Senin, 20 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

KUPI Muda, dan Tantangan Gerakan Ulama Perempuan

Dalam gerakan KUPI ke depan pelibatan anak muda adalah niscaya. Bagaimana menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap hadirnya KUPI

Zahra Amin by Zahra Amin
29 November 2022
in Personal, Rekomendasi
A A
0
KUPI Muda

KUPI Muda

9
SHARES
463
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Catatan tentang KUPI Muda, saya mulai dari sambutan Ibu Nyai Hj Badriyah Fayumi saat pembukaan kegiatan lokakarya refleksi KUPI di Jakarta awal 2022 silam. Dalam penjelasannya, Ibu Nyai mengatakan bahwa pada Kongres KUPI pertama pada 2017 silam, mengangkat tema yang powerfull. Yakni  “meneguhkan eksistensi ulama perempuan untuk kesemestaan, kemanusiaan, dan kebangsaan.” Dalam 5 tahun ini, menurutnya sudah kuat, dan semakin merambah ke otoritas-otoritas keilmuan non keislaman.

Recognisi Ulama Perempuan

Pengakuan atau recognisi ulama perempuan sudah datang dari pemerintah, sehingga kalau ada isu yang beririsan dengan perempuan dipastikan akan menghubungi KUPI. Masyarakat media juga semakin luas. Recognisi dan eksistensi sudah terjadi, bahkan sampai pada dunia internasional.

Tentu ini peluang yang sangat baik, untuk diolah sangat tepat, formula yang cepat. Diskusi yang panjang bukan soal isunya, tetapi formula yang tepat. Selain itu juga bagaimana harus cepat dengan penggunaan teknologi yang mudah, adaptif, dan akseseble.

Lalu bagaimana dengan peneguhan peran? Dalam pandangan Ibu Nyai Badriyah, lumayan. Ada kondisi yang menurutnya perlu disikapi bersama. Demand lebih tinggi dari pada supply. Meskipun di titik tertentu mengalami kekalahan. Ini peluang sekaligus tantangan ulama perempuan yang harus kita hadapi bersama.

Recognisi yang paling diharapkan dari KUPI, yang kongkrit dan menyentuh grass root (akar rumput/masyarakat bawah), sehingga bagaimana caranya agar ke depan sampai ada pengakuan bahwa “Kau adalah ulamaku.”

Peneguhan Peran Ulama Perempuan

Penguatan recognisi, dan peneguhan peran, harus diamalkan secara lebih luas. Hari ini baru sampai pada lobi dan kekuatan politik. Ke depan berharap kekuatan ini berangkat dari bawah. Tantangan masih sama, yakni patriarki, konservatisme yang mengarah radikalisme, dan gerakan anti feminisme. Atau ada satu komunitas yang menamakan dirinya “KOPI”, yakni komunitas yang membantah semua hal yang KUPI kaji, dengan judul “Islamic Worldview.”

Ibu Nyai Badriyah menegaskan bahwa KUPI mengalami kendala, baik yang kuantitatif dan kualitatif. Tingginya penerimaan ulama perempuan belum sebanding dengan kehadiran ulama perempuan. KUPI belum punya sistem dan pola potensi ulama perempuan. (pola kaderisasi yang sesuai).

Ke depan harapannya lebih banyak lagi kemunculan wajah-wajah baru. KUPI punya banyak perempuan ulama menjadi ulama perempuan. Titik kuat KUPI karena punya satu visi. Bagaimana kekuatan KUPI bisa hadir di masyarakat, bangsa, dan negara.

Analisis Kecenderungan

Berangkat dari kegelisahan Ibu Nyai Badriyah, dan diamini oleh seluruh peserta Refleksi KUPI saat itu, bagaimana ke depan gerakan KUPI mampu merawat simpul lama, dan menghadirkan simpul baru. Bagaimana agar mampu menyisir potensi gerakan ulama perempuan. Baik secara online maupun  offline.

Lalu sasarannya siapa? (segmentasi/target) Aktor-aktor perubahannya siapa? (pelaku/penggerak), dan bagaimana caranya? (strategi). Sehingga jika merunut sejarah pra KUPI pada 2017 pernah terjadi peristiwa politisasi agama, dan komersialisasi agama dalam proses demokrasi di negara ini, yang kemudian terjadi polarisasi di masyarakat (masyarakat terpecah belah). Yakni gerakan 212 atau Pilkada DKI Jakarta. Dari peristiwa tersebut lalu merambah pada gerakan ekonomi syariah.

Di mana dalam konsep tersebut, bagaimana ekonomi Islam membangun ekosistem yang berkeadilan. Satu sisi menjadi life style, ada pemanfaatan momentum, di sisi lain juga menjadi ruang untuk merespon atas sistem ekonomi kapitalisme yang dianggap tidak adil.

Fokusnya pada ekosistem, namun sayangnya dibajak oleh orang yang punya kepentingan bisnis. Dengan kedok manipulasi ekonomi syariah. Patut kita akui, dalam konsep tersebut  ada gerakan yang sangat besar, yang bisa mengumpulkan uang dengan dua hal. Pertama, ekonomi dan agama. Lalu kedua, bisnis atau crowdfunding.

KUPI dan Gerakan Media

Sementara itu jika ingin menggunakan bahasa yang positif, maka ada konsep yang bernama filantropi. Bagaimana ke depan (KUPI), agama menjadi kekuatan dalam sistem ekonomi dan politik. Ini gerakan yang sangat besar untuk menghadang lajunya politisasi agama dengan pandangan yang eksklusif. Di kelompok mereka ekonomi menjadi bagian dari gerakan dengan memanfaatkan ekonomi syariah, KUPI pun mampu untuk melakukannya, tentu dengan cara dan konsep yang berbeda.

Di sisi lain, dalam ekosistem media sosial, gerakan politisasi dan komersialisasi agama menyebarluaskan gagasan dari masing-masing kelompok. Gerakan media sosial yang inklusif terus berkompetisi dengan gerakan media sosial yang eksklusif dan bahkan mempromosikan ekstremisme kekerasan. Untuk menghadapi itu, gerakan media KUPI cukup memiliki prestasi dalam 5 tahun ini, meliputi channel mubadalah.id, channel kiai Faqih, Lingkar Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI), dan Kupipedia.id.

Isu otoritarianisme digital juga menjadi catatan penting, berdampak pada terbatasnya ruang gerak publik internet dalam berpendapat, karena masifnya ancaman, serangan digital hingga persekusi. Sedangkan pada tahun 2022 ini, situasi agama semakin menjadi kekuatan penggerak perubahan sosial.

Baik yang berpaham konservatif maupun moderat. Baik ke arah yang lebih eksklusif maupun inklusif. Yang mencolok, agama juga melahirkan gerakan ekonomi umat, dengan berbagai bentuk. Baik itu bisnis, filantropi, maupun pengumpul dana umat.

Perubahan dan Dampak terhadap Perempuan

Perubahan-perubahan dalam dinamika gerakan ini punya dampak tersendiri bagi perempuan. Watak gerakan politisasi agama dan komersialisasi agama adalah maskulin. Kecuali dalam gerakan ekonomi, perempuan terlibat secara aktif untuk mengasilkan value ekonomi, tapi dengan cara-cara domestik. Seperti promosi gerakan berdaya dari rumah. Secara umum, bagi gerakan yang eksklusif, perempuan tetap didomestikasi, perempuan menjadi objek.

Sedangkan, bagi gerakan yang inklusif sepanjang tahun 2017-2022, perempuan mengalami penguatan peran, dari pinggiran ke tengah. Yang paling tercatat adalah gerakan menuntut pengesahan RUU PPRT dan RUU TPKS yang semakin populer dalam wacana publik. Gerakan ini melibatkan hampir semua elemen masyarakat dari lintas identitas dan generasi.

Konsekuensi khusus bagi perjuangan KUPI Muda ke depan, yaitu semakin nyata dan jelas. Kontestasi semakin kentara, nampak jelas. Ada kecenderungan kehadiran KUPI menjadi penting, baik bagi negara maupun masyarakat, untuk menjawab berbagai isu dari perspektif agama.

Deklarasi KUPI Muda di Jepara

Kehadiran jaringan KUPI Muda di Jepara, semakin memperjelas kembali identitas KUPI secara kelembagaan maupun identitas ulama yang merepresentasikan KUPI. Dulu, KUPI dianggap milik bersama gerakan tapi kini kebutuhan sudah berubah. Representasi ulama-ulama KUPI juga multiple identitas, dan belum ada yang benar-benar pede membawa identitas KUPI.

Selain itu, bagaimana menjembatani (gap) potensi pengetahuan anak muda, dan otoritas ulama perempuan, terutama dalam hal teknologi digital, dan media kreatif. Pada moment perhelatan KUPI II di Jepara kemarin, telah terfasilitasi dalam salah satu halaqah paralel. Yakni “Dakwah Kekinian Jaringan Muda KUPI: Digital dan Non-Digital.”

Hadir dalam kesempatan itu, narasumber Kalis Mardiasih, Sarjoko dari Tim Media Seknas Gusdurian, dan Nyai An An Aminah dari Ponpes Ar-Risalah Ciamis. Sementara saya menemani mereka sebagai moderator dalam halaqah tersebut. Peserta, yang dominan santri, pelajar dan maahsiswa nampak antusias mengikuti kegiatan hingga selesai acara.

Lalu pada hari berikutnya, ada agenda Halaqah Refleksi Paralel, dengan tema “Kerja-kerja Jaringan Anak Muda Milenial.” Kegiatan ini digawangi Hijroatul Maghfiroh dan Andi Faizah. Dalam kesempatan ini banyak sekali ide dan gagasan anak muda menyikapi berbagai persoalan dan realitas sosial yang ada di sekitarnya. Terutama jika terkait dengan visi KUPI pada nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan dan kesemestaan.

Gerakan KUPI Muda

Dalam gerakan KUPI ke depan pelibatan anak muda adalah niscaya. Bagaimana menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap hadirnya KUPI, yang dengan lantang ketika ada yang meneriakkan satu kalimat “Kau adalah Ulamaku.” Kemudian mereka sambut pula dengan pelukan hangat, “Kau adalah penerus cita-citaku”, sehingga tongkat estafet perjuangan dari gerakan KUPI bisa simultan dan berkelanjutan.

Seluruh ide, gagasan, dan konsep besar yang termaktub dalam Ikrar Joglo Bangsri, Ikrar KUPI Muda, 5 pandangan keagamaan, dan 8 rekomendasi hasil KUPI II mampu kita terjemahkan dengan beragam bahasa, yang bisa dipahami oleh siapa saja.

Terlepas apapun latar belakangnya, semua merasa diakui, diberi ruang dan kesempatan, diberdayakan, didukung, didampingi, dan dibela hak-haknya. Atas nama kemanusiaan, kebangsaan, dan keislaman yang rahmatalil alamin.

Ikrar Joglo Bangsri Jepara tentang Jaringan Muda KUPI

Kami jaringan muda KUPI adalah bagian dari ulama perempuan Indonesia yang memiliki potensi keulamaan, berkomitmen untuk menjalankan misi tauhid dan risalah Nabi Muhammad SAW secara konsisten dalam membangun peradaban sesuai perkembangan zaman tanpa melupakan warisan pandangan dan tradisi baik dari para ulama terdahulu.

Kami, jaringan muda KUPI berkomitmen untuk memperkuat jejaring dan mengawal advokasi bagi mereka yang terpinggirkan sebagai bagian dari solusi bagi bangsa dan semesta. Untuk itu, otoritas keulamaan perempuan wajib terus dirawat dan dikembangkan agar menjadi kekuatan transformatif di ruang khidmatnya masing-masing.

Kami jaringan muda KUPI siap untuk bergerak, berkarya dan berkolaborasi demi mewujudkan cita-cita universal Islam dengan memanfaatkan berbagai ruang, termasuk ruang-ruang digital. Jaringan muda KUPI berkomitmen untuk mendorong dan mempercepat kebijakan terkait isu-isu krusial kemanusiaan dan kesemestaan dalam mempromosikan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kami jaringan muda KUPI menolak segala cara pandang beragama dan berbangsa yang ekstrem dalam memaksa kelompok yang berbeda, sehingga mengakibatkan tergoncangnya harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. (Ponpes Hasyim Asyari Bangsri Jepara, 26 November 2022/02 Jumadil Ula 1444 H). []

Tags: Hasil KUPI IIKongres Ulama Perempuan IndonesiaKUPI IIKUPI Mudaulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Hasil Musyawarah KUPI II Harus Tersampaikan Kepada Seluruh Masyarakat Indonesia

Next Post

Ikrar Joglo Bangsri Jepara

Zahra Amin

Zahra Amin

Zahra Amin Perempuan penyuka senja, penikmat kopi, pembaca buku, dan menggemari sastra, isu perempuan serta keluarga. Kini, bekerja di Media Mubadalah dan tinggal di Indramayu.

Related Posts

Syarifah Baghdad
Figur

Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara

20 Juli 2026
Pengelolaan Sampah
Lingkungan

Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

3 Juli 2026
ToT KUPI
Personal

ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

2 Juli 2026
Pengelolaan Sampah di Kebon Jambu
Lingkungan

Refleksi Pengelolaan Sampah di Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon

25 Juni 2026
Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Next Post
Ikrar Joglo Bangsri Jepara

Ikrar Joglo Bangsri Jepara

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya
  • Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak
  • Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes
  • Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara
  • HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0