Mubadalah.id – Dunia modern sering kali menempatkan sebagian orang dalam situasi di mana pekerjaan memaksa mereka harus berjauhan dengan pasangan. Mau tidak mau, kondisi ini mengurangi intensitas pertemuan dan kedekatan di antara keduanya. Mereka hanya bisa bertemu seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, atau bahkan lebih lama dari itu.
Idealnya, pernikahan memang menyatukan dua orang, baik secara lahir maupun batin. Setelah menikah, pasangan suami istri tentu menghendaki untuk tinggal bersama, tidak berjauhan, apalagi sampai terpisah. Untuk apa menikah jika tidak bisa bersama?
Namun, jika kondisi memaksa adanya perpisahan sementara, apa boleh buat. Dalam situasi seperti ini, masing-masing harus bersikap dewasa. Artinya, kedua belah pihak, termasuk keluarga masing-masing, perlu menerima keadaan dengan lapang dada. Tanpa adanya pengertian dari kedua belah pihak, perpisahan sementara ini justru dapat mengancam keutuhan rumah tangga.
Setelah adanya kesepakatan bersama, pasangan juga perlu menyadari konsekuensi dan berbagai kemungkinan masalah yang akan timbul dari hubungan jarak jauh tersebut.
3 Tips
Misalnya, berkurangnya intensitas pertemuan, terbatasnya pemenuhan nafkah batin, hingga kemungkinan hadirnya pihak ketiga dalam hubungan mereka. Kesadaran ini perlu diikuti dengan membangun komitmen bersama dalam menghadapi berbagai risiko tersebut, di antaranya:
Pertama, menjaga komunikasi. Hal ini penting untuk menjaga hubungan tetap dekat dan harmonis. Saling menyapa dapat membantu pasangan merasakan kehadiran satu sama lain dalam kehidupannya.
Dengan begitu, jarak yang memisahkan tidak akan terlalu berpengaruh pada perasaan yang tetap dekat dan terhubung. Sebagaimana pepatah mengatakan, “jauh di mata, dekat di hati.”
Kedua, menjaga komitmen. Saat janji pernikahan telah terucap, komitmen untuk setia sehidup semati harus tertanam kuat dalam hati masing-masing, baik saat bersama maupun saat berjauhan.
Ini penting untuk meneguhkan kesadaran bahwa ketika pernikahan telah ditetapkan, maka tertutup pula pintu-pintu yang lain. eski pasangan bukanlah sosok yang sempurna, keyakinan bahwa dialah yang terbaik harus terus dijaga.
Dengan demikian, kekurangan pasangan tidak dijadikan alasan untuk mencarinya di tempat lain. Saat tidak tinggal bersama dalam satu atap, komitmen seperti ini justru harus semakin diperkuat, karena godaan untuk berpaling biasanya lebih besar dibandingkan ketika hidup berdekatan.
Ketiga, saling percaya. Komitmen harus berjalan seiring dengan sikap saling percaya. Dengan adanya kepercayaan, kecurigaan yang dapat memicu konflik bisa mereka hindari. Saling mengontrol dalam batas wajar memang ia perlukan, tetapi tidak sampai pada tahap saling mengintai.
Dengan begitu, masing-masing tidak merasa dibatasi atau dicurigai secara berlebihan. Mereka tetap dapat menjalani hidup dengan rasa bebas, namun tetap dalam kontrol diri dan tanggung jawab terhadap pasangan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Fondasi Keluarga Sakinah hlm 136-137











































