Mubadalah.id – Banyak tradisi dan kepercayaan di berbagai daerah yang tidak membantu peningkatan kesehatan perempuan, bahkan justru merugikannya. Di bawah ini kami berikan beberapa contoh:
Pertama, tidak benar bahwa anak perempuan memerlukan makanan lebih sedikit dibanding anak laki-laki. Sebagian orang percaya bahwa anak perempuan hanya perlu makan sedikit jika dibandingkan dengan anak laki-laki. Anggapan ini salah.
Di sebagian besar masyarakat, perempuan memikul beban kerja yang sama besar dengan laki-laki, bahkan sering kali lebih besar. Karena itu, mereka juga harus memiliki kondisi kesehatan yang sama baiknya.
Bila anak perempuan memperoleh makanan yang cukup, yaitu tidak kurang dari yang diberikan kepada anak laki-laki, ia akan tumbuh dewasa dalam keadaan sehat, tidak mudah sakit, serta mampu mengikuti kegiatan belajar maupun bekerja dengan baik.
Kedua, tidak benar bahwa perempuan harus berpantang makanan tertentu selama hamil dan menyusui. Dalam beberapa masyarakat, perempuan tidak boleh mengonsumsi jenis makanan tertentu pada masa-masa tertentu dalam hidupnya. Misalnya kacang-kacangan, telur, produk susu, daging, ikan, buah-buahan, atau sayuran.
Makanan-makanan tersebut terkadang ia anggap terlarang ketika perempuan sedang haid, hamil, setelah melahirkan, selama menyusui, atau saat memasuki masa menopause.
Padahal, pantangan seperti itu justru mengurangi asupan gizi yang masuk ke tubuh dan dapat memperburuk kesehatan perempuan. Terutama selama masa kehamilan dan menyusui.
Ketiga, tidak benar bahwa perempuan baru boleh makan belakangan setelah melayani keluarga. Kadang-kadang perempuan mereka ajarkan untuk menahan lapar dan mendahulukan anggota keluarganya makan terlebih dahulu. Setelah semua anggota keluarga kenyang, barulah ia boleh menghabiskan sisa makanan yang ada.
Sering kali porsi makanan yang tersisa tidak mencukupi kebutuhan tubuhnya. Prinsip seperti ini keliru dan dapat membahayakan kesehatan perempuan, terlebih jika ia sedang hamil atau baru saja melahirkan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 220.







































