Rabu, 22 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Benarkah Feminisme di Indonesia Berasal dari Barat dan Bertentangan dengan Islam?

Feminisme yang berkembang di Indonesia bukanlah tiruan dari Barat, melainkan tumbuh dari konteks lokal yang khas.

Hoerunnisa by Hoerunnisa
28 Juni 2025
in Publik
A A
0
Feminisme di Indonesia

Feminisme di Indonesia

31
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Bagi aktivis perempuan yang secara terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai seorang feminis, citra negatif menjadi konsumsi sehari-hari. Istilah feminisme masih sering disalahpahami oleh sebagian masyarakat dan dilekatkan dengan berbagai label buruk. Seperti: “gerakan feminisme bertentangan dengan tradisi perempuan Indonesia,” “perempuan feminis itu liar dan tidak tahu aturan,” atau bahkan “feminisme adalah gerakan anti-Islam”.

Stigma-stigma tersebut muncul sebagai konsekuensi dari anggapan bahwa feminisme adalah produk Barat dan datang ke Indonesia memiliki agenda besar. Yakni untuk mengubah perempuan Indonesia menjadi bebas tanpa batas, lepas dari nilai-nilai budaya dan agama. Benarkah demikian?

Feminisme di Indonesia: Orisinal Khas Indonesia dan Tumbuh dari Rahim orang Islam

Feminisme adalah suatu gagasan dan gerakan sosial yang memperjuangkan kesetaraan gender dalam masyarakat. Gerakan ini hadir pertama kali pada abad ke-19 dan 20 di berbagai negara, terutama di Barat, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Tokoh perempuan pertama yang mempopulerkan gagasan feminisme di Indonesia berasal dari kalangan Muslim, yakni Raden Ajeng Kartini. Kartini mewarisi darah ulama dari garis ibunya, Ngasirah, yang merupakan putri dari Kiai Modirono, seorang ulama terkemuka di Desa Telukawur, Jepara.

Selain itu, Kartini juga terkenal sebagai murid kesayangan KH Shaleh Darat, seorang ulama besar asal Semarang, Jawa Tengah. Pertanyaan-pertanyaan kritis Kartini tentang agama banyak menggugah sang Kiai, hingga mendorong beliau untuk menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab (Arab Pegon). Karya ini,  berjudul Faidh al-Rahman, yang kemudian ia berikan kepada Kartini sebagai kado pernikahannya.

Meski gagasan feminisme Kartini terpengaruhi oleh sahabat penanya dari Barat, seperti Stella. Gaya feminisme yang berkembang di Indonesia adalah orisinal khas Indonesia. Karena Feminisme Barat lahir dari konteks masyarakat industri di Eropa dan merespons ketimpangan gender di sana.

Sementara, perempuan Indonesia pada masa Kartini di bawah penjajahan dan tekanan adat yang sangat patriarkal. Maka, menerapkan feminisme Barat di Indonesia menjadi kurang relevan. Jadi, feminisme Kartini bukanlah tiruan dari Barat, melainkan lahir dari realitas lokal dan pengalaman perempuan pribumi.

Lantas, bagaimana sebetulnya hubungan antara Feminisme dan Islam?

Benih-benih Pertemuan Feminis dan Islam

Kartini bukan hanya simbol kebangkitan perempuan Indonesia, tetapi juga seorang Muslimah yang berani menggali makna Islam secara kritis. Pemikirannya tidak terlepas dari pengaruh arus reformasi Islam yang berkembang pada masanya, terutama dalam isu pendidikan dan kesetaraan gender.

Melalui sejumlah surat-suratnya, Kartini menyampaikan berbagai kritik terhadap praktik keagamaan yang menurutnya mengabaikan nilai keadilan dan kemanusiaan.

Salah satu kritik tajamnya tertuju pada praktik poligami:

“Bukan dosa, bukan kecelaan pula; hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya saya mengatakan itu dosa. Segala perbuatan nan menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab sengsara nan harus diderita seorang perempuan, bila lakinya pulang ke rumah membawa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan lakinya nan sah, harus diterimanya jadi saingannya?” (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 6 November 1899)

Ia juga menyuarakan kekecewaan terhadap praktik pembelajaran Al-Qur’an yang tidak disertai pemahaman makna:

“Qur’an terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana jua pun. Di sini tiada orang nan tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Qur’an, tetapi nan dibacanya itu tiada ia mengerti… Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu…” (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 6 November 1899)

Surat-surat ini memperlihatkan bahwa Kartini tidak menolak agama, tetapi menolak cara agama diajarkan dan kita jalankan secara kaku tanpa mempertimbangkan nilai-nilai keadilan. Dalam konteks ini, pemikiran Kartini menjadi bagian dari embrio feminisme Islam yang kini berkembang luas di Indonesia. Yakni sebuah gerakan yang berupaya menafsirkan ajaran Islam secara kontekstual dan berpihak pada pengalaman hidup perempuan.

Genealogi Gerakan Feminisme Islam di Indonesia

Pada awal kemunculannya di Indonesia, feminisme dan Islam memiliki hubungan yang dekat. Gerakan feminisme bahkan kalangan Muslim menerima dengan tangan terbuka, lalu mempopulerkannya. Namun, seiring waktu, relasi keduanya mulai merenggang dan dalam beberapa konteks bahkan dianggap bertentangan. Lantas, sejak kapan dan mengapa ketegangan ini muncul?

Etin Anwar dalam bukunya Feminisme Islam: Genealogi, Tantangan, dan Prospek di Indonesia, cukup baik menggambarkan bagaimana proses merenggangnya feminis dan Islam dengan pendekatan genealogi.

Ia menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi dan politik memiliki peran besar dalam membentuk ketegangan tersebut. Sebab, feminisme Islam tidak lahir dalam ruang hampa. Melainkan tumbuh dari dialektika antara pengalaman perempuan Muslim, ajaran Islam, dan konteks sosial-politik yang melingkupinya.

Etin Anwar membagi perkembangan feminisme Islam di Indonesia ke dalam lima periode. Periode pertama adalah zaman emansipasi (awal abad ke-20), saat feminisme mulai muncul dan mendapat respons positif dari tokoh-tokoh Muslim.

Pada masa ini, perempuan Muslim mulai memperjuangkan hak-haknya melalui pendidikan dan perlawanan fisik, terpengaruhi oleh semangat nasionalisme dan reformisme Islam di tengah penjajahan Belanda.

Perjuangan fisik dilakukan tokoh seperti Marta Christina Tiahahu, Tjut Njak Dien, Tjut Meutia, dan Ratu Ratnaningsih. Sementara perjuangan melalui pendidikan penggeraknya adalah R.A. Kartini, Dewi Sartika, dan Rahmah El Yunusiyyah.

Kedua, zaman asosiasi (1930-an–1950-an), tertandai dengan pergeseran perjuangan perempuan dari individu ke kolektif melalui organisasi, termasuk organisasi Islam seperti Aisyiyah (1917), Persistri (1936), dan Muslimat NU (1946). Organisasi-organisasi ini menjadi wadah penting untuk menyuarakan gagasan kesetaraan dalam berbagai ranah perjuangan kebangsaan.

Ketiga, zaman pembangunan (Orde Baru) menjadi titik renggangnya hubungan antara feminisme dan Islam. Gagasan pembangunan besar-besaran yang digagas Soeharto menganggap feminisme sebagai ancaman, sehingga istilah ini mulai diberi konotasi negatif.

Konsep Ibuisme Negara

Meski mengadopsi konsep-konsep Barat seperti Gender and Development (GAD) untuk mempromosikan kemitraan gender, implementasinya tetap menekankan peran perempuan sebagai ibu dan istri. Konsep “ibuisme negara” terlembagakan sebagai ideologi dominan dan tersosialisasikan ke berbagai sektor, baik pemerintah maupun lembaga non-pemerintah.

Beberapa organisasi perempuan yang awalnya hanya menjadi pelengkap organisasi induk yang didominasi laki-laki mulai menunjukkan resistensi terhadap kontrol negara. Sebagian di antaranya berkembang menjadi organisasi independen berbasis nilai kesetaraan dan digerakkan oleh kalangan feminis, baik yang berorientasi Islam maupun sekuler.

Di sisi lain, muncul pula pandangan feminis sekuler yang mengkritik Islam sebagai penghambat kemajuan perempuan, sehingga memperlebar jarak antara feminisme dan Islam.

Keempat, zaman integrasi. Pada fase ini, organisasi-organisasi Islam mulai menyesuaikan diri dengan nilai-nilai ibuisme negara, sekaligus mendorong semangat pembebasan melalui jalur keagamaan. Upaya dari kalangan feminis Muslim untuk mengintegrasikan nilai-nilai kesetaraan dalam kerangka etika Islam mulai mengemuka, menandai lahirnya tahap awal konvergensi antara Islam dan feminisme.

Lebih Dekat dengan Feminisme Islam

Feminisme Islam muncul sebagai kerangka konseptual untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan menafsirkan ulang ajaran Islam secara lebih egaliter. Isu-isu gender mulai hadir melalui seminar, pelatihan, dan program pendidikan, termasuk di pesantren dan organisasi Islam. Di mana perempuan muslim tampil sebagai aktor utama dalam merumuskan hubungan antara Islam, gender, dan keadilan sosial.

Kelima, fase penyebaran. Pada tahap ini, setelah hubungan antara feminisme dan Islam mulai menunjukkan kecenderungan konvergen, barulah pada awal 1990-an terjadi penyebaran wacana secara lebih luas. Pada periode ini, feminisme Islam di Indonesia mulai tersebarluaskan melalui tiga pendekatan sistematis.

(1) pentingnya penggunaan ijtihad non-yudisial sebagai alat untuk menafsirkan ulang teks-teks keagamaan. (2) kontekstualisasi Al-Qur’an untuk mendukung upaya feminisme Islam dalam menggali kembali etika kesetaraan gender sebagai sumber otoritas dan pemberdayaan perempuan. (3) pencarian kembali wajah Islam yang transformatif melalui semangat kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan.

Konvergensi Feminisme dan Islam Kini Menguat

Feminisme yang berkembang di Indonesia bukanlah tiruan dari Barat, melainkan tumbuh dari konteks lokal yang khas. Tokoh pertama yang mempopulerkan gagasan feminisme di Indonesia adalah R.A. Kartini, seorang perempuan Muslim dan keturunan ulama terkemuka. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, feminisme dan Islam memiliki hubungan yang harmonis.

Namun, seiring waktu, hubungan tersebut mengalami ketegangan. Pengaruh politik dan ekonomi pada masa Orde Baru, terutama melalui gagasan pembangunan versi Soeharto dan konsep ibuisme negara turut membentuk citra negatif terhadap feminisme. Akibatnya, feminisme semakin menjauh dari akar-akar keislamannya.

Dan hari ini mulai terlihat arah konvergensi antara feminisme dan Islam. Bahkan, hubungan ini telah memasuki tahap penyebaran yang lebih luas, salah satunya tertandai dengan lahirnya peristiwa penting seperti Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama pada tahun 2017.

Meskipun demikian, masih ada pihak-pihak yang mempertentangkan feminisme dan Islam. Namun, seiring meningkatnya kesadaran dan literasi gender di kalangan umat Islam, semoga pandangan semacam ini perlahan terkikis. []

Tags: feminismegerakan perempuanIndonesiaKH Sholeh DaratRA Kartinisejarah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Menggeser Fiqh Fitnah Menuju Fiqh Kesetaraan

Next Post

Mari Hentikan Pengontrolan Seksualitas Perempuan

Hoerunnisa

Hoerunnisa

Perempuan asal garut selatan dan sekarang tergabung dalam komunitas Puan menulis

Related Posts

Syarifah Baghdad
Figur

Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara

20 Juli 2026
Kepemimpinan Abu Bakar
Hikmah

Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

15 Juli 2026
Perempuan Pembela Keadilan
Publik

Siapa Menjaga Perempuan Pembela Keadilan?

15 Juli 2026
The Personal is Political
Personal

Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

14 Juli 2026
Lirik Lagu
Personal

Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

7 Juli 2026
Surah 'Abasa
Disabilitas

Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10

5 Juli 2026
Next Post
Seksualitas Perempuan

Mari Hentikan Pengontrolan Seksualitas Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0