Mubadalah.id – Dalam sesi penutup Serial Biografi Ulama Indonesia #20, sosok Nyai Walidah hadir sebagai figur historis sekaligus inspirasi gerakan perempuan Islam Indonesia. Debby Avianti, peneliti LPPA Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah membacakan biografi Nyai Walidah sebagai ulama perempuan visioner yang jauh melampaui zamannya.
Ketua PSGA UMJ mengawali diskusi dengan sebuah fenomena. Ketika membicarakan sejarah perjuangan perempuan di Indonesia, nama R.A. Kartini kerap menjadi rujukan utama. Padahal dalam tradisi Islam Indonesia, ada sosok lain yang kiprahnya tak kalah monumental. Salah satunya adalah sosok Nyai Walidah, atau Siti Walidah. Istri sekaligus mitra intelektual KH Ahmad Dahlan.
Sayangnya, beliau terkenal sebagai “istri pendiri Muhammadiyah” saja. Padahal beliau adalah seorang pendidik, organisator, sekaligus penggerak transformasi sosial yang meletakkan dasar perjuangan kesetaraan gender berbasis nilai-nilai Islam dan menjadikan pendidikan perempuan sebagai fondasi perubahan masyarakat.
Lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 1872, Nyai Siti Walidah tumbuh dalam lingkungan religius keluarga penghulu Keraton Yogyakarta. Pada masa itu, perempuan umumnya berada pada ruang domestic. Pendidikan formal bukan kebutuhan bagi mereka. Namun, justru dari keterbatasan itulah lahir kesadaran kritis Nyai Walidah, bahwa keterbelakangan perempuan bukanlah persoalan kodrat, melainkan persoalan akses. Kesadaran inilah yang kemudian membentuk arah perjuangannya.
Membuka Pintu Pendidikan bagi Perempuan
Langkah revolusioner Nyai Walidah bermula dari pendidikan. Pada awal abad ke-20, ketika perempuan hanya berurusan dengan ranah domestik, ia justru membuka ruang belajar bagi perempuan di berbagai kampung Yogyakarta seperti Kauman, Lempuyangan, Karangkajen, dan Pakualaman
Melalui pengajian perempuan yang dikenal sebagai Wal ‘Ashri, Nyai Walidah mengajarkan agama dan membangun kesadaran intelektual perempuan. Ia mengajarkan membaca Al-Qur’an, bahasa Arab, literasi dasar, hingga wawasan sosial. Dalam konteks saat itu, ini merupakan tindakan radikal. Sebab, memberi perempuan kemampuan membaca berarti memberi mereka kemampuan menafsirkan dunia.
Pendidikan bagi Nyai Walidah tidak berhenti pada perempuan kelas menengah religius. Ia juga menjangkau buruh perempuan industri batik di Kauman. Setelah bekerja seharian, para buruh ini mengikuti pengajian malam yang dikenal sebagai Magrib School. Di sana, mereka belajar agama, membaca, menulis, sekaligus membangun rasa percaya diri.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Nyai Walidah memahami pendidikan sebagai instrumen pembebasan sosial. Ia melihat perempuan miskin bukan objek belas kasihan, melainkan subjek yang memiliki kapasitas untuk tumbuh. Dalam bahasa kontemporer, pendekatannya sangat dekat dengan gagasan women empowerment, membangun daya dari dalam bukan sekadar memberi bantuan dari luar.
Mengubah Perempuan dari Objek Domestik menjadi Subjek Sosial
Perjuangan Nyai Walidah tidak berhenti pada akses pendidikan. Ia juga secara aktif mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Pada zamannya, perempuan ideal digambarkan sebagai sosok penurut, pasif, dan sepenuhnya bergantung pada laki-laki. Nyai Walidah menantang konstruksi ini. Ia mendorong perempuan untuk memiliki jiwa kuat, mandiri, dan berdaya. Pesannya sederhana tetapi tajam: perempuan tidak boleh memiliki “jiwa kerdil.”
Ia menyampaikan gagasan ini dalam ceramah, dan menerapkannya dalam pembinaan langsung. Para perempuan muda belajar mengenai kesalehan individual dan juga keberanian untuk hadir di ruang sosial. Mereka harus berpikir, berbicara, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Dalam perspektif gerakan gender modern, ini adalah pergeseran penting dari perempuan sebagai object of social order menjadi agent of social transformation. Nyai Walidah memahami bahwa ketidakadilan gender lahir dari kebijakan formal dan budaya yang terus-menerus mengerdilkan perempuan.
Beliau menghindari konfrontasi terhadap agama karena beliau meyakini bahwa Islam bukan alat pembatas. Oleh sebab itu, pendekatan reinterpretasi nilai-nilai Islam menjadi strategi untuk menunjukkan bahwa Islam adalah sumber legitimasi moral bagi pembebasan perempuan. Pendekatan ini berhasil membuat perjuangannya memiliki daya tahan sosial yang kuat. Perubahan yang dibangun tidak terasa sebagai ancaman terhadap identitas masyarakat namun sebagai pembaruan dari dalam tradisi itu sendiri.
Aisyiyah: Institusionalisasi Gerakan Kesetaraan Gender
Perubahan tidak cukup dengan pendekatan individual saja, maka Nyai Walidah membangun gerakan yang lebih terstruktur. Bersama Muhammadiyah, ia terlibat dalam pembentukan Sopo Tresno, yang kemudian berkembang menjadi Aisyiyah pada 19 Mei 1917.
Aisyiyah adalah organisasi perempuan keagamaan dan juga institusi modern yang memberi perempuan ruang belajar, memimpin, berorganisasi, dan berkontribusi dalam isu-isu publik. Di tengah masyarakat kolonial yang masih sangat patriarkal, kehadiran organisasi perempuan berbasis Islam dengan struktur kepemimpinan formal merupakan langkah visioner.
Menariknya, Nyai Walidah tidak langsung menempatkan dirinya sebagai pemimpin pertama. Kepemimpinan awal justru kepada ibu Siti Bariyah. Ini menunjukkan kematangan organisasional yang luar biasa. Gerakan tidak tumbuh atas kultus individu, tetapi atas prinsip profesionalisme dan kaderisasi.
Di bawah perkembangan Aisyiyah, perempuan aktif dalam pengajian, pendidikan anak usia dini, pelayanan sosial, kesehatan masyarakat, serta penguatan ekonomi keluarga. Dengan kata lain, Nyai Walidah berhasil mentransformasikan kesadaran perempuan menjadi gerakan sosial yang terorganisasi. Jika hari ini kita berbicara tentang women’s leadership, grassroots organizing, atau community-based gender empowerment, maka embrio praktik tersebut sudah berawal daari gerakan Nyai Walidah lebih dari seabad lalu.
Warisan Nyai Walidah bagi Kesetaraan Gender Masa Kini
Lantas apa yang membuat Nyai Walidah tetap relevan hari ini?
Cara pandangnya yang visioner untuk masa tersebut. Ia memahami bahwa ketidakadilan terhadap perempuan bukan isu tunggal, melainkan persoalan struktural yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, budaya, dan representasi sosial. Dalam konteks saat ini, masuk dalam isu intersecsionalitas.
Indonesia hari ini menghadapi bentuk-bentuk ketimpangan gender yang berbeda dengan periode Nyai Walidah. Kekerasan berbasis gender, perdagangan manusia, eksploitasi digital, ketimpangan ekonomi, hingga rendahnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan. Namun akar persoalannya masih serupa, yaitu keterbatasan akses, ketimpangan kuasa, dan budaya yang belum sepenuhnya setara.
Dalam konteks ini, warisan Nyai Walidah sangat relevan, karena ia mengajarkan bahwa pendidikan adalah fondasi keadilan gender. Ia menunjukkan pentingnya solidaritas perempuan melalui organisasi dan menegaskan bahwa perempuan harus hadir dalam ruang kepemimpinan. Ia juga mampu membuktikan bahwa agama dapat menjadi kekuatan emansipatoris.
Di tengah narasi yang sering mempertentangkan Islam dan kesetaraan gender, Nyai Walidah menunjukkan sintesis yang produktif. Ia memperjuangkan martabat perempuan tanpa meninggalkan identitas keislaman. Perjuangannya relevan secara historis, dan strategis bagi diskursus gender di masyarakat Muslim kontemporer.
Nyai Walidah bukan hanya tokoh masa lalu. Ia adalah cetak biru (blue print) kepemimpinan perempuan Indonesia. Menggabungkan intelektual, spiritual, organisatoris, dan transformatif. Mengenang Nyai Walidah, seyogyanya tidak berhenti dengan mengingat nama seorang pahlawan nasional. Yang jauh lebih penting adalah refeleksi bagi kita semua: sudahkah perempuan hari ini benar-benar memperoleh ruang untuk menjadi subjek penuh dalam kehidupan sosial? []












































