Kamis, 4 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

    BuKUPI

    Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

    Raden Ayu Lasminingrat

    Di BuKUPI, Neng Hannah Kenang Kiprah Raden Ayu Lasminingrat dalam Memperjuangkan Pendidikan Perempuan Sunda

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Virginia Woolf

    Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Konten Disabilitas

    Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

    Siswi

    Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

    Feminisme Pesantren

    Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

    Memutus Rantai Kekerasan Seksual

    Memutus Rantai Kekerasan Seksual, Pesantren Perlu Perkuat Pengawasan

    Kitab Kuning

    Ketika Kitab Kuning Dibaca Ulang: Upaya Pesantren Membicarakan Kesetaraan dalam Keluarga

    Indonesia

    Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

    Suara Disabilitas

    Dari Dialog Ibrahim-Ismail ke Meja Kebijakan: Refleksi Keterlibatan Suara Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Vitamin

    Pentingnya Yodium dan Vitamin A bagi Ibu Hamil dan Menyusui

    Vitamin

    Vitamin dan Mineral yang Penting bagi Tubuh Perempuan

    Ekonomi Disabilitas

    Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Kekerasan

    Cara Perempuan Penyandang Disabilitas Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual

    Kehamilan Disabilitas

    Perempuan Penyandang Disabilitas Berhak atas Kehamilan yang Sehat dan Hidup yang Aman

    KB

    Panduan Keluarga Berencana (KB) bagi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Seksual

    Perempuan Penyandang Disabilitas dan Hak atas Hubungan Seksual yang Sehat

    Penyandang

    Perempuan Penyandang Disabilitas Juga Memiliki Hasrat dan Hak untuk Dicintai

    perempuan lansia

    Perempuan Lansia Bisa Berdaya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

    BuKUPI

    Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

    Raden Ayu Lasminingrat

    Di BuKUPI, Neng Hannah Kenang Kiprah Raden Ayu Lasminingrat dalam Memperjuangkan Pendidikan Perempuan Sunda

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Virginia Woolf

    Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Konten Disabilitas

    Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

    Siswi

    Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

    Feminisme Pesantren

    Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

    Memutus Rantai Kekerasan Seksual

    Memutus Rantai Kekerasan Seksual, Pesantren Perlu Perkuat Pengawasan

    Kitab Kuning

    Ketika Kitab Kuning Dibaca Ulang: Upaya Pesantren Membicarakan Kesetaraan dalam Keluarga

    Indonesia

    Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

    Suara Disabilitas

    Dari Dialog Ibrahim-Ismail ke Meja Kebijakan: Refleksi Keterlibatan Suara Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Vitamin

    Pentingnya Yodium dan Vitamin A bagi Ibu Hamil dan Menyusui

    Vitamin

    Vitamin dan Mineral yang Penting bagi Tubuh Perempuan

    Ekonomi Disabilitas

    Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Kekerasan

    Cara Perempuan Penyandang Disabilitas Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual

    Kehamilan Disabilitas

    Perempuan Penyandang Disabilitas Berhak atas Kehamilan yang Sehat dan Hidup yang Aman

    KB

    Panduan Keluarga Berencana (KB) bagi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Seksual

    Perempuan Penyandang Disabilitas dan Hak atas Hubungan Seksual yang Sehat

    Penyandang

    Perempuan Penyandang Disabilitas Juga Memiliki Hasrat dan Hak untuk Dicintai

    perempuan lansia

    Perempuan Lansia Bisa Berdaya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Disabilitas

Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

Perjuangan teman-teman disabilitas sebetulnya adalah jilid lanjut dari upaya perlawanan seluruh umat terhadap sistem yang tidak adil.

Ahmad Miftahudin Thohari by Ahmad Miftahudin Thohari
15 Januari 2026
in Disabilitas
A A
0
Disabilitas

Disabilitas

31
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kalau kita punya niat dan tekad kuat untuk memedulikan masalah-masalah sosial-ekonomi, dan kalau karena itu kita suka sekali menggunakan istilah “diskriminasi”, “kaum tertindas”, “golongan yang dilemahkan”, atau “mustad’afin”, maka kita harus mulai peduli dengan kelompok yang sedang memperjuangkan nasibnya dewasa ini, yaitu teman-teman disabilitas.

Ada banyak alasan untuk itu. Pertama-tama dan paling utama, karena mereka harus berjuang dengan situasi kultural-sosial masyarakat yang tidak ramah. Sesuatu yang sifatnya struktural-sistemik. Saat berbicara tentang disabilitas, seringkali perhatian kita hanya tertuju pada kondisi individu mengenai apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh tubuh dan pikiran seseorang.

Pandangan tersebut jelas keliru. Disabilitas itu bukan saja masalah tubuh dan pikiran. Banyak disabilitas sebetulnya muncul karena lingkungan sosial yang tidak inklusif. Baru-baru saja ada trotoar landai, gedung yang dengan akses lift khusus, dan fasilitas-fasilitas ramah disabilitas lainnya.

Sebelum-sebelumnya, jangankan fasilitas ramah disabilitas, kita saja masih sering terjebak dalam bahasa yang tidak inklusif sekadar untuk menyebut mereka sebagai sama-sama manusia yang juga punya martabat dan hak hidup setara.

Kalau toh kita sudah kenal dengan istilah yang lebih ramah dan bermartabat, menyebut mereka sebagai disabilitas. Saya ulangi lagi: “perhatian kita hanya tertuju pada kondisi individu mengenai apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh tubuh dan pikiran seseorang”.

Ableisme struktural

Tak ayal, teman-teman disabilitas akhirnya terpaksa harus beradaptasi dengan lingkungan yang sebetulnya tidak ramah bagi kelangsungan hidup mereka, bahkan seringkali harus menghadapi “diskriminasi terselubung” dari sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Ejekan, stigma, dan imajinasi tentang mereka dalam benak kita bisa dibilang sifatnya masih “jahat” secara moral. Celakanya, ableisme semacam itu bersifat struktural. Sistem kehidupan kita hampir, di manapun tempatnya, selalu memusuhi yang “berbeda”. Andaikan pun bukan dark joke, masih sering kita jumpai entah di ruang nyata maupun maya candaan-candaan ringan yang sebetulnya menyakiti mereka.

Situasi “jahat” semacam itu akhirnya membuat mereka harus melakukan masking atau social camouflaging. Upaya terus-menerus untuk “menyesuaikan diri” dengan standar “normal”. Terpaksa menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka alami demi oleh karena “berbeda”. Melelahkan sekali itu. Bayangkan jika kamu hidup dengan harus menyembunyikan apa yang sebenarnya kamu “butuh” dan “rasakan”.

Robert Chapman, tokoh yang dikenal dengan istilah neurodiversitas, sudah mengenalkan tentang “paradigma patologi”. Suatu cara pikir dominan yang menganggap perbedaan neurologis dalam relasi sosial kehidupan kita sebagai “penyakit” atau “kesalahan”.

Jadi jika kamu adalah seorang disabilitas, dalam paradigma tersebut, maka kamu harus bersedia “diobati” atau “diperbaiki”. Kalau tidak bisa? Berarti itu salahmu. Paradigma demikian itu sudah tentu bermaksud menciptakan manusia ideal yang homogen—dan karenanya “jahat”. Ras kulit putih, laki-laki, kuat (misalnya, “sehat jasmani dan rohani” dalam kualifikasi syarat loker), produktif, mandiri, dan (tentu saja) rasional.

Siapa pun yang berada di luar standar tersebut akhirnya mau tidak mau akan masuk dalam kategori menyimpang, alias “tidak normal”. Mirip cara pikir yang sejak lama sukses termainkan oleh kapitalisme dengan cara pikir kolonialnya. Akhirnya, kebebasan manusia untuk hidup bermartabat tidak pernah terpenuhi secara adil.

Rezim “normal” kapitalisme

Silvia Federici mengafirmasi itu. Melalui bukunya Caliban and the Witch, ia menjelaskan bagaimana kapitalisme awal dengan gerakan penjajahannya sengaja menegakkan norma-norma dan fungsi “produktif” sebagai kontrol guna menertibkan (baca: menindas) tubuh dan mental mereka yang “berbeda”.

Persis yang pernah Michel Foucault kritikkan tentang “sejarah kegilaan” dalam karyanya Madness and Civilization. Bahwa tubuh yang tidak sesuai dengan narasi zaman (sebutlah: “narasi pasar” dalam logika kapitalisme), alias “tidak berguna”, “tidak menguntungkan”, “berlebihan”, akan terabaikan atau minimal mendapatkan represi melalui kekerasan sistemik.

Artinya, norma atau aturan “normal” tidak hanya berkaitan semata-mata soal standar fisik atau mental saja. Akan tetapi lebih sebagai alat kekuasaan untuk mengatur siapa yang berhak hidup, bekerja, dan dihargai. Celakanya, dewasa ini kita hidup dalam logika kapitalisme yang jauh lebih canggih cara mainnya.

Ketika logika kapitalisme menuntut efisiensi dan produktivitas, maka tubuh dan pikiran yang berbeda terpaksa untuk memilih hanya dua pilihan belaka: menyesuaikan diri atau tersisih. Apalagi ada warisan penjajahan menambah lapisan diskriminasi dengan menyematkan modus “nilai lebih” pada tubuh dan budaya tertentu. Sehingga juga meremehkan dan menghapus keberadaan mereka yang adalah entitas “lain”, alias “berbeda”.

Melalui bukunya Empire of Normality, Robert Chapman juga menegaskan kalau konsep “normal” yang selama ini menjadi common sense dan kita anggap sebagai standar universal sebetulnya bukanlah sesuatu yang netral dan natural. Konsep itu berakar kuat sekali dalam logika kapitalisme dan warisan penjajahan.

Kapitalisme menuntut sekali capaian produktivitas dan efisiensi maksimal. Sehingga mengharuskan setiap orang untuk “berfungsi” sesuai standar tertentu; harus membentuk diri berdasarkan kemampuan tubuh dan pikiran yang ideal sesuai sistem yang berlaku. Membuat mereka yang tidak sesuai standar sebagai person yang “tidak normal” dan “bermasalah” sehingga rawan mendapatkan eksklusi dan eksploitasi.

Trilogi KUPI dan perjuangan sosial-ekonomi

Perjuangan teman-teman disabilitas sebetulnya adalah jilid lanjut dari upaya perlawanan seluruh umat terhadap sistem yang tidak adil. Dengan kata lain, disabilitas bukanlah sekadar tentang kondisi tubuh dan pikiran, tetapi juga tentang status sosial yang termarjinalisasi. Siapapun yang mendapatkan klaim tidak sesuai standar terpaksa harus terus kelihatan normal. Harus masking terus-terusan.

Sistem kehidupan selalu tersaji timpang dan tidak adil. Maka, ketika kita mulai peduli dan ikut berjalan dalam jalur perjuangan teman-teman disabilitas, kita sebenarnya sekaligus sedang mengkritik sistem sosial-ekonomi yang menciptakan ketidakadilan. Yakni, sistem yang tidak hanya mengeksploitasi tubuh dan pikiran, tetapi yang juga mengukuhkan dominasi politik, ekonomi, dan budaya toxic.

Dalam hal ini, Trilogi KUPI sebagai pijakan nilai sekaligus pendekatan metodologis menjadi penting sebagai panduan etis guna melakukan perjuangan dan perlawanan terhadap ketidakadilan sistem. Secara garis besar, Trilogi KUPI adalah sebuah pijakan dan pendekatan metodologis yang memuat tiga nilai fundamental: Ma’ruf, Mubadalah, dan Keadilan Hakiki.

Joker dan implementasi Trilogi KUPI

Guna meneguhkan upaya perjuangan ini, kita kiranya perlu pula memahami dan memaknai film Joker justru dalam kerangka pendekatan skizoanalisis Deleuze dan Guattari. Melampaui model pendekatan psikoanalisis Freud serta Lacan. Deleuze dan Guattari berusaha memberi pemahaman radikal mengenai hasrat manusia yang mesti menolak patuh pada standar normal khas kapitalisme.

Sementara Freud serta Lacan menganjurkan hasrat harus tunduk dalam tatanan simbolis yang ini mengejawantah dalam sistem-sistem toxic bikinan kapitalisme itu. Nah, Deleuze dan Guattari justru mendorong hasrat harus bebas dan menikmati kebebasan dengan cara yang tidak harus seragam dan interseksional.

Joker adalah “subjek skizo”, subjek yang tidak stabil dan menolak bahasa kestabilan. Dalam kerangka pendekatan skizoanalisis Deleuze dan Guattari, ia adalah representasi dari simbol perjuangan dan perlawanan terhadap seluruh sistem dan standar normal (logika kapitalisme) yang tidak adil dan menindas mereka yang “berbeda”, entah secara tubuh, mental, juga status sosial serta ekonomi.

Dengan kata lain, Joker hanyalah simbol perjuangan dan perlawanan terhadap sistem yang tidak adil dan menindas. Tidak kemudian harus meniru persis perilaku dan tindakan perlawanannya. Artinya, segala jenis perjuangan dan perlawanan demi terwujudnya cita-cita kebebasan, juga keadilan, tetap harus berlangsung secara ma’ruf dan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Pada titik inilah Trilogi KUPI memiliki relevansi konkret untuk dijadikan pijakan nilai perjuangan dan perlawanan itu.  []

*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Surakarta, kerjasama Media Mubadalah dengan UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta pada Selasa-Rabu, 13 s/d 14 Januari 2026.

Tags: ableismeAksesibilitasDisabilitasDiskriminasiInklusi SosialketidakadilanTrilogi KUPI
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

Next Post

Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

Ahmad Miftahudin Thohari

Ahmad Miftahudin Thohari

lahir di Ngawi. Suka menulis esai dan sastra. Meminati kajian filsafat, sosial, dan kebudayaan.

Related Posts

Konten Disabilitas
Disabilitas

Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

4 Juni 2026
Kekerasan
Pernak-pernik

Cara Perempuan Penyandang Disabilitas Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual

3 Juni 2026
Kehamilan Disabilitas
Pernak-pernik

Perempuan Penyandang Disabilitas Berhak atas Kehamilan yang Sehat dan Hidup yang Aman

3 Juni 2026
KB
Pernak-pernik

Panduan Keluarga Berencana (KB) bagi Perempuan Penyandang Disabilitas

2 Juni 2026
Seksual
Pernak-pernik

Perempuan Penyandang Disabilitas dan Hak atas Hubungan Seksual yang Sehat

2 Juni 2026
Anak Berkebutuhan Khusus
Disabilitas

Mencintai Tanpa Membatasi: Belajar Melepas Anak Berkebutuhan Khusus untuk Mandiri

2 Juni 2026
Next Post
Menjaga Kelestarian Alam

Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

No Result
View All Result

TERBARU

  • Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga
  • Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
  • Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers
  • Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama
  • Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0