Minggu, 1 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    Kesehatan mental

    Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

    Hannah Arendt

    Membaca Ulang Tragedi Holocaust dengan Kacamata Kritis Hannah Arendt (Part 1)

    Pernikahan di Indonesia

    Menikah Makin Langka, Mengapa Pernikahan di Indonesia Menurun?

    Humor

    Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

    Perkawinan Beda Agama

    Masalah Pelik Pencatatan Perkawinan Beda Agama

    Pegawai MBG

    Nasib Pegawai MBG Lebih Baik daripada Guru: Di Mana Letak Keadilan Negara?

    Perempuan Haid

    Ketika Perempuan sedang Haid: Ibadah Apa yang Boleh, Apa yang Gugur?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    ibu susuan

    Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan

    peran menyusui

    Menghormati Peran Ibu Menyusui

    perlindungan diri perempuan

    Hak Perlindungan Diri Perempuan

    Hadis Ummu Sulaim

    Hadis Ummu Sulaim dan Hak Perempuan Melindungi Diri

    Ekonomi Keluarga

    Tanggung Jawab Ekonomi Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    Kesehatan mental

    Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

    Hannah Arendt

    Membaca Ulang Tragedi Holocaust dengan Kacamata Kritis Hannah Arendt (Part 1)

    Pernikahan di Indonesia

    Menikah Makin Langka, Mengapa Pernikahan di Indonesia Menurun?

    Humor

    Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

    Perkawinan Beda Agama

    Masalah Pelik Pencatatan Perkawinan Beda Agama

    Pegawai MBG

    Nasib Pegawai MBG Lebih Baik daripada Guru: Di Mana Letak Keadilan Negara?

    Perempuan Haid

    Ketika Perempuan sedang Haid: Ibadah Apa yang Boleh, Apa yang Gugur?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    ibu susuan

    Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan

    peran menyusui

    Menghormati Peran Ibu Menyusui

    perlindungan diri perempuan

    Hak Perlindungan Diri Perempuan

    Hadis Ummu Sulaim

    Hadis Ummu Sulaim dan Hak Perempuan Melindungi Diri

    Ekonomi Keluarga

    Tanggung Jawab Ekonomi Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Aktual

Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

Selamat Harlah 100 Tahun Masehi NU. Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan untuk “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.”

Rochmad Widodo by Rochmad Widodo
1 Februari 2026
in Aktual, Rekomendasi
A A
0
Harlah 100 Tahun

Harlah 100 Tahun

18
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sabtu, 31 Januari 2026, sejak pagi hari warga nahdliyin berbondong-bondong memadati Gedung Istora Senayan, Jakarta. Mereka datang dari berbagai penjuru negeri, dengan antusiasme yang sama: menghadiri puncak perayaan Hari Lahir ke-100 Masehi Nahdlatul Ulama (NU).

Bagi sebagian masyarakat, peringatan ini mungkin menimbulkan tanda tanya. Karena dua tahun lalu, NU telah memperingati Satu Abad kelahirannya di Sidoarjo. Namun, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dalam sambutannya menjelaskan bahwa, penanggalan NU mengenal lebih dari satu sistem kalender. Selain kalender Masehi, NU juga merujuk kalender Hijriah—bahkan juga kalender Jawa dengan hari pasaran.

Peringatan Satu Abad NU pada Februari 2023 lalu merujuk pada kalender Hijriah, yakni 16 Rajab 1344 H–16 Rajab 1444 H. Sementara peringatan kali ini, Harlah 100 Tahun Masehi NU, merujuk pada kalender Masehi: 31 Januari 1926–31 Januari 2026.

Dalam peringatan ini, terdapat sejumlah pesan penting yang patut direnungkan oleh seluruh kader NU dan warga nahdliyin, di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Pertama, Harlah 100 Tahun Masehi NU mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.” Tema ini ditetapkan PBNU sejak Agustus 2025 melalui rapat gabungan.

Idealisme NU

Menurut Gus Yahya, pilihan tema tersebut, tidak lain karena visi dan idealisme NU, sejatinya sama dan sebangun dengan visi dan idealisme Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Yaitu untuk berjuang membangun peradaban yang lebih mulia bagi seluruh umat manusia. Bahwa, sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa.

Dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Dan bahwa kita semua sebagai bangsa, sebagai negara, harus ikut serta menjalankan ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Semua itu adalah rumusan yang merupakan wujud dari visi dan idealisme yang didirikan oleh NU yang ditetapkan ketika pendirian NU, dan kemudian termanifestasikan dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gus Yahya juga menyoroti Qari’ yang membacakan surah An-Nur ayat 35. Allâhu nûrus-samâwâti wal-ardl, matsalu nûrihî kamisykâtin fîhâ mishbâḫ…. Yang artinya: “Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar….”

Karena dalam berbagai kesempatan, Gus Yahya menyebut gemar membuat tamsil. Apabila Nadlatul Ulama itu adalah misbah yang ingin menyinari sekitar, maka miskat-nya adalah Indonesia. Karena itulah, tidak mungkin, tidak bisa, kita berpikir tentang Nadlatul Ulama, kecuali pada saat yang sama, kita juga berpikir dan bertindak tentang Indonesia.

Menilik 1 Abad Perjalanan NU

Satu abad perjalanan sejarah NU, tidak pernah lekang, tidak pernah bergeser, tidak pernah berubah semangat dan idealismenya. Bahwa NU berjuang dengan membangun kubu perjuangan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai kubu perjuangan, sebagai markas perjuangan untuk membangun peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia. Dan harapannya, visi dan idealisme ini senantiasa menghidupi batin semua kader NU dan warga nahdliyin. Senantiasa menyalakan api di dalam dada semuanya. Seluruh kader-kader Nahdlatul Ulama, dan kader-kader bangsa Indonesia.

Kedua, dalam sambutannya, Menteri Agama sekaligus Rais Syuriyah PBNU, Prof. Nasaruddin Umar, harlah 100 tahun NU turut menjadi refleksi atas hadist riwayat Abu Daud dan Nasa’i. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat Islam, setiap seratus tahun seorang yang memperbarui untuk mereka (interpretasi) ajaran agama mereka.”

Allah mengutus pada umat ini setiap akhir 100 tahun, seorang tokoh ulama yang senantiasa mereformasi, akan memperbarui substansi pemahaman keagamaan. Perjalanan 100 tahun PBNU bukan waktu yang pendek. Tapi di sinilah PBNU menunjukkan kematangannya sebagai sebuah organisasi.

Ketiga, Prof. Nasaruddin menyebut, Nahdlatul Ulama sesungguhnya adalah pesantren besar. Di dalam pondok pesantren itu penuh dengan dinamika. Ada pembahasan-pembahasan antar mazhab. Mazhab Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal. Kadang-kadang sangat panas diskusinya. Itu adalah satu bukti bahwa, dinamika akademik dan keilmuan di lingkungan NU sebagai pesantren besar sangat kuat.

Pada saat yang bersamaan juga, pondok pesantren itu memiliki tradisi, santri begitu respek dan hormat terhadap kiai. Seorang junior begitu respek dan hormatnya kepada kiai. Antara santri dengan kiai mungkin berbeda pendapat, tetapi akhlakul karimah seorang santri, sangat menjunjung tinggi keberadaan kiainya. Demikian halnya, diharapkan itu juga menjadi tradisi di NU sebagai pesantren besar.

NU adalah Keluarga Besar

Keempat, Prof. Nasaruddin mengibaratkan NU seperti keluarga besar yang di dalamnya penuh dengan dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga sakinah.

Di dalam NU tidak ada orang lain, bahkan orang lain pun menjadi orang dalam, di lingkungan Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu, NU ke depan tetap akan dijadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia.

Kelima, menurut Prof. Nasaruddin, tantangan besar PBNU dan segenap warga nahdliyin di masa depan yang paling konkret di depan mata adalah masa depan datang lebih awal dan lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mempersiapkan diri menjemput masa depan itu.

Akibatnya, terjadilah multiple shock. Ada theological shock, ada culture shock, ada political shock, ada economical shock, dan bahkan ada scientifical shock.

Oleh karena itu, Prof. Nasaruddin berpendapat, ke depan NU sudah waktunya lebih menekankan figur-figur manager yang senantiasa akan mengedepankan super team atau the power of we.

Di masa lampau, patut kita syukuri telah hadir figur-figur leaders yang sangat memiliki kapasitas mirip-mirip dengan Superman, memiliki super yang sangat tinggi. Tapi ke depan seiring dengan situasi yang berubah dan berbeda, yang diperlukan adalah kombinasi antara figur managers dan figur leaders. Dan itu sama dengan kepemimpinan Rasulullah SAW. Nabi bukan hanya menonjol sebagai super, Nabi hanya tidak menonjol sebagai leaders, tapi juga menonjol sebagai managers.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW sebagai panutan semua umat Islam, khususnya warga Nahdliyin, bagaimana menjadikan diri sebagai the best leaders dan the best manager seperti yang ditampilkan Rasulullah SAW.

Konsisten Mengusung Moderasi Umat

Keenam, NU di masa depan, menurut pandangan Prof. Nasaruddin, tetap konsisten untuk mengusung moderasi umat sesuai dengan doktrin dalam Surat Ali ‘Imran ayat 19, “Innaddina indallahil islam” yang artinya “Sesungguhnya agama (yang diridhai/diterima) di sisi Allah hanyalah Islam.”

Yang dalam kajian santri penuh dengan analisis, mengapa Tuhan tidak mengatakan, “innaddina indallah assalam”, masdar sudasi? Dan mengapa juga Tuhan tidak menggunakan istilah, “innaddina indallah alistislam”, masdar tsulasi? Itu tentu ada konsekuensinya.

Kenapa Al-Qur’an memilih “innaddina indallahil islam”,  dengan masdar tsulasi mazid? Itu sesungguhnya adalah menunjukkan pertengahan antara tsulasi dengan sudasi. Apa artinya? Kalau “innaddina indallah assalam”, ada kemungkinan kita nanti akan menggampangkan menyamakan sesuatu yang sesungguhnya berbeda.

Kenapa bukan “innadinaallah alistislam”? Karena membuka peluang untuk memaksa kita membedakan sesuatu yang sesungguhnya sama. NU tidak akan pernah menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak akan pernah membedakan sesuatu yang sama. Itulah moderasi yang dipegang oleh NU.

Biarkanlah yang sama itu sama dan biarkan yang berbeda itu berbeda. “Lakum dinukum waliyadin” yang berarti “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”. Dan inilah prinsip Nahdlatul Ulama. Kalau ada orang yang suka menyama-nyamakan sesuatu yang sesungguhnya berbeda, maka itu lebih mirip kepada liberal. Tapi kalau ada sesuatu yang ingin memaksakan sesuatu yang berbeda pada sesungguhnya sama, maka itu lebih dekat kepada radikal. NU membiarkan yang berbeda itu beda dan membiarkan yang sama itu sama. Tapi kita hidup rukun damai dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pungkas kata, penulis mengucapkan selamat Harlah 100 Tahun Masehi NU. Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan untuk “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.” Amin ya rabbal alamin. []

Tags: 1 Abad NUHarlah 100 TahunIndonesiaNahdlatul Ulamasejarah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Rochmad Widodo

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo adalah Asisten Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits, Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama-Pemimpin Berakhlakul Qur’ani Berwawasan Kebangsaan di Kota Bekasi.

Related Posts

Keberpihakan Gus Dur
Publik

Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

31 Januari 2026
Perempuan ke Masjid
Pernak-pernik

Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

31 Januari 2026
Hannah Arendt
Publik

Membaca Ulang Tragedi Holocaust dengan Kacamata Kritis Hannah Arendt (Part 1)

31 Januari 2026
Novel Katri
Buku

Novel Katri: Bertahan dalam Luka dari Penjara ke Penjara

30 Januari 2026
Spiritual Ekologi
Hikmah

Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

27 Januari 2026
Kerusakan Lingkungan
Pernak-pernik

Kerusakan Lingkungan di Indonesia

25 Januari 2026
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Menikah Makin Langka, Mengapa Pernikahan di Indonesia Menurun?

    15 shares
    Share 6 Tweet 4

TERBARU

  • Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU
  • MBG bagi Difabel: Pentingkah?
  • Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini
  • Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur
  • Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0