Rabu, 22 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Pe(R)sona 2; Cinta tak Harus Memiliki

Biarkan aku mencintainya dengan caraku. Biarkan aku mencintainya dengan cara melepaskannya. Bunga yang indah harus dipetik dengan penuh tanggung jawab. Jika tak mampu, melepaskan adalah jalan terbaik. Biarlah ia mekar alami di tangkainya, memberkati semesta dengan bau harumnya, dan tetap indah sebagaimana mestinya.

Nikmara by Nikmara
7 Agustus 2022
in Rekomendasi, Sastra
A A
0
Cinta tak Harus Memiliki

Cinta tak Harus Memiliki

72
SHARES
3.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Aku tidak pernah merasa jatuh cinta sedalam ini. Mungkin kata-kata ini terdengar sangat klise karena di novel-novel cinta, film tentang cinta, drama cinta, hikayat, legenda, kisah-kisah cinta paling masyhur hingga yang paling tak terkenal, kata-kata ini sering dikatakan.

Tapi bagiku, ini baru, ini original, tidak klise sama sekali. Karena ini adalah pengalaman paling nyata yang kurasakan dan mempengaruhi cara padangku selama 40 tahun aku hidup di muka bumi. Terutama cara pikirku tentang cinta.

Aku tidak mengira, dapat jatuh cinta lagi. Dengan intensitas yang setinggi ini. Di usiaku yang tak muda lagi. Jatuh cinta yang melampaui debaran, seolah nyawaku hendak melayang saat aku berada di puncak kerinduan kepadanya.

Cinta yang mengajariku kebijaksanaan baru, merubahku menjadi lebih baik, membuatku merasakan keharuman mawar terbaik di taman terindah. Beserta seluruh duri dan rasa sakitnya yang ternyata beracun dan membutuhkan waktu seumur hidup untuk sembuh. Karena cinta tak harus memiliki.

Penyatuan Sempurna

Satu-satunya gadis yang mampu menatapku saat aku tak menatap padanya. Seorang gadis yang memahami lukaku, tidak menghakimi, tidak menuntut, tidak mengungkit. Bahkan dengan keluasan hatinya, ia memaklumi dan tak menganggap serius semua keburukanku. Katanya, “Aku mengetahui semuanya, semua rahasiamu, termasuk pikiran-pikiran liar dan imajinasi gelapmu. Aku menerimanya.”

Laki-laki mana yang tak pingsan mendengar ucapan seindah itu. Pernah kuajak dia mengimajinasikan peristiwa yang tak mungkin kuungkapkan pada dunia saking menjijikkan dan jahatnya. Dia mendengarkan, menerka, lalu menjawab dengan tenang:

“Kau cerdas, pikiranmu sering berkelana. Berpikir lurus itu biasa, berpikir di luar jalur itu keren. Hm… Kau pantas mendapatkan gadis yang setara denganmu. Maksudku, kecerdasan dipadu kecantikan memang penyatuan yang sempurna, bukan?”

Bukannya menghujatku. Dia bilang pikiranku manusiawi. Malah memuji kejahatan pikiranku. Padahal awalnya aku mengira dia hanya gadis cantik yang hanya tahu tentang hal-hal lembut. Tidak suka pada agresivitas dalam bentuk apapun. Namun semakin mengenalnya, dia selalu berhasil membuatku tercengang.

Ada banyak hal yang belum kuketahui tentangnya.

Rasa Cinta

Dia memiliki rasa cinta yang besar untukku. Seolah dia hendak merobohkan gunung dan menguras habis air di samudera. Ini bukan sekedar kiasan. Dia akan melakukan semuanya jika aku meminta. Oleh sebab itulah sejauh ini aku berusaha untuk tidak meminta. Karena tahu dia akan melakukan apapun yang kukatakan. Jangankan menanggalkan harga diri, jika aku meminta dia menancapkan pisau di lehernya sendiri, dia akan melakukannya.

Kadang aku merasa tak pantas, dicintai sedalam ini oleh gadis sepertinya. Ucapan dan gerak-geriknya tidak pernah membuatku bosan meskipun sangat sederhana dan receh. Dia menyetujui dan menolak pendapatku dengan caranya sendiri, yang selalu terlihat lemah di awal, namun mengejutkanku di akhirnya.

Dia punya jurus-jurus aneh penuh kamuflase. Seolah dengan tangan lembutnya ia membimbing dan mengajakku berjalan di atas air. Lalu dengan kekuatan supranaturalnya dia berhasil membawaku mengambang, melangkah dengan nyamannya. Namun di tengah danau, dia melepaskan sihirnya, lalu tenggelamkanku tanpa ampun.

Dalam hidup ini, aku pernah melakukan kesalahan. Mengajak seorang wanita berlibur dan menidurinya. Mengatakannya saja aku merasa bejat. Lebih bejat lagi karena aku tak bisa bertanggungjawab selayaknya pria. Kukatakan pada semesta bahwa hubunganku dengan wanita itu hanya kecelakaan, khilaf. Betapa pengecutnya aku, mengatakan kata “khilaf” padahal aku telah menghisap sari-sarinya. Jahannamnya aku. Untunglah wanita itu sudah bertemu laki-laki baik yang menerimanya apa adanya. Makin jahatlah posisiku.

Saat kuceritakan kisah ini pada gadis yang baru datang di hidupku ini, dia tidak menjawab apa-apa. Sedikit cemas, tapi tak berlangsung lama. Dia kemudian menjawabku melalui storynya di medsos. Dia memposting foto buku Hamsad Rangkuti yang berjudul “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?” Ia beri caption: Jangankan cuma menghapus bekas bibir, aku siap memberimu segalanya. S-e-g-a-l-a-n-y-a.

Betapa mengejutkan. Menemukan seseorang yang mau menerima keburukanmu seburuk-buruknya, tidaklah mudah. Mungkin kesempatannya hanya seratus ribu banding satu atau satu juta banding satu. Masa laluku yang kelam tampak hanya seperti selembar kapas baginya. Dia bahkan menghadiahiku seluruh cintanya. Aku senang, tapi juga malu. Malu kenapa Tuhan memberkatiku sedemikian hebat, mendatangkan bidadari yang baik hati pada manusia hina sepertiku.

Pemuja Kecantikan

Meski sulit, namun aku harus mengakui bahwa aku playboy. Aku keranjingan dengan hal-hal yang indah. Salah satunya dengan kecantikan. Itulah sebabnya, aku selalu melabuhkan hatiku pada perempuan. Random saja, asal saja. Aku selalu menjatuhkan hatiku pada perempuan yang kunilai paling cantik.

Semua perempuan yang kujumpai, kujadikan figur yang jadi objek sembahanku. Ku follow semua akun medsosnya, kusimpan nomer ponselnya, ku chat dengan berbagai kedok. Kudekati mereka dengan apapun yang mereka inginkan, aku mengidentifikasi kecenderungan psikologis dan preferensi pribadi mereka. Kuajak mereka mengobrol ini-itu yang muaranya adalah… aku ingin mereka terpesona dan jatuh cinta padaku. Gilanya diriku.

Hampir semuanya wanita yang kudekati itu cantik, fisiknya tentu saja. Pernah sekali kujatuhkan hati pada seorang gadis yang secara fisik jauh dari deskripsi cantik namun dia cerdas luar biasa. Dia sekolah doktor di luar negeri. Kemampuan nalarnya mengagumkan. Buku-buku koleksinya menggetarkanku, terlebih semuanya berbahasa asing.

Kupikir jika dia jadi pasanganku, aku akan merasakan puluhan kali lipat keindahan, sebab, seperti kata Nizar Qabbani: berdebat dengan perempuan cerdas lebih nikmat dari bercinta dengan perempuan bodoh. Betapa pikiranku perlu didaur ulang.

Pernah aku bermain ke rumah salah satu perempuan incaranku dengan dalih ingin silaturrahmi. Padahal aku mengincar perjumpaan dengannya dan perkenalan dengan keluarga dan orangtuanya. Tanpa pikir panjang aku melangkah saja. Padahal sejatinya, hakikatnya, tak bisa kuberikan apapun pada gadis itu selain fatamorgana. Aku hanya tak bisa membendung hasrat diriku untuk mengejar gadis yang kusukai, ingin bersenang-senang dengannya, tanpa melihat siapa diriku, status sosial dan atribut yang kumiliki.

Jatuh Cinta pada Perempuan yang Beda

Dan kali ini, Lintang Paramitha, berbeda. Dia mengenalku dengan kualitas pribadi yang tak kusangka-sangka. Mencintaiku dengan kondisiku saat ini, yang bahkan semua perempuan normal tak akan melakukannya. Ia murni digerakkan oleh cinta.

Namun kendati aku tahu, kadang aku masih suka menghujatnya. Bahkan tak tanggung-tanggung aku juga mempertanyakan martabatnya, apakah dia perempuan baik-baik? Pertanyaan yang kejam, jahat, tak beradab. Pertanyaan seorang pria tak bermoral kepada kekasihnya yang tulus.

Semua hujatanku padanya tentu tak pantas kukatakan. Semua kulakukan karena aku putus asa, aku hanya menyumpah pada diri sendiri, semua untuk menutupi ketidakmampuan dan ketidaksanggupanku menggenggam tangannya dan menjadikan dia milikku satu-satunya. Aku kehilangan alasan, jadi aku mencari-cari kesalahannya, kesalahan gadisku.

Pertobatanku menjadi lelaki playboy juga karenanya. Dia menyadarkanku pada realitas dan posisiku. Dia membuatku membuka mata, bahwa semua yang kulakukan adalah bentuk kegilaan yang harus kuhentikan—yang selalu kuhindari kebenarannya. Lintang Paramitha memahami alasan mengapa aku bersikap demikian. Analisisnya mengagetkanku. Dia seperti dukun, cenayang, yang bisa membaca pikiranku. Sedikit menakutkan berhadapan dengannya. Namun dia tak menghujatku. Tetap berdiri di sisiku. Memaklumi kemanusiaanku.

Tentu aku dibuat pening karenanya. Nuraniku terkoyak. Hidupku terganggu. Aku tak bisa tidur dan terus memikirkannya. Apa yang harus kulakukan padanya? Semua perempuan yang kudekati sebelumnya tak ada yang seperti Lintang, semuanya berakhir menjauh. Lintang justru mendekat setelah tahu segalanya.

“Kau terlalu indah untuk dihancurkan. Jadi mulai hari ini, pergilah!” Kukatakan padanya setelah berpikir beberapa hari dan mendiaminya. Tentu dia menangis sejadinya, berhari-hari, hingga masuk ke rumah sakit dan hampir menemui ajalnya. Untunglah dia sehat kembali dan bisa mempertahankan hidupnya.

Aku tetap kokoh pada pendirianku. Aku melepaskannya. Harus melepaskannya. Membiarkannya mengarungi belantara misteri dan petualangan kehidupannya sendiri. Memberinya kehidupan indah yang sudah sepantasnya ia terima. Kuhadiahi dia kebebasan dan nafas-nafas paling segar kehidupan. Sebab aku adalah penjara. Tak ada yang bisa kuberikan kepadanya selain siksaan. Menyanderanya adalah kejahatan tak termaafkan. Aku tak ingin jadi pengecut lagi.

Dia berhak bahagia. Dia berhak mendapatkan cinta dari laki-laki baik yang mampu membawanya dalam kesejahteraan dan kehormatan.

Biar Terluka Mencintai dengan Cara Sendiri

“Kau tak mencintainya?” Tanya temanku.

Bodoh. Lelaki mana yang tidak mencintai gadis sepertinya. Namun mencintainya akan merusak seluruh tatanan semesta. Mungkin dia siap hancur lebur. Tapi aku tidak tega melihatnya hancur. Karena pada akhirnya, yang akan menderita banyak kerugian adalah dia. Karena aku akan tetap egois dan ingin menang sendiri.

Aku memang tidak bisa menjadi pria yang dengan gagah berani mendobrak segala tembok penghalang antara kami berdua, tak bisa berbuat sesuka hati di tengah dunia tak adil ini. Yang jelas aku tak mampu. Kehidupanku terlalu rumit, dan apa yang akan kukatakan pada orang tuanya, ayahnya sangat mencintainya, bagaimana mungkin aku melukai seorang putri kesayangan ayahnya?

Biarlah. Biarlah aku terluka dan mencintainya dengan caraku. Cinta tak harus memiliki. Biar kutanggung remuk redam di sekujur hidupku. Tak apa jika sepanjang sisa usia yang kujalani ini, akan ada episode di mana setiap kali namanya disebut, aku akan jatuh terkapar di ranjang penuh duri-duri. Saat bertemu dengannya, air mata jatuh menganak sungai. Biarlah jantungku berdarah dan tulangku retak karena terus mengatakan “tidak” padahal hatiku berkata “iya”.

Tak apa, hari-hari yang aku jalani menjadi monoton, tanpa debaran, pura-pura bahagia. Karena seberapa keras dan indahnya tawa dan senyuman yang kubuat, aku jamin semuanya palsu. Aku tertawa namun tak tahu apa yang kutertawakan. Aku bercakap-cakap dengan perempuan lain namun aku sendiri hilang ditelan angin. Pura-pura puas, pura-pura merasa penuh, padahal hatiku berlubang dan menganga.

Siang hari aku bisa pura-pura kuat dengan apapun dan siapapun aku menjalani. Namun malam hari, terutama saat kehidupan tak berpihak padaku. Aku akan jatuh tergeletak, remuk, menangis, tak tahu arah dan hancur lebur dalam kesepian dan keputusasaan. Dan besoknya aku akan bangun dan menjalani kehidupan dengan normal, topeng “baik-baik saja” akan selalu berhasil kukenakan.

Biarlah aku menjadi sesuatu yang absurd yang selalu ia puji. Dia memang mengidolakan tokoh-tokoh tragis.  Mencintai laki-laki gila dengan luka yang tak sembuh-sembuh. Katanya, laki-laki dengan luka itu keren dan membuatnya bergairah menjalani hidup. Memang ia gadis kejam, aneh, dan menakutkan. Semua hal yang ia sukai seakan sebuah doa, yang mewujud menjadiku.

“Kau hebat, doamu terkabul!” Kataku.

Dia hanya tersipu-sipu di dalam kepalaku. Remuklah aku.

Tags: cerita pendekCintakehidupanSastra
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Siti Khadijah Ra : Perempuan yang Yakinkan Nabi Saw saat Menerima Wahyu (2)

Next Post

Mencintai dan Merawat Bumi Mulai dari Diri Sendiri

Nikmara

Nikmara

Related Posts

Seni Memahami Kekasih
Film

Seni Memahami Kekasih: Antara Agus, Kalis, dan Kisah Cinta Ugal-ugalan yang Memberikan Banyak Pelajaran

3 Juli 2026
Sakinah
Keluarga

Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

27 Juni 2026
Ummu as-Sa‘d binti ‘Isham
Hikmah

Mencintai yang Tak Pernah Kita Jumpai: Belajar dari Ummu as-Sa‘d binti ‘Isham

26 Juni 2026
Platonic Love
Personal

Platonic Love Dan Potret Relationship Manusia Hari Ini

20 Juni 2026
Sa'i
Pernak-pernik

Sa’i dan Keteladanan Siti Hajar dalam Memperjuangkan Kehidupan

27 Mei 2026
Irish Murdoch
Personal

Irish Murdoch: Cinta, Perhatian, dan Cara Memahami Orang Lain

12 Mei 2026
Next Post
Merawat Bumi

Mencintai dan Merawat Bumi Mulai dari Diri Sendiri

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0