Mubadalah.id – Serial ke-15 Diskusi Biografi Ulama Perempuan terselenggara pada Sabtu, 16 Mei 2025 yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube GUSDURian TV. Dalam serial ke 15 ini, memperkenalkan kembali kiprah dan peran Ibu Nyai Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Adapun agenda Pembacaan Biografi ini diselenggarakan untuk menyambut Deklarasi Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan (BKUPI)
Diskusi tentang Ibu Nyai Hj. Shinta Abdurrahmad Wahid dipandu oleh Siti Munawaroh sebagai moderator dan Wiwin Siti Aminah Rohmawati sebagai penutur kisah. Wiwin Siti Aminah Rohmawati sendiri merupakan senior adviser Jaringan GUSDURian yang tentunya sangat mengenal kiprah Ibu Nyai Hj. Shinta Abdurrahman Wahid.
Sosok Ibu Nyai Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid
Ibu Nyai Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid merupakan ulama perempuan yang patut diteladani kiprahnya dalam memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan pluralisme.
Nyai Hj. Shinta lahir di Jombang pada 8 Maret 1948, anak sulung dari 18 bersaudara dari pasangan H. Abdussyakur (atau H. Abdullah Syukur) dan Hj. Siti Anisah Syakur. Di mana hingga saat ini ia menjadi sosok orang tua bagi ke 17 adiknya.
Nyai Hj. Shinta lahir di keluarga yang sangat lekat nuansa keislaman dan lingkungan pondok pesantren. Ia memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat Jombang yang kemudian melanjutkan ke Madrasah Muallimin Mualimat (MMA) Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.
Pada usia 13 tahun, Gus Dur yang merupakan guru Nyai Hj. Shinta di pesantren mulai suka kepadanya. Saat Gus Dur melanjutkan Pendidikan di Baghdad, Nyai Hj. Shinta setuju untuk menikah dengan Gus Dur. Mereka melakukan pernikahan jarak jauh pada tahun 1968. Kemudian pada tahun 1971 setelah Gus Dur pulang dari studinya, mereka meresmikan pernikahan. Mereka dikarunia empat anak yang hingga kini juga aktif memperjuangkan nilai kesetaraan dan keadilan.
Pendidikan, Penghargaan, dan Karya
Ibu Nyai Hj. Shinta menyelesaikan studi strata satu di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada tahun 1992, Nyai Hj. Shinta mengalami kecelakaan yang mengakibatkan separuh tubuhnya mengalami kelumpuhan. Kondisi tersebut menjadi titik balik hidupnya, di mana awalnya ia aktif bekerja sebagai jurnalis dan menjadi aktivis di Kowani (Kongres Wanita Indonesia).
Setelah menjalani terapi dan kondisinya membaik, Nyai Hj. Shinta memilih untuk melanjutkan sekolah pasca sarjana di Pusat Kajian Wanita Universitas Indonesia. Beliau berhasil menyelesaikan studi tersebut, walaupun mengalami kesulitan setiap akan kuliah. Kondisi sekolah dan fasilitas umum saat itu belum ramah bagi difabel, sehingga Nyai Hj. Shinta harus ditandu dengan kayu setiap menghadiri perkuliahan di lantai 4. Hal itu memperkuat karakter Nyai Hj. Shinta sebagai pejuang tangguh.
Pada 18 Desember 2019, Nyai Hj. Shinta mendapatkan gelar Doktor Kehormatan bidang Sosiologi Agama dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Nyai Hj. Shinta juga menerbitkan beberapa buku yakni Romantika Kehidupan, Perempuan dan Pluralisme, Kembang Setaman Perkawinan, Wajah Baru Relasi Suami Istri, dan Pesantren Tradisi dan Kebudayaan.
Nyai Hj. Shinta masuk dalam 100 tokoh berpengaruh dunia versi Majalah Times kategori tokoh perjuangan perempuan pada 2018. Sebelumnya beliau juga masuk dalam daftar 11 perempuan paling berpengaruh dunia versi New York Times. Tidak hanya itu, Nyai HJ. Shinta juga mendapat penghargaan dari Universitas Soka Jepang sebagai pejuang perempuan.
Melahirkan Tafsir yang Adil Gender dan Tidak Bias
Nyai Hj. Shinta sudah merasakan kegelisahan terkait masalah perempuan dalam konteks keagamaan. Walaupun pada saat itu belum ada ruang untuk pemikirannya yang kritis. Orang tua Nyai Hj. Shinta memberikan pelajaran untuk berfikir secara terbuka.
Beliau melihat adanya penafsiran yang tidak adil gender bagi perempuan dalam ajaran agama Islam. Penafsiran tersebut mengakibatkan adanya anggapan di sebagian masyarakat bahwa kedudukan perempuan tidak setara dengan laki-laki.
Berangkat dari kegelisahan akan penafsiran tersebut kemudian Nyai Hj. Shinta mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati pada tahun 2000 yang kemudian diresmikan pada Maret 2001, Puan artinya Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Nyai Hj. Shinta mendirikan Yayasan tersebut agar lebih efektif dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi korban kekerasan.
Beliau sering mengadakan diskusi dan kajian Kitab Kuning khususnya terkait penafsiran hak dan kewajiban perempuan dalam Islam.
Nyai Hj. Shinta meyakini bahwa Islam mengajarkan persamaan kedudukan antara perempuan dan laki-laki di muka bumi yakni sebagai khalifah sebagai makhluk yang setara.
Beliau berani melahirkan penafsiran yang pada saat itu berbeda jauh dari penafsiran mainstream terutama terkait relasi antara perempuan dan laki-laki. Beliau juga menginisiasi kajian kitab kuning FK3 di Ciganjur. Dari Kajian tersebut juga lahir ide konsep Mubadalah yang salah satunya terinspirasi dari Ibu Nyai Hj. Shinta.
Nyai Hj. Shinta juga lantang menolak poligami. Beliau secara terbuka bahwa praktik poligami sangat merugikan perempuan dan hanya menimbulkan kesengsaraan.
Wiwin Siti Aminah Rohmawati menceritakan bahwa Ibu Nyai Hj. Shinta rutin melakukan kajian progresif dan penafsiran yang tidak bias, beliau menyatakan bahwa poligami tidak sesuai dengan spirit Islam.
Pada Muktamar 2004, Nyai Hj. Shinta juga menolak sumbangan dari sebuah restoran di mana pemiliknya melakukan poligami. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk aksi nyata dalam penolakannya terhadap poligami.
Mempraktikkan Kesetaraan Gender Mulai dari Rumah
Nyai Hj. Shinta tidak hanya berteori dalam memperjuangkan kesetaraan gender, beliau juga langsung mempraktikkannya mulai dari rumah.
Kesetaraan gender dibangun sejak di rumah dan diteladankan pada putri-putrinya. Gus Dur turut melakukan pekerjaan domestik di rumah sebagai wujud meneladankan konsep kesetaraan gender pada anak-anaknya.
Ibu Nyai Hj. Shinta juga menunjukkan hubungan suami istri yang setara, beliau tidak hanya menjadi pendamping domestik, namun juga menjadi partner intelektual dan pasangan diskusi.
Ibu Nyai Shinta juga berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Beliau mencotohkan bahwa kehidupan rumah tangga harusnya memang ditopang bersama-sama.
Tidak hanya itu, Ibu Nyai Hj. Shinta juga memberikan pendidikan yang sama bagi anak perempuan. Semua putrinya didorong untuk sekolah tinggi, berpikir kritis, aktif di masyarakat, dan berani menyampaikan pendapat. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memimpin dan berkarya.
Pendekatan beliau menunjukkan bahwa kesetaraan gender menurut tradisi pesantren progresif bukan berarti meniadakan peran keluarga, tetapi membangun relasi yang adil, saling menghormati, dan memberi ruang yang sama bagi laki-laki maupun perempuan untuk berkembang.
Ibu Negara Pertama yang Juga Aktivis Pergerakan Perempuan dan Lintas Iman
Sebelum menjadi Ibu Negara, Nyai HJ. Shinta telah berkiprah sebagai aktivis yang fokus memperjuangkan kesetaran gender, hak-hak asasi manusia, keadilan, dan kelompok marginal.
Dalam pemerintahan, Ibu Nyai Hj. Shinta pernah menjadi komisioner Komnas Perempuan periode pertama tahun 1998-2000 berkat ketokohan dan rekam jejaknya dalam kerja-kerja HAM pada masa itu.
Pada tahun 1998, Ibu Nyai Hj. Shinta juga ikut turun ke jalan melakukan demonstrasi terkait kenaikan harga bahan-bahan pokok. Beliau juga secara aktif mendampingi perempuan-perempuan korban pemerkosaan Mei 1998.
Lalu saat menjabat sebagai Ibu Negara, Nyai Hj. Shinta memiliki program buka dan sahur keliling bersama rakyat saat Ramadan sejak tahun 2000 untuk mendengar langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.
Inayah Wulandari Wahid juga menceritakan bagaimana ibunya selalu hadir dalam program buka dan sahur keliling tersebut bahkan hingga hari ini. Beliau secara khusus meminta kegiatan tersebut diadakan di tempat-tempat yang tidak biasa didatangi pejabat seperti pasar, Pesantren Waria, dan lain-lain.
Program tersebut dikhususkan untuk bertemu masyarakat terutama dari kelompok marginal, “bahkan kadang kita tidak terpikirkan bahwa mereka adalah kelompok termarginalkan karena mereka dekat dan hadir di kehidupan sehari-hari. Namun Ibu Shinta memiliki perspektif itu,” ungkap Inayah.
Ibu Nyai Hj. Shinta juga aktif melakukan dialog lintas agama demi mewujudkan pluralisme. Pada tahun 2013-2014, Komnas Perempuan meminta Beliau untuk menjadi pelopor khusus isu isu kebebasan beragama khususnya terkait Syiah dan Ahmadiyah.
Sejauh ini belum ada Ibu Negara di Indonesia yang merupakan aktivis, dan hingga saat ini masih memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan hak-hak asasi manusia, bahkan masih sangat dekat dan digandrungi rakyat.
Keteladanan itu yang kemudian menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk bergerak memperjuangkan nilai-nilai dari Nyai Hj. Shinta. []












































