Mubadalah.id – Pada awal Juni, saya menghadiri pertemuan calon wali santri di pesantren tempat saya berencana memondokkan anak. Setelah rangkaian acara berlangsung dan sesi tanya jawab dibuka, seorang wali santri laki-laki mengajukan pertanyaan kepada para masyayikh, “Kiai, dengan maraknya kasus pencabulan dan kekerasan seksual belakangan ini, bagaimana pesantren mengatur dan membatasi interaksi dalam kegiatan belajar mengajar antara guru dan santri, khususnya santri putri?”
Tentu kita tidak membahas bagaimana seharusnya menjawab pertanyaan tersebut. Saya ingin membahasnya dengan POV lain, mendengar pertanyaan itu, saya merasa resah, tapi lega sekaligus optimistis.
Bagaimana ya menggambarkan perasaan yang campur aduk ini? Begini, dulu sekali, pertanyaan yang lazim wali santri ajukan ketika memondokkan anak berkisar pada kurikulum (program tahfidz atau program kitab), kegiatan jam berapa sampai jam berapa, atau pertanyaan seputar kualitas layanan pesantren seperti berapa kali santri makan dalam sehari. Bahkan mereka bertanya “anak saya ndak usah nyuci sendiri, bisa laundry aja gak?”.
Sekarang, wali santri sudah aware dan lebih cerdas untuk turut mempertimbangkan kualitas pendidikan dan menaruh perhatian besar pada keamanan dan kehormatan putra-putri mereka selama menempuh pendidikan di pesantren. Sudah tidak lagi pasrah bongkok’an. Ini yang saya maksud masih optimis sekali kalau orang tua era sekarang masih mempercayakan putra-putrinya mondok di pesantren dengan pengawasan mental, emosional, spiritual.
Sebagai perempuan yang lahir dari rahim pesantren, berita tentang kasus kekerasan seksual yang melibatkan pimpinan pesantren sangat meresahkan. Dampaknya pun nyata. Banyak masyarakat mulai trust issue terhadap pesantren, sementara dunia dakwah mengheningkan cipta melihat para dai muda mainan gus-gusan dan ning-ningan. Dai senior suka seksis dan melecehkan bentuk tubuh seseorang, marwah pesantren yang selama ini diriyadlahi dan ditirakati sesepuh dan masyayikh ikut dipertaruhkan.
Doa yang Sederhana
Dahulu, doa untuk para santri sangat sederhana. Semoga mereka menjadi pribadi yang alim dan saleh. Apa pun profesi halal dan sesuai passion yang kelak mereka jalani. Namun beberapa tahun terakhir, berbagai kabar tentang tokoh agama, bahkan pimpinan pesantren, yang melakukan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap santri membuat kalbu serasa remuk redam. Rasanya tidak ada patah hati yang paling hancur sedahsyat ketika membaca headline news “Pimpinan Pesantren Mencabuli Santri”.
Adakah doa kita selama ini keliru? Mengapa kita lupa mendoakan agar santri ini juga selamat dari kedzaliman dari arah mana pun dan siapa pun saat sedang berproses di pesantren?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan saya pada dawuh KH. Anwar Iskandar dalam acara Gerakan Nasional Ayo Mondok di Ngasinan, Kediri. Beliau menyampaikan bahwa kiai yang menzalimi dan melecehkan santri-santrinya merupakan fenomena yang sangat ditakutkan oleh Nabi Muhammad saw., bahkan lebih Nabi khawatirkan daripada kemunculan Dajjal. Fenomena inilah yang ia sebut sebagai ulama su’. Dalam kitab Bidayatul Hidayah dijelaskan:
انا مِنْ غَيْرِ الدَّجَّالِ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنَ الدَّجَّالِ، فَقِيلَ: وَمَا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: عُلَمَاءُ السُّوء
“Ada sesuatu yang lebih aku khawatirkan atas kalian daripada Dajjal.” Lalu ditanya, “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ulama-ulama yang buruk.”
Hadis yang memiliki makna yang sama sebagaimana yang tersebutkan dalam kitab-kitab akhlak dan tasawuf dengan sanad yang sahih adalah:
عن ثَوْبَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا… وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّي
Dari Tsauban r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah membentangkan bumi untukku, sehingga aku melihat bagian timur dan baratnya. Sungguh, kekuasaan umatku akan mencapai wilayah yang diperlihatkan kepadaku itu… Dan sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Era digital yang memungkinkan informasi sampai ke audiens dalam hitungan detik harus kita pahami sebagai peringatan dari Allah. Kita mungkin shock dengan berita yang sudah terlanjur viral tentang pesantren. Banyak yang menanggapi dengan kemarahan, menyayangkan pemberitaan karena imbas citra pesantren, kecepatan teknologi ini menngingatkan saya tentang kisah seorang yang berilmu mampu memindahkan singgasana Ratu Bilqis ke hadapan Nabi Sulaiman sebelum mata berkedip.
Peristiwa ini tertuang dalam Al-Qur’an surah An-Naml ayat 40. Nama orang alim itu menurut pendapat masyhur adalah Asif bin Barkhoya. Mari kita menganggap jurnalis yang menguak kasus-kasus di pesantren dengan tanpa mengabaikan fakta adalah Asif bin Barkhoya masa kini. Orang yang mampu menggiring kabar untuk kita. Pesantren, pengasuh pesantren, pengelola lembaga pendidikan Islam mau berbenah dan menggali hikmah. Bukankah Al-Qur’an sudah berkali-kali memperingatkan bahwa adanya berita ini sebagai peringatan?
فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ
“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al Ala: 9)
ذِكْرَىٰ وَمَا كُنَّا ظَٰلِمِينَ
“Untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim.” (QS. Asy-Syu’ara: 209)
Pesantren Harus Berbenah
Karena itu, yang perlu kita lakukan saat ini adalah berbenah. Benar bahwa kasus serupa tidak hanya terjadi di pesantren, tetapi juga di berbagai lembaga lain. Namun ini bukan saatnya mencari pembelaan dengan menunjukkan bahwa tempat lain juga memiliki masalah yang sama. Dalam perkara kejahatan, tidak ada gunanya mencari “partner in crime.”
Ketika satu pesantren ‘sakit’, seluruh pesantren ikut merasakan penderitaannya. Yang kita butuhkan saat ini bukanlah sibuk mengatakan bahwa pelakunya bukan bagian dari ormas Islam tertentu, bukan dari mazhab tertentu, bukan kiai sungguhan, aslinya dukun, atau bukan pesantren melainkan padepokan.
Masyarakat melihatnya sebagai pesantren dan memandang pelakunya sebagai orang alim yang memiliki kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Tidak perlu lagi berlindung di balik kata “oknum”. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengakui bahwa masalah itu ada di tubuh pesantren. Maka jangan sampai KS ini menjadi wabah yang akhirnya merebak, alih-alih menjadi peringatan untuk kita memperbaiki cara kerja mulia pesantren sebagaimana mestinya sebagai pencetak generasi Qur’ani.
Awal mucul kasus kekerasan di tahun 2019 dan mulai menjamurnya pihak yang speak up memunculkan tanya pilu bagi kita semua. Kok ada ya, orang alim tapi dzalim? Kok ada ya, orang pinter tapi plenger? Lho kok ada ya, orang melechkan korban ngaku titisan Tuhan? Kok ada ya, outfit wali outside kelakuan walid inside?
Menjadi Alim Saja Tidak Cukup
Dalam kitab Washiyatul Musthafa menjelaskan bahwa menjadi seorang alim saja tidaklah cukup apabila tidak disertai ketakwaan. Ilmu tanpa takwa hanya akan melahirkan kesalehan yang rapuh dan rentan disalahgunakan. Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ’Abidin menjelaskan bahwa takwa berakar dari rasa takut kepada Allah, yaitu takut akan kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya, serta ancaman azab-Nya.
Dari rasa takut inilah lahir ketaatan dan ketundukan kepada seluruh perintah Allah, keikhlasan dalam beribadah hanya kepada-Nya, serta kesungguhan untuk membersihkan jiwa dari berbagai kotoran yang dapat merusak amal. Satu keyword: TAKUT.
Dalam ilmu psikologi, memiliki rasa takut adalah emosi dasar protektif yang memicu respons fight or flight (melawan atau lari). Saat merasa terancam, baik secara fisik maupun psikologis, otak melepaskan hormon stres, memicu gejala fisik seperti jantung berdebar dan mendorong perilaku menghindar agar individu merasa aman.
Kalau ada pengasuh pesantren yang keilmuannya tidak kita ragukan lagi; fasihnya menjelaskan ayat, kedalaman analisisnya ketika menafsirkan suatu dalih, tapi dia kehilangan rasa takwanya kepada Allah maka yang terjadi adalah mencabuli santrinya, naudzubillah. Guru besar sastra Arab, Prof. Yusring Sanusi Baso menyatakan ada lima level keimanan manusia: Muslim, Mukmin, Muhsin, Mukhlis, dan Muttaqin. Level tertinggi keimanan manusia adalah yang memiliki rasa takut kepada Allah (Muttaqin).
Kan aneh, kepada Allah tidak takut tetapi ketika viral di media, rukun imannya tiba-tiba bertambah 1: takut kepada netizen. Wa ini jelas bid’ah. Sudah paling benar Jumat pagi membaca surat Al-Kahfi agar kita terhindar dari fitnah Dajjal, tapi tidak ada satu pun surat dalam Al-Qur’an yang bisa membuat kita terhindar dari fitnahnya netizen. Perlu bagi pengasuh pesantren untuk tidak keburu marah meskipun terkadang pemberitaan ini menyesakkan dada dan menghancurkan marwah pesantren.
Lima Langkah Meraih Takwa
Dalam Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al Ghozali, jalan takwa diraih dengan lima langkah: Mu’ahadah, Muroqobah, Muhasabah, Mu’aqobah, dan Mujahadah.
Mu’ahadah adalah janji hamba kepada Rabbnya yang katanya anak tiktok sebelum kita dilahirkan kita dikasih pertanyaan 77x tanpa spoiler contekan, ini tidak ada dalilnya yang sahih ya. Namun dalam surat Al-A’raf ayat 172 dijelaskan bahwa manusia hanya diberikan satu perintah saat penciptaan yaitu untuk bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan.
Tahapan selanjutnya adalah muraqabah: Merasakan pengawasan Allah yang senantiasa melekat setiap saat sebagaimana yg telah disebutkan dalam surah An-Nisa ayat 1.
Lalu Muhasabah, pengingat diri dan evaluasi kesiapan untuk hari yang akan datang. Sebagaimana dalam surah Al-Hasyr ayat 18.
Selanjutnya adalah Mu’aqabah: Solusi ketika terjadi kegagalan di pertengahan jalan.
Imam Al Ghozali menuturkan, “Diri yang merasa sempurna, takkan dapat mengenali jalan menuju kebaikannya. Sebab dia memang tak merasa perlu berbenah. Diri yang bermuhasabah, baru terbukti imannya jika dia merasa bahagia dengan ketaatannya dan berduka atas maksiatnya. Diri yang bermuhasabah, sebaiknya menghukum pribadinya jika berdosa, sebagai tanda sesal paling nyata agar kelak Allah mengampuninya. Inilah Mu’aqabah.
Langkah finish menuju derajat takwa adalah Mujahadah: Kesungguhan mengerahkan semua potensi diri demi meraih rida Ilahi sebagaimana dalam surah Al-Ankabut ayat 69.
Lalu, bagaimana seharusnya pesantren menyikapi kasus pencabulan atau kekerasan seksual yang terjadi di lingkungannya?
Langkah pertama yang harus kita ambil adalah bersikap kooperatif dan transparan dengan berbagai pihak, terutama aparat penegak hukum. Setiap dugaan tindak kekerasan seksual harus terlaporkan dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, tanpa upaya menutupi, memindahkan, atau melindungi pelaku. Sikap ini sejalan dengan tahapan mu’aqabah yang Imam Ghazali jelaskan yaitu memberikan konsekuensi dan pertanggungjawaban yang tegas atas setiap pelanggaran yang dilakukan.
Dari beberapa kasus kekerasan seksual di pesantren yanh saya amati, terdapat perkembangan yang patut kita apresiasi. Setelah kasus mendapat perhatian publik dan media mulai melakukan peliputan, sejumlah pesantren dan keluarga korban menunjukkan sikap yang lebih terbuka serta bersedia bekerja sama dengan pihak berwenang.
Bahkan, dalam beberapa kasus, laporan justru datang dari unsur internal pesantren sendiri. Meski demikian, tidak dapat kita pungkiri bahwa masih ada sebagian pihak yang memilih bersikap defensif atau menyangkal persoalan yang terjadi. Padahal, pengakuan terhadap adanya masalah merupakan langkah awal yang penting untuk menghadirkan keadilan bagi korban sekaligus membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap pesantren.
Menyelamatkan marwah pesantren yang telah tercoreng akibat kezaliman yang dilakukan sebagian orang di dalamnya terhadap santri bukanlah perkara mudah. Kerusakan kepercayaan tidak semudah mandi kembang tujuh rupa, keluar-keluar jadi wangi. Luka yang korban tinggalkan jauh lebih dalam daripada sekadar citra yang rusak.
Kesadaran Spiritual
Fokus utama seharusnya bukan hanya mengembalikan nama baik lembaga di mata manusia, akan tetapi mengembalikan kesadaran spiritual para pelakunya. Bagaimana seseorang yang pernah mengkhianati amanah, menyalahgunakan ilmu dan kedudukannya, dapat kembali menjadi hamba yang diawasi oleh Allah dan membuat Malaikat Raqib kembali sibuk mencatat amal-amal kebaikannya? Pertanyaan inilah yang semestinya menjadi bahan perenungan bersama.
Pada akhirnya, jalan perbaikan yang paling mendasar adalah meningkatkan derajat ketakwaan kepada Allah. Sebab, ketika rasa takut kepada Allah benar-benar hidup dalam hati, seseorang tidak akan mudah menyalahgunakan ilmu, kedudukan, maupun kepercayaan yang diberikan kepadanya. Al-Qur’an pun telah menunjukkan jalan untuk ‘pulang’ meraih derajat muttaqin, salah satunya dengan bersegera menuju ampunan dan rahmat Allah:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ’Imran: 133)









































