciptakan manusia atas gambar-Nya.” Hadis ini senada dengan bunyi Taurat dalam Kitab Perjanjian Lama: “Maka Allah menciptakan manusia atas gambar-Nya; menurut gambar Allah diciptakan-Nya manusia; laki-laki dan perempuan.”

Dari sisi lain, sebagaimana Alquran Surah Al-Sajdah ayat 7,8,9, manusia secara material-jasmaniyah tercipta dari tanah, sedangkan secara spiritual-batiniyah tercipta dari ruh yang ditiupkan oleh Allah sendiri dari pada-Nya. Atas dasar inilah Allah Swt. memberikan kemuliaan kepada manusia melebihi makhluk lainnya (QS. Al-Isra: 70).

Jika telah demikian, maka kejahatan atas integritas ruhani dan jasmani manusia merupakan kejahatan  yang berat (“karena itulah maka Kami tetapkan hukum atas Bani Israil, bahwa siapapun yang membunuh jiwa tanpa jiwa/bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau membuat kerusakan di bumi, seakan dia membunuh manusia seluruhnya, dan siapapun yang menghidupi manusia maka seolah-olah dia menghidupi seluruh manusia.” QS. Al-Maidah: 32).

Dengan demikian, pada hakikatnya memuliakan manusia adalah memuliakan Tuhan, dan sebaliknya.

Persatuan

Pada sila ketiga menggambarkan konsep menyatunya segala unsur yang berbeda. Persatuan dengan definisi ini merupakan bergabungnya manusia secara sadar dalam wadah dan pola kebersamaan yang terstruktur, dengan visi, aturan main, serta kepemimpinan guna mencapai satu cita dan tujuan bersama dalam bentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hal ini senada dengan Firman Allah dalam: QS. Ali Imran ayat 103: “berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama dan jangan bercerai-berai,”; dan juga QS. Al-Maidah ayat 2 yang memerintahkan untuk bekerjasama atas kebaikan dan ketakwaan, bukan bekerjasama untuk perbuatan dosa dan permusuhan.

Konsep persatuan ini juga dipelopori oleh Nabi Muhammad Saw sejak 14 abad yang lalu dengan membangun pemerintahan yang dibangun atas landasan penghargaan terhadap kebhinekaan agama, tradisi dan suku, yang kemudian kita kenal dengan sebutan Piagam Madinah.

Dalam konteks bangsa Indonesia yang memiliki latar belakang beragam, semangat persatuan ini sungguh mulia. Dan persatuan ini dapat kita wujudkan hanya dengan semangat persaudaraan yang tinggi oleh semua pihak sebagaimana telah para pendiri bangsa teladankan.

Tepatnya saat persitiwa penghapusan redaksi 7 kata pada sila pertama “…dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.” Penghapusan 7 kata tersebut salah satunya adalah untuk menjaga persatuan bangsa dalam mewujudkan tujuan bersama.

Nyatanya, peristiwa ini serupa dengan peristiwa yang terjadi saat perumusan Perjanjian Perdamaian Hudaybiyah. Rasulullah Saw. sendiri yang menghapus 7 kata dalam perjanjian tersebut, yakni: bi, ism, Allah, al-rahman, al-rahim, rasul, Allah, agar mendapatkan kesepakatan kedua belah pihak untuk melakukan perdamaian bersama.

Kerakyatan

Rakyat yang menjadi prinsip kenegaraan memiliki arti bahwa kepentingan rakyatlah yang harus menjadi sumber inspirasi kebijakan dan langkah kekuasaan Negara. Bukan pada kepentingan sang penguasa atau pejabat pemerintahan, dan seorang pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya kelak di hari akhir (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, prinsip kerakyatan adalah tentang apa yang terbaik baik bagi rakyat. Jika rakyat telah mendapatkan apa yang baik baginya dari pemimpin yang sedang memerintah, maka itulah yang terbaik bagi sebuah Negara dan bangsa, begitu pula yang berlaku sebaliknya. Guna memastikan kebaikan tiap rakyat yang jumlahnya sangat banyak, maka kita memerlukan mekanisme sekaligus lembaga politik yang kita sebut MPR dan DPR.

Keadilan

Adil adalah memperlakukan setiap orang secara setara, tanpa diskriminasi berlandaskan hal-hal yang bersifat subyektif. Segala bentuk perbedaan tidak dapat menajdi alasan untuk mendiskriminasi orang lain. Justru hal tersebut merupakan salah satu kebesaran Allah (Di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah terciptanya langit-langit dan bumi, juga beraneka ragam bahasa dan warna kulit; sungguh dalam itu semua ada ayat-ayat kebesaran Allah bagi semesta (QS. Rum: 22, lihat pula Al-Hujurat: 13)).

Termasuk dalam perbedaan keyakinan. Hal tersebut tidak dapat kita jadikan alasan untuk mendiskriminasi dan memusuhi siapapun yang berbeda dengan kita. Karena persoalan agama dan keyakinan adalah persoalan bagaimana Allah Swt. memberikan petunjuk ke masing-masing makhluknya (lihat QS. Al-Mumtahinah: 8).

Saat menyampaikan pidatonya dalam Haji Wada’, Rasulullah menegaskan tentang pentingnya kesetaraan dan larangan fanatisme terhadap nasab dan suku secara berlebihan, adapun yang dapat menjadi pembeda dan kelebihan seorang makhluk di hadapanya Tuhannya hanyalah ketakwaannya saja. Keadilan meliputi semua hal yang berkaitan dengan hak asasi manusia baik secara kodrati dan sosial.

Negara sebagai Penegak Keadilan

Oleh karena itu, untuk mewujudkan keadilan ini, Negara sebagai pelindung dan penegak keadilan harus memprioritaskan warga yang lemah. Guna mewujudkan keseimbangan dan kesetaraan yang menjadi indikator dalam keadilan.

Sebagaimana perkataan Rasulullah Saw. yang dinuqil oleh Imam Al-Mawardi: “Negara adalah payung Allah di muka bumi. Tempat berlindungnya rakyat yang terdzalimi (hak-haknya tidak terpenuhi/terampas). “Allah tidak mensucikan suatu umat/bangsa dimana si lemah tidak bisa mengambil haknya dari si kuat tanpa harus dibikin susah (HR. Thabraniy).

Juga riwayat yang Ibnu Taimiyah kutip dalam kitab Al-Hisbah: “Allah menolong Negara yang adil meskipun kafir (sekuler). Dan Allah tidak akan menolong Negara yang lalim meskipun mukmin (religius). Ringkasnya, Negara yang Allah kehendaki, maupun rakyat adalah Negara yang mampu memberikan perlindungan kepada rakyatnya yang lemah, dengan memenuhi haknya yang terampas dan hilang.

Dalam konteks Indonesia, indikator berhasil tidaknya Negara ini adalah dengan jawaban dari satu pertanyaan. Apakah Negara telah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali? Wallahu A’lam bishshawwaab. []

Tags: Dasar NegaraFalsafah NegaraIndonesiaKesaktian pancasilaPancasilaPancasila IslamiWawasan Kebangsaan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Cara agar Anak Terlindungi dari Kejahatan Trafficking

Next Post

Hukum Pijat Dalam Pandangan Islam

Aspiyah Kasdini RA

Aspiyah Kasdini RA

Alumni Women Writers Conference Mubadalah tahun 2019

Related Posts

Aborsi
Pernak-pernik

Aborsi Menurut Hukum Indonesia

2 Juli 2026
Pemimpin
Publik

Pemimpin Tanpa Kepala: Membaca Kondisi Indonesia Hari Ini

18 Juni 2026
Piala Dunia 2026
Publik

Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

16 Juni 2026
Santri Aman
Publik

Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

8 Juni 2026
Ida Nasution
Figur

Ida Nasution: Muslimah Pertama yang Meraih Gelar Doktor di Universitas Amsterdam

8 Juni 2026
Indonesia
Publik

Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

3 Juni 2026
Next Post
hukum pijat

Hukum Pijat Dalam Pandangan Islam

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0