Jumat, 10 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Koruptor

    Mengapa Koruptor Lebih Mudah Dimaafkan daripada Pencuri Singkong?

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Koruptor

    Mengapa Koruptor Lebih Mudah Dimaafkan daripada Pencuri Singkong?

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Nelayan Perempuan Madleen, Greta Thunberg, dan Misi Kemanusiaan Palestina

Kisah Madleen, Rima Hassan, Yasemin Acar, dan Gretha Thunberg menjadi aktor penting dalam membangun perdamaian di Gaza.

Layyin Lala by Layyin Lala
18 Juni 2025
in Publik
A A
0
Greta Thunberg

Greta Thunberg

31
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam sepekan terakhir, dunia dikejutkan oleh penculikan 12 aktivis kemanusiaan di laut Gaza oleh tentara Israel. Kabar tersebut bermula dari kabar yang beredar di media sosial X FFC yang mengunggah rekaman video berisi pesan darurat Gretha Thunberg dan 11 aktivis lainnya (9/06).

FFC atau Freedom Flotilla Coalition merupakan koalisi internasional yang terbentuk dengan tujuan menyediakan bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza. FFC juga menentang blokade oleh Israel dan telah berdiri sejak tahun 2010. Selama 15 tahun terakhir, FFC aktif mengirimkan kapal berisi bantuan. Serta aktivis untuk mendukung rakyat Palestina yang mengalami penderitaan akibat situasi kemanusiaan yang semakin memburuk.

Penculikan 12 Aktivis Kemanusiaan di Laut Gaza oleh Tentara Israel

Kapal MV Madleen bertolak dari Pelabuhan Catania di selatan Italia, Minggu (1/6/2025) sore waktu setempat dengan membawa obat-obatan, makanan, dan peralatan medis. Tanggal 9 Juni 2025, kapal MV Madleen berisikan 12 aktivis kemanusiaan mendekat ke perairan Gaza pukul 01.17 waktu setempat.

Tepat pukul 02.00, tentara-tentara Israel menghentikan dan membajak kapal MV Madleen dengan menyekap seluruh aktivis yang ada. Israel telah menyiapkan pasukan elit angkatan laut Shayetet 13 untuk menyerbu dan mengambil alih kapal layar Madleen di perairan internasional.

Unggahan FFC dalam telegram (9/06) memperlihatkan bahwa seluruh aktivis duduk dalam kapal menggunakan jaket pelampung dan mengangkat tangan ke atas. Menurut laporan dari Al-Jazeera, seluruh kru dalam kapal memaksa agar seluruh akses telepon dan internet tetap mati. Ketika kapal bantuan untuk Gaza berhenti karena militer Israel.

Akun Twitter FFC membagikan sebuah video berisi pesan darurat dari Greta Thunberg dan 11 aktivis lainnya. Dalam video tersebut, Greta memperkenalkan diri, “Saya Greta Thunberg, dari Swedia.” Ia lalu mengatakan, “Kalau kalian menonton video ini, berarti kami sudah dihentikan dan ditangkap di laut internasional oleh tentara Israel atau pasukan yang mendukung mereka.”

Adapun 12 aktivis pada kapal tersbeut, yaitu Greta Thunberg (seorang aktivis perubahan iklim asal Swedia) yang terkenal atas perjuangannya dalam isu lingkungan. Rima Hassan (anggota parlemen Eropa yang lahir di kamp pengungsi Palestina di Suriah) aktif dalam memperjuangkan hak-hak pengungsi dan keadilan sosial.

Yasemin Acar (seorang aktivis asal Jerman) fokus pada isu-isu minoritas. Di atas kapal juga terdapat Reva Viard (warga negara Prancis) dan Pascal Maurieras (aktivis asal Prancis yang sebelumnya telah berpartisipasi dalam misi Freedom Flotilla).

Sementara itu, Thiago Avila (koordinator Freedom Flotilla Coalition di Brazil dan anggota Komite Pengarah koalisi Freedom Flotilla) terlibat aktif dalam solidaritas internasional. Yanis Mhamdi (jurnalis dan direktur di Blas, sebuah media independen di Prancis) berperan dalam penyebaran informasi alternatif.

Omar Faiad (koresponden Al Jazeera Mubasher) meliput berbagai isu global, dan Sergio Toribio (anggota LSM konservasi laut Sea Shepherd) bekerja untuk perlindungan lingkungan laut. Selain itu, terdapat juga Baptise Andre (dokter dan aktivis asal Prancis), Suayb Ordu (aktivis dari Turki), dan Mark van Rennes (mahasiswa teknik asal Belanda).

Kapal MV Madleen Terinspirasi dari Nelayan Perempuan di Laut Gaza

Ke-12 aktivis kemanusiaan menumpangi kapal MV Madleen membawa banyak akomodasi logistik kemanusiaan. Uniknya, nama kapal MV Madleen berasal dari nama satu-satunya nelayan perempuan di Gaza. Madleen sudah mulai melaut sejak usia 15 tahun bersama ayahnya, dan terkenal pada kalangan aktivis solidaritas internasional.

Namun sejak perang pecah, Madleen dan suaminya tidak bisa lagi melaut karena kapal-kapal mereka hancur karena serangan Israel. Semua peralatan memancing mereka juga ikut hilang. Kehilangan tersebut memutus hubungan mereka dengan laut, yang selama ini menjadi bagian besar dari kehidupan dan identitas mereka.

Madleen mengaku kini sulit mendapatkan ikan, yang dulu bisa ia nikmati hampir setiap hari. Harganya sangat mahal dan hanya sedikit nelayan yang masih memiliki peralatan. Bahkan mereka yang masih bisa melaut harus mempertaruhkan nyawa.

Di tengah kelaparan yang terjadi di Gaza, makanan seperti ikan menjadi sesuatu yang sangat dirindukan. Madleen bersyukur namanya digunakan untuk kapal bantuan itu. Meskipun ia khawatir Israel akan menghentikannya atau bahkan menyerang seperti yang terjadi pada kapal Mavi Marmara pada tahun 2010.

Greta Thunberg: Anak Muda Gen Z dalam Misi Kemanusiaan Palestina

Gretha Thunberg, anak muda aktivis lingkungan asal Swedia menjadi salah satu kru kapal yang terculik. Greta bergabung dengan kapal layar Madleen yang dioperasikan kelompok aktivis Freedom Flotilla Coalition (FFC) menuju Gaza.

Greta terkenal sebagai aktivis iklim sejak usia remaja. Ia mulai menyuarakan kepedulian terhadap perubahan iklim sejak usia 8–9 tahun. Pada usia 15 tahun, ia mulai melakukan aksi mogok sekolah di depan parlemen Swedia yang kemudian memicu gerakan global “Fridays for Future.”

Greta dan rekan-rekannya sempat ditahan, lalu akhirnya dideportasi ke negara masing-masing setelah kapal mendekati jalur Gaza. Greta sendiri dipulangkan ke Paris. Setibanya di sana, ia menuduh Israel telah melakukan penahanan secara ilegal, karena menurutnya mereka tidak melanggar hukum apa pun selama perjalanan tersebut.

“Di perairan internasional kami diserang dan diculik secara ilegal oleh Israel. Dan dibawa oleh Israel tanpa keinginan kami. Di sana kami ditahan dan beberapa dari kami dideportasi. Beberapa masih disana. Um, ada ketidakpastian yang sangat besar (ketika disana). Karena itu cukup kacau dan tidak pasti. Jadi, aku tidak begitu tau apa yang terjadi. Saya tidak memegang telepon selama beberapa hari. Kondisiku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dialami orang-orang di Palestina, khususnya Gaza saat ini. Dan ini adalah pelanggaran hak asasi manusia internasional lainnya menambah daftar (pelanggaran hak) yang tak terhitung jumlahnya khususnya terhadap Palestina. Bahwa Israel melakukan hak tersebut dengan memblokir dan mencegah bantuan kemanusiaan memasuki Gaza itu ilegal. Aku tidak tahu apakah kecewa adalah kata yang tepat. Ini adalah pelanggaran berkelanjutan terhadap hukum internasional. Dan kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel secara sistematis terhadap Palestina dengan cara tidak mengizinkan bantuan masuk dengan cara membuat orang kelaparan dan melakukan pembantaian massal dengan cara apapun. Siaran langsung terhadap genosida besar-besaran yang disaksikan dunia.”

Namun, pemerintah Israel membantah tuduhan itu. Dalam pernyataan resmi,Israel menyebut bahwa tindakan yang mereka ambil sudah sesuai dengan aturan keamanan. Kapal yang Greta gunakan telah memasuki wilayah terlarang, sehingga penahanan dan deportasi Israel lakukan sebagai langkah hukum.

Rima Hassan, Yasemin Acar, dan Gretha: Merayakan Perempuan Sebagai Peacemaker

Tiga dari dua belas aktivis adalah perempuan. Mereka adalah Gretha Thunberg, Rima Hassan, dan Yasemin Acar. Rima Hassan sendiri merupakan seorang cendekiawan hukum dan aktivis Palestina-Prancis yang menjadi anggota Parlemen Eropa.

Rima Hassan menghabiskan masa kecilnya di kamp pengungsi Neirab di pinggiran kota Aleppo, sebelum beremigrasi ke Prancis dan kota Niort di bagian barat pada usia 10 tahun. Ia memperoleh kewarganegaraan Prancis pada usia 18 tahun. 

Rima Hassan belajar hukum dan mengejar gelar master dalam hukum internasional dari Universitas Sorbonne Paris. Rima menulis tesisnya tentang apartheid di Afrika Selatan dan Israel. Pada tahun 2019, Rima mendirikan Refugee Camp Observatory, LSM untuk mempelajari kamp-kamp seluruh dunia dan meningkatkan kesadaran tentang kondisi kehidupan dan pelanggaran hak-hak pengungsi terutama untuk Gaza.

Sedangkan Yasemin Acar merupakan aktivis berusia 37 tahun dari Jerman. Ia lahir dan besar di Jerman dari orang tua keturunan Kurdi yang berasal dari Turki. Sejak usia 15 tahun, Yasemin sudah aktif memperjuangkan hak-hak pengungsi, hak asasi manusia, dan melawan diskriminasi terhadap umat Muslim. Ia bekerja sama dengan banyak organisasi untuk membantu para pengungsi agar bisa menetap di Jerman, dan memiliki banyak pengalaman bekerja dengan anak muda.

Saat perang di Ukraina terjadi, Yasemin membantu menggerakkan 15.000 relawan dan mendirikan “Berlin Arrival Support” untuk membantu para pengungsi. Ia juga memberi saran kepada pemerintah Berlin tentang cara menangani krisis pengungsi dan ikut mendorong pemerintah agar bertindak lebih baik.

Selama bertahun-tahun, Yasemin juga aktif menyuarakan dukungan untuk Palestina. Saat ini, ia terlibat dalam mengorganisir aksi demonstrasi besar, kegiatan langsung, dan berbagai acara di Berlin untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina terutama Gaza. 

Refleksi Perempuan Sebagai Peace Maker

Kisah Madleen, Rima Hassan, Yasemin Acar, dan Gretha Thunberg menjadi aktor penting dalam membangun perdamaian dan memperjuangkan keadilan di Gaza. Dalam dunia yang masih sering mengabaikan suara perempuan dalam pengambilan keputusan global, kehadiran mereka bertiga sebagai peacemaker menjadi sangat penting.

Peran perempuan dalam membangun perdamaian tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejarah menunjukkan bahwa keberadaan perempuan dalam proses rekonsiliasi dan penyelesaian konflik justru membawa perspektif baru yang lebih inklusif, empatik, dan berorientasi pada keberlanjutan. 

Rima Hassan, dengan latar belakang sebagai pengungsi dan pendidik hukum internasional, menjadikan pengalaman hidupnya sebagai pijakan untuk memperjuangkan hak asasi manusia, terutama bagi para pengungsi yang selama ini terpinggirkan.

Begitu pula Yasemin Acar, yang sejak remaja telah terlibat dalam gerakan solidaritas lintas komunitas, menunjukkan bahwa keberanian dan kepedulian sosial dapat mengakar kuat bahkan dalam usia yang sangat muda. Keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi kemanusiaan dan perdamaian memberikan pendekatan yang lebih humanis dan adil. []

 

Tags: GazaGretha ThunbergkemanusiaanMadleenPalestinaperempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Berproses Bersama SIS Malaysia

Next Post

Dr. Nur Rofiah Tegaskan Pentingnya Mengubah Cara Pandang untuk Hentikan Kekerasan Seksual pada Anak

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Persahabatan
Publik

Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

9 Juli 2026
Kemandirian Manusia
Disabilitas

Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

9 Juli 2026
Pendidikan Perempuan
Publik

Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

8 Juli 2026
Kepemimpinan Perempuan
Publik

Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

7 Juli 2026
TPA Pakusari
Lingkungan

Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari

6 Juli 2026
Demonstrasi
Publik

Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?

4 Juli 2026
Next Post
kekerasan seksual terhadap anak

Dr. Nur Rofiah Tegaskan Pentingnya Mengubah Cara Pandang untuk Hentikan Kekerasan Seksual pada Anak

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya
  • Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti
  • Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan
  • Agensi Perempuan dari Memoar Huda Sha’rawi “Neraka di Harem”
  • Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0