Senin, 23 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Layla Majnun: Penyadaran Kepemilikan Manusia

Spirit kisahnya sama dengan Layla-Qais yang ditulis oleh Nezami Ganjavi namun bedanya adalah usaha penyadaran diri yang dilakukan Layla dan Samir.

Nur Kholilah Mannan by Nur Kholilah Mannan
17 Februari 2021
in Film
A A
0
Layla

Layla

20
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Layla, kamu pernah mendengar kisah Qais yang mengutarakan cintanya di dinding?

Layla, aku melewati dinding itu, aku cium temboknya, bukan rumah itu yang telah mengambil hatiku  tapi dia yang berdiam di dalamnya.

Mubadalah.id – Puisi mashur yang diutarakan Qais pada Layla saat dia dikurung di istananya sendiri karena tidak boleh bertemu dengan kekasihnya, Qais. Keduanya dipisah oleh tembok kokoh membuat Qais mengutarakan deru rindunya pada tembok itu yang sesungguhnya ditujukan pada Layla di dalamnya.

Puisi itu dikutip oleh Samir dalam Film Layla Majnun saat mengungkapkan perasaannya yang tak bisa lagi dibendung, setelah kurang lebih dua minggu bertemu dalam satu lokasi perkuliahan di Azerbaijan. Layla sebagai dosen tamu dan Samir mahasiswanya.

Reza Rahardian sebagai Samir berperan begitu apik, logat seorang Azerbaijan yang lancar berbahasa Indonesia dan gaya mahasiswanya yang totalitas membuat kaum sufi (suka film) benar-benar merasakan suasana pelajar Persia yang sedang jatuh cinta. Sedangkan Acha Septriasa sebagai Layla adalah perempuan mandiri, teguh dan sangat menentang diskriminasi atas perempuan namun pada akhirnya ia sendiri yang diuji dengan kondisi keluarga yang terdesak.

Sejak kecil Layla hidup dengan ibu dan pamannya, bapaknya meninggal sejak ia masih kecil. Kekerasan demi kekerasan dilakukan oleh paman yang seharusnya menjadi pengganti bapak sebagai tulang punggung keluarga. Namun dia malah memalak ibunya dan menjodohkan Layla dengan calon bupati di kota itu sebagai imbalan hutang yang tak kunjung dilunasi.

Masalahnya semakin kompleks saat ia menerima lamaran calon bupati yang “tidak bener” itu dan berangkat ke Azerbaijan sebagai dosen tamu. Di sana Layla bertemu dengan Samir yang mencintainya sejak pertama kali buku pertamanya launching, dia yang mempromosikan buku Layla dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Azerbaijan dan kemudian membuat Layla lolos menjadi dosen tamu di jurusan keindonesiaan di Azerbaijan. Ya, Samir mencintai Layla jauh sebelum Layla mengenal Samir.

Singkat cerita Samir menjadi majnun (gila) sebab Layla harus pulang ke Indonesia untuk menikah dengan lelaki lain. Namun belum sempat pernikahan itu terjadi Samir bangkit dari kegilaannya mengejar Layla ke Indonesia, bersatulah mereka dan hidup bahagia.

Spirit kisahnya sama dengan Layla-Qais yang ditulis oleh Nezami Ganjavi namun bedanya adalah usaha penyadaran diri yang dilakukan Layla dan Samir. Jika tidak, Layla akan tetap menjadi istri bupati dan Samir terus menggila. Berkat penyadaran itu kisah keduanya berakhir bahagia.

Selain itu, ada banyak pesan penyadaran yang lain dari para perempuan dalam film ini. Seorang Tina yang bercita-cita kawin muda dan bulan madu di tanah suci nyatanya setelah ditanya setelah itu mau ngapain dia malah diam. Begitulah, iming-iming nikah muda itu sekedar euforia belaka, toples Khong guan isi rengginang alias hanya indah di muka namun belakangnya belum tahu seperti apa.

Syukur kalau sudah siap mental menghadapi getar-getir kehidupan, mulai ekonomi, cibiran tetangga, mendidik anak yang tidak sederhana dan mertua yang (katanya) kadang tidak sependapat. Itu semua butuh ketangguhan diri dari jiwa yang sudah dewasa dan matang zahir batin.

Sebab pernikahan itu bukan sekedar hubungan biologis suami istri namun juga hubungan sosial dan spiritual. Karenanya dalam Islam pernikahan memiliki spesifikasi sangat ketat, selain mempelai harus ada wali perempuan dan dua saksi yang adil. Maka keliru jika pernikahan disamakan dengan perdagangan karena dalam akad jual-beli seorang saksi bukanlah syarat keabsahan akad.

Dari ibu Layla yang senantiasa mendukung anaknya untuk bangkit dari keterpurukan, berjuang sampai ia sukses mencapai cita-cita dan cintanya. Dukungan ibu yang selalu menolongnya dalam kodisi terdesak, dukungan ibu yang membangunkan semangatnya dan ibunya juga yang menyelamatkan cintanya saat berada di ambang maut.

Dari Layla yang bertekad menjadi diri yang bebas, dari sinilah bersumber kebaikan-kebaikan lain. Keluarganya keluar dari kekangan oligarki, menyadarkan muridnya bahwa pernikahan adalah ikatan suci (mitsaqan ghalidzan) yang harus dipertimbangkan dengan benar, pertimbangannya tentang pasangan bukan lagi layak atau tidak layak tapi cinta atau tidak cinta. Mungkin sering kita mendengar bahwa cinta tak cukup jadi bekal pernikahan, itu benar bagi cinta birahi, tapi cinta hakiki akan menumbuhkan tekad untuk saling bahagia membahagiakan.

Lihatlah Samir yang sudah sampai pada cinta hakiki itu, ia tak membutuhkan cinta celengan sebagai perantara;

Mereka bilang apa kamu mencintai Layla?

jawabku tidak. Kenapa?

Cinta adalah tali  penghubung, Layla adalah aku, aku adalah Layla, tidak perlu ada tali penghubung di antara kami berdua. Layla membuka jendela sebagai tanda ia membuka hatinya untuk Samir dan tak pernah menutupnya lagi.

Sebagaimana kukatakan di awal, film ini berbeda dengan Laila-Majnunnya Nezami yang berakhir dengan kematian, Layla-Majnun dalam film ini menyadarkan kita tentang kepemilikan manusia yang utuh atas diri kita masing-masing, karena setelah Tuhan tubuh kita adalah milik kita sendiri. []

Tags: Film Layla MajnunKesalinganKisah Cintaperkawinan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Cara Membangun Support System bagi Korban KBGO

Next Post

SKB 3 Menteri Harus Dijalankan

Nur Kholilah Mannan

Nur Kholilah Mannan

Related Posts

Relasi Mubadalah
Metodologi

Tingkatan Maqasid dalam Relasi Mubadalah: Dari yang Primer (Daruriyat), Sekunder (Hajiyat), dan Tersier (Tahsiniyat)

19 Februari 2026
Mubadalah dan Disabilitas
Disabilitas

Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

19 Februari 2026
Mawaddah dan Rahmah
Pernak-pernik

Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

15 Februari 2026
Kegagalan Perkawinan
Pernak-pernik

Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

11 Februari 2026
Relasi Suami-Istri
Pernak-pernik

Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

11 Februari 2026
Perkawinan dalam
Pernak-pernik

Tantangan dalam Perkawinan

10 Februari 2026
Next Post
SKB 3 Menteri

SKB 3 Menteri Harus Dijalankan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya
  • Ayat-ayat Mubadalah dalam Relasi Berkeluarga
  • Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan
  • Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak
  • Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0